Peningkatan Pendapatan Masyarakat

Peningkatan Pendapatan Masyarakat

Peningkatan Pendapatan Masyarakat

DEPOK -- Keberadaan Program CEPAT-LKNU di tingkat desa adalah dalam rangka mengendalikan TB hingga akar rumput. Kegiatan yang dilakukan CEPAT-LKNU diharapkan berdampak pada keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, perlu ada upaya pendekatan program penanggulangan TB dengan wadah yang sudah ada dalam masyarakat, yaitu Desa Siaga Aktif.

Desa Siaga Aktif merupakan program pemberdayaan masyarakat pemerintah yang sudah berjalan di masyarakat. Salah satu kegiatannya adalah mengupayakan agar masyarakat dapat mandiri dalam upaya pemenuhan kebutuhan kesehatannya. Sinergisitas program penanggulangan TB dengan Desa Siaga Aktif dapat menjadi model baru upaya mobilisasi masyarakat peduli TB. Kader TB CEPAT LKNU yang sudah ada dapat memperkuat tim Desa Siaga Aktif di tingkat kelurahan. Dengan harapan, upaya penanggulangan TB dapat dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat mulai dari tingkat kelurahan, RW, RT dan anggota masyarakat secara mandiri bukan hanya oleh tim CEPAT LKNU.

Bentuk kegiatan CEPAT-LKNU terhadap Desa Siaga Aktif adalah dengan memberikan dukungan “Dana Pancingan” agar dikelola untuk upaya pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan TB. Pentingnya dana pancingan antara lain: 1). Membantu biaya operasional kader dalam mencari suspek, pendampingan dan kegiatan sosialisasi di masyarakat. 2). Dana pancingan hanya bersifat pendorong/ pemancing. Bukan satu-satunya solusi masalah. 3). Tetap diperlukan kebersamaan masyarakat dalam menggalang dana, untuk membantu warga lain yang tidak mampu.

Alokasi Dana Pancingan yang diberikan setiap desa adalah sebesar Rp. 2.000.000 untuk biaya operasional kader TB dalam penemuan dan pendampingan kasus TB serta sosialisasi dan Rp. 500.000 digunakan untuk dana bergulir yang bisa dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.

Depok, merupakan salah satu Kota wilayah cakupan Program CEPAT-LKNU yang juga mendapatkan dana Pancingan yang salah satunya RW Siaga yang berada di RW 8 Kelurahan Bedhahan, Kecamatan Sawangan. RW Siaga ini berdiri dan disahkan sejak Oktober 2007 oleh Kelurahan Bedahan.

Pada akhir bulan September 2015 telah dilaksanakan penyerahan dana Pancingan sebesar Rp. 2.500.000 dari CEPAT-LKNU kepada ketua RW tersebut. “Uang ini akan kami kelola sebaik mungkin untuk membantu pemberantasan penyakit TB di lingkungan RW kami dan sebagian untuk ekonomi kreatif di wilayah kami.” Tutur Pak Barzah, ketua RW.8 saat menerima dana tersebut.

RW Siaga tersebut memiliki perkumpulan Kelompok Wanita Tani (KWT) MELATI MANDIRI yang beronggatakan ibu-ibu warga RW.8 berjumlah 30 orang. Ibu Nanah Oyanah sebagai ketua KWT MELATI MANDIRI menyampaikan bahwa Depok merupakan kota yang memiliki ikon Belimbing dan juga Jambu Biji, banyak sekali jambu biji hasil kebun masyarakat Bedahan tapi kurang diminati masyarakat, sehingga perlu ada innovasi produk makanan dari jambu biji.

Dana bergulir dikelola oleh KWT MELATI MANDIRI untuk produksi makanan dari jambu biji, seperti jus jambu, selai jambu dan dodol jambu. Kegiatan ini telah berjalan sebelum adanya dana pancingan, tapi dengan adanya dana pancingan sangat membantu modal usaha. “Saya sangat berterima kasih kepada NU karena sudah membantu, meski sedikit tapi ini sangat membantu usaha kami yaitu pembutaan selai jambu,jus jambu dan dodol jambu. Saya sebagai ketua KWT MELATI MANDIRI berharap juga ada banyak kelompok- kelompok yang lain supaya bergerak menjadi masyarakat yang mandiri.” ujar Nanah Oyanah.

Pemasaran produk jambu biji tersebut masih di lingkungan sekitar dan masih bersifat “gedok tular” atau menyampaikan informasi dari mulut ke mulut. Nanah yang merupakan kader Kesehatan melakukan pemasaran dari pintu ke pintu sekaligus pelaksanaan sosialisasi keseha- tan. Hal ini sangat efektif dan bisa menjadi contoh yang baik.

“Saya sangat berterima kasih kepada NU karena sudah membantu, meski sedikit tapi ini sangat membantu usaha kami yaitu pembutaan selai jambu, jus jambu dan dodol jambu. Saya sebagai ketua KWT MELATI MANDIRI berharap juga ada banyak kelompok- kelompok yang lain supaya bergerak menjadi masyarakat yang mandiri.”

~ Nanah Oyanah.

Pengelolaan dana bergulir tak hanya secara kelompok tapi juga dipinjamkan ke perorangan. Ada 2 orang anggota KWT yang memperoleh pinjaman dari dana bergulir tersebut sebagai modal usaha kecil. Dana tersebut digunakan untuk membuka warung kelontong dan juga berjualan kerudung biasa. Pengembalian dana maksimal 2 bulan dan peminjam memberikan kas kepada KWT sebesar 5% dari jumlah uang yang dipinjamkan.

Laba dari usaha kelompok maupun perorangan dari dana bergulir tersebut akan dikelola untuk mengembangkan usaha “Produk Jambu Biji” supaya usahanya lebih besar. Selain itu hasilnya diberikan ke kas KWT yang bisa diberikan kepada anggota masyarakat yang membutuhkan dukungan. (Zamroni/ Elina/ Depok)

Post Terbaru