Tips Menjaga Kesehatan saat Balik dari Kampung Halaman

Tips Menjaga Kesehatan saat Balik dari Kampung Halaman

Pemerintah menganggap pelaksanaan mudik pada lebaran 2019 lebih baik ketimbang tahun lalu.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersyukur banyak pemudik yang mengatakan kepadanya, arus mudik Lebaran tahun ini berjalan lancar. Jalan tol Jakarta-Surabaya telah memberikan kontribusi besar dalam penyelenggaraan mudik tahun ini lebih baik Namun, dia juga mengakui penanganan arus balik tahun ini belum maksimal.

Kemacetan panjang pada arus balik membuat masyarakat kesulitan ketika hendak ingin kembali ke Jakarta, saat bersamaan kembali atau memulai bekerja saat diwaktu yang sama di tanggal 10 Juni 2019, Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan persoalan kali ini terjadi bukan hanya berada pada operator transportasi, tapi utamanya adalah manajemen waktu cuti bersama. Djoko berharap pemerintah menyediakan waktu yang sama untuk mudik dan balik, seperti pada Lebaran tahun lalu. Pada tahun ini, alokasi waktu untuk balik ternyata mepet dengan berakhirnya cuti bersama. Sebagai perbandingan, cuti bersama tahun 2018 mencapai 7 hari yaitu 11 hingga 14 Juni untuk arus mudik serta 18 hingga 20 Juni digunakan arus balik. Adapun libur bersama yang diteken Presiden Joko Widodo tahun ini hanya 3 hari yakni 3 dan 4 Juni untuk arus mudik dan 7 Juni hanya untuk arus balik. “Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi (PAN-RB) seharusnya masuk tim Lebaran. Itu harus diwacanakan,” kata dia kepada katadata.co.id, beberapa hari lalu.

Saat puncak arus balik terjadi pada 9 Juni lalu, terjadi kemacetan parah kendaraan pemudik yang balik di Tol Cipali. Kemacetan akibat antrean kendaraan di gerbang tol Cikampek Utama menjalar hingga 19 kilometer. Bahkan, kemacetan terus terjadi sampai waktu cuti bersama dan libur lebaran usai. Penumpukan kendaraan di gerbang tol menjadi pemandangan yang kembali terlihat dan belum sepenuhnya terselesaikan. Hal ini mengakibatkan macet hingga 15 jam bagi penumpang yang berasal dari Jawa Tengah bagian Barat seperti Purwokerto dan Banyumas dengan waktu 15 jam perjalanan dan rest area terbatas karena ada buka tutup salah satu akibat kemacetan dikutip dari futuready.com, Faktor utama penyebab kecelakaan adalah kesalahan manusia (human error). Hal ini disebabkan banyaknya pengemudi yang tetap memaksakan diri berkendara menempuh perjalanan jarak jauh padahal kondisi tubuh dalam keadaan kurang fit akibat kelelahan.

Saat menempuh perjalanan yang sangat jauh, tubuh dituntut untuk tetap fokus. Perjalanan yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam atau beberpa hari bisa membuat tubuh kurang istriharat.

Perjalanan yang harus ditempuh dan kegiatan yang padat saat liburan tentunya membuat tubuh merasa lelah, meski pikiran sudah kembali fresh.

Berikut beberapa tips untuk menghilangkan lelah setelah menempuh perjalanan jauh, seperti dilansir Medindia, Selasa (1/2/2011), yaitu:

1. Istirahat cukup
Perjalanan jauh biasanya membuat orang kurang tidur sehingga cepat lelah. Setelah sampai di rumah, usahakan istirahat dengan cukup dengan tidur malam 6-8 jam per malam. Hal ini bisa memperbaharui energi untuk tubuh keesokan harinya.

2. Mandi di pagi hari
Mandi di pagi hari bisa membuat Anda kembali segar setelah menempuh perjalanan jauh.

3. Minum cukup air
Kurang minum atau dehidrasi bisa membuat Anda merasa lelah karena mempengaruhi 2 persen fungsi mental. Minumlah cukup air untuk menjaga sistem hidrasi tubuh, air dingin bisa menghidrasi tubuh lebih cepat.

4. Pijat
Mendapatkan pemijatan yang tepat dan dilakukan oleh orang yang memang benar-benar tahu cara memijat akan memberikan banyak manfaat, terutama untuk relaksasi santai dan menghilangkan stres. Pijat secara signifikan dapat mempengaruhi sistem saraf perifer, meningkatkan rangsangan dan konduksi impuls saraf, melemahkan dan menghentikan rasa sakit dengan mempercepat proses regenerasi (pemulihan) saraf yang cedera, serta mencegah gangguan pembuluh darah dalam hal komunikasi dan suplai.

5. Menggunakan aromaterapi
Minyak aromaterapi seperti minyak peppermint dapat menyegarkan dan meningkatkan energi kembali. Minyak aromaterapi bisa dioleskan pada tubuh dan juga bisa dihirup.

Berikut cara Rasulullah menjaga kesehatan dilansir dari islampos.com. Ada beberapa kebiasaan positif yang membuat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam selalu tampil fit, sehat dan jarang sakit, antara lain:

Pertama, selektif terhadap makanan. Tidak ada makanan yang masuk ke mulut rasulullah, kecuali makanan yang halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan urusan akhirat, yaitu halal cara mendapatkannya dan halal barangnya. Sedangkan thayyib berkaitan dengan urusan duniawi, seperti baik tidaknya atau bergizi tidaknya makanan yang dikonsumsi. Salah satu makanan kegemaran Rasul adalah madu. Beliau biasa meminum madu yang dicampur air untuk membersihan saluran pencernaan. Rasul bersabda,” Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan Alquran”(HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Kedua, tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas). Hal ini sebagaimana sabda rasulullah,”Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Ketiga, makan dengan tenang, tumaninah, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang. Cara makan seperti ini akan menghindarkan seseorang dari tersedak ataupun tergigit. Makanan bisa dikunyah dengan lebih baik, sehingga kerja organ pencernaan lebih ringan. Dari segi medis, makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna. Dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.

Keempat, tidak meniup makanan/minuman panas. Dalam Hadits, Ibnu Abbas meriwayatkan “Bahwasanya Rasulullah SAW melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani). Secara teori ilmiah, hadits Rasulullah tersebut dapat dijelaskan bahwa apabila kita menghembuskan nafas pada minuman, kita akan mengeluarkan karbon dioksida (CO2), yang apabila bercampur dengan air (H2O), akan menjadi H2CO3, yaitu sama dengan cuka, sehingga menyebabkan minuman itu menjadi acidic (bersifat asam). Bila kebiasaan ini berlangsung dalam waktu lama akan dapat merusak kinerja ginjal serta dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

Kelima, Tidak makan/minum sambil berdiri. Dari Anas bin Malik ra dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam bahwasanya beliau melarang seseorang untuk minum dengan berdiri. Qatadah bertanya kepada Anas, “Bagaimana kalau makan ?” Anas menjawab, “Kalau makan dengan berdiri itu lebih jelek dan lebih buruk.” (HR Muslim). Jika kita minum sambil berdiri, air yang kita minum akan meluncur langsung menuju kandung kemih tanpa disaring terlebih dahulu oleh sistem dalam tubuh. Akibatnya akan terjadi pengendapan disaluran ureter. Endapan ini bila semakin dapat menyebabkan penyakit kristal ginjal atau batu ginjal.

Keenam, cepat tidur dan cepat bangun. Rasulullah biasa tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kedua. Kemudian beliau bersiwak, lalu berwudhu dan shalat sampai waktu yang diizinkan Allah. Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidur sekadar yang dibutuhkan. Cara tidurnya pun penuh makna. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam buku Metode Pengobatan Nabi mengungkapkan bahwa Rasul tidur dengan memiringkan tubuh ke arah kanan, sambil berzikir kepada Allah hingga matanya terasa berat. Terkadang beliau memiringkan badannya ke sebelah kiri sebentar, untuk kemudian kembali ke sebelah kanan. Tidur seperti ini merupakan tidur paling efisien. Pada saat itu makanan bisa berada dalam posisi yang pas dengan lambung sehingga dapat mengendap secara proporsional. Lalu beralih ke sebelah kiri sebentar agar proses pencernaan makanan lebih cepat karena lambung mengarah ke liver, baru kemudian berbalik lagi ke sebelah kanan hingga akhir tidur agar makanan lebih cepat tersuplai dari lambung.

Ketujuh, istiqomah melakukan puasa sunnah, di luar puasa Ramadhan. Ada beberapa puasa sunnah yang beliau anjurkan, seperti Senin Kamis, puasa Daud, puasa enam hari di bulan Syawal, dsb. puasa adalah perisai terhadap berbagai macam penyakit jasmani maupun rohani. Puasa sangat ampuh untuk detoksifikasi atau pembersihan racun dalam tubuh.

KH Miftah Faqih, Ada tiga kaidah pengobatan penyakit dalam Islam ; 1. Hifdhu al-shihhah (Menjaga kesehatan), 2. Al-himyatu ani al-mu’dzii (Melindungi diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit), 3. Istifraghu al-mawadi al-faasidah (Mengeluarkan unsur-unsur yang merusak badan).(TSA/Red).