LKNU sebut Kota dan Kabupaten Cirebon Wilayah Endemik Tuberkulosis

LKNU sebut Kota dan Kabupaten Cirebon Wilayah Endemik Tuberkulosis

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON

Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Cirebon menilai Kota dan Kabupaten Cirebon merupakan wilayah endemik TBC.

Pasalnya, temuan kasus TBC di dua daerah itu tergolong cukup banyak.

"Luas wilayahnya segitu sedangkan jumlah kasusnya mencapai ribuan itu termasuk wilayah endemik TBC," kata Wahyono An Najih saat ditemui usai Peringatan Hari TBC 2019 di Goa Sunyaragi, Jl Brigjend Dharsono, Kota Cirebon, Jumat (12/4/2019).

Ia mengatakan, berdasarkan data Dinkes Kota Cirebon temuan kasus TBC selama 2018 mencapai 1352 kasus.

Sementara data Dinkes Kabupaten menyebutkan temuan kasusnya mencapai 7000-an.

Selain itu, kasus TBC juga dinilai menjamur karena penyebarannya merata di tiap kecamatan di Kota dan Kabupaten Cirebon.

Karenanya, pihaknya berharap seluruh elemen masyarakat Cirebon aktif dan sadar TBC sedari dini.

"Gejala TBC yang paling mudah itu jika batuk disertai dahak selama lebih dari dua minggu, segera periksa ke dokter," ujar Wahyono An Najih.

Menurut dia, LKNU mempunyai 176 kader TBC di Kota dan Kabupaten Cirebon yang selalu melakukan asesmen di lapangan.

Mereka akan mendatangi pasien TBC dan orang-orang sekitarnya untuk mencegah penularan TBC.

"Para kader itupun selalu bersinergi dengan jajaran Dinkes dan Puskesmas di tiap kecamatan," kata Wahyono An Najih.

Post Terbaru

Diabetes dapat Disembuhkan dengan Cara Berikut

Diabetes dapat Disembuhkan dengan Cara Berikut

Sidoarjo, NU Online

Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, Jawa Timur menggelar seminar awam bertajuk ‘Sehat dan Bugar bagi Penderita Diabetes’. Kegiatan berlangsung di ruang Darun Na'im lantai tiga rumah sakit setempat, Sabtu (26/10).   Direktur RSI Siti Hajar Sidoarjo, dokter H Sulistio mengatakan bahwa seminar awam ini bertujuan untuk mengedukasi pasien maupun keluarga pasien agar menjaga kesehatnnya dengan baik.   "Penyuluhan ini sifatnya untuk mengedukasi atau membimbing bapak maupun ibu dengan topik berbeda. Misal, saat ini tentang diabet. Topik lain di antaranya tentang tekanan darah tinggi, penyakit tulang otot dan masih banyak lagi kegiatan seminar lainnya," kata dokter Sulis, sapaan akrabnya.   Menurutnya, angka penyakit diabet dari tahun ke tahun terus bertambah. Di Puskesmas, di klinik perawatan, maupun di RSI Siti Hajar sendiri, penderita penyakit diabet mulai banyak dilakukan penanganan.   Beberapa bulan terakhir, pasien yang dirawat di rumah sakit dengan fasilitas BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) ini bila kondisinya sudah stabil akan dirujuk kembali ke klinik perawatan awal. Karena memang aturannya seperti itu.    “Bagi yang belum stabil akan dirawat, tapi yang sudah bagus dikembalikan ke dokter FKTP atau fasilitas kesehatan tingkat pertama," ujarnya.   Ia menegaskan, pasien yang menderita penyakit diabetes jangan menyerah. Akan tetapi harus semangat melakukan aktivitas sehari-hari, agar hidupnya lebih bagus. Bahkan dirinya menyarankan, pasien diabetes agar mengatur pola hidup dengan baik. Sehingga kondisi kadar gula akan membaik pula.   Pihaknya berharap, dengan adanya penyuluhan ini bisa menjadi nilai tambah, agar pasien maupun keluarga pasien dapat menjaga kesehatan, mengubah pola hidup agar semakin segar dan bugar serta tidak ada penyakit jangka panjang.   "Setelah dari sini, ilmunya bisa ditransfer kepada keluarga agar menjaga kesehatan dengan baik," pesannya. Lebih lanjut ia menjelaskan, beberapa faktor risiko menjadi diabet yaitu faktor genetik, kegemukan, indek masa tubuh, pola makan, gaya hidup dan lain sebagainya.   Jika laki-laki lingkar perutnya 90 cm atau lebih, itu dikhawatirkan menderita diabet. Jika hal itu terjadi, maka segera olahraga dan lemaknya dibuang. Sementara perempuan lingkar perutnya 80 cm.    “Cara lain yang bisa dilakukan yaitu membatasi minum teh pagi hari, minum sirup, makanan manis dan sebagainya. Olahraga ringan jalan kaki supaya dilakukan agar tidak gampang sakit," tegasnya.   Pada seminar ini hadir dua narasumber yang ahli dan profesional di bidang diabetes, yakni dokter Atik Yuniani dan dokter Dewi Retno Ningsih.   Dokter Atik Yuniani memaparkan, waktu makan bagi penderita diabetes lebih baik dengan porsi kecil, namun dibagi dalam beberapa waktu makan. Hal tersebut agar gula darah stabil.   Menururnya, setiap orang punya pola makan sendiri-sendiri. Karenanya harus diesuaikan dengan pola makan yang sudah ada.    “Lakukan olahraga yang teratur 3 hingga 4 kali dalam sepekan,” ungkapnya. Artinya hal itu dilakukan rutin sebisa mungkin. Mau setiap hari juga boleh, dengan disesuaikan kondisi masing-masing orang. Kalau yang mau senam boleh, jalan kaki juga boleh. Hindarilah tidur setelah makan juga kebiasaan malas bergerak, lanjutnya.   Beberapa gejala diabetes, di antaranya pandangan mata kabur, gatal-gatal terutama di bagian dalam, cepat lelah atau mengantuk, luka sulit sembuh, sering kencing, mudah lapar dan haus, serta kesemutan.

Post Terbaru

LKNU Pekalongan Menggelar Pengobatan Gratis, Walikota Meminta Kegiatan ini Rutin Dua Minggu Sekali

LKNU Pekalongan Menggelar Pengobatan Gratis, Walikota Meminta Kegiatan ini Rutin Dua Minggu Sekali

Pengobatan Gratis Oleh LKNU Pekalongan.

Pekalongan, NU Online

Wali Kota Pekalongan, Jawa Tengah HM Saelany Mahfudz meminta kepada Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU), Rabithah Alawiyah, dan Dinas Kesehatan Kota Pekalongan lebih sering melakukan kegiatan pengobatan gratis minimal dua minggu sekali. "Saya meminta ketiga pihak ini yakni LKNU, Rabithah Alawiyah, dan Dinas Kesehatan lebih banyak terjun ke masyarakat untuk menggelar kegiatan pengobatan. Minimal dua pekan sekali. Mengingat program ini sangat bermanfaat dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," ujarnya. Hal itu disampaikan Wali Kota Pekalongan pada acara pengobatan gratis yang digelar LKNU, Rabithah Alawiyah, dan Dinkes Kota Pekalongan di Kelurahan Padukuhan Kraton, Kecamatan Pekalongan Utara, Ahad (27/10). Dikatakan, kegiatan pengobatan gratis sebagi bentuk dakwah bil hal yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dan inilah pola yang seharusnya dibangun oleh NU dan Rabithah Alawiyah. “Dakwah tidak sekedar menyampaikan dengan lisan semata. Akan tetapi, bisa dilakukan dengan tindakan nyata seperti kegiatan pengobatan gratis ini dan pemerintah siap memfasilitasi, baik obat-obatan maupun tenaga medisnya,” ungkapnya. Disampaikan, meski sudah ada Puskesmas yang dekat dengan warga. Masyarakat nampaknya masih cukup antusias memanfaatkan program pengobatan gratis untuk berobat. "Ini harus dimanfaatkan pegiat kesehatan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya di kawasan rob di Pekalongan Utara. Apalagi di sini ada bekam dan ruqyah aswaja yang tidak dijumpai di Puskesmas," tegasnya. Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan, H Ahad Tubagus Surur mengatakan, kegiatan NU Peduli Kesehatan melalui LKNU diharapkan dapat membantu masyarakat kelas bawah. "Program ini sudah dilakukan beberapa kali bekerjasama dengan Rabithah dan Pemerintah Kota Pekalongan dan Alhamdulillah responsnya cukup baik," paparnya. Panitia kegiatan pengobatan gratis Agus Rofiqi kepada NU Online, Senin (28/10) mengatakan, kegiatan pengobatan yang berakhir pukul 12.30 WIB diikuti oleh 135 peserta dengan beragam pengobatan medis dan non medis. “Alhamdulillah, tim pengobatan gabungan dari LKNU, Rabithah Alawiyah, dan Dinkes Kota Pekalongan berhasil melayani peserta dengan jenis pengobatan medis. Sedangkan yang non medis berupa ruqyah aswaja dan bekam,” paparnya. Usai membuka kegiatan pengobatan gratis, Wali Kota beserta rombongan mengunjungi dan menyapa peserta yang sedang memeriksakan penyakitnya, serta menyapa dokter, dan para medis. Di tengah kunjungannya, Wali Kota juga menyempatkan permintaan dokter, panitia, dan peserta untuk foto bersama sebelum meninggalkan lokasi pengobatan.

Post Terbaru

Ini Harapan Ketua Umum Arsinu kepada Menteri Kesehatan RI

Ini Harapan Ketua Umum Arsinu kepada Menteri Kesehatan RI

Ketua ARSINU

Jombang, NU Online

Beberapa hari lalu Presiden RI melalui hak prerogatifnya telah memilih, menetapkan dan mengambil sumpah sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju. Salah satu yang dikukuhkan adalah Menteri Kesehatan RI yang dipercayakan kepada Letjen (Pur) dr Terawan Agus Putranto.    Menanggapi hal tersebut, HM Zulfikar As’ad selaku Ketua Umum Arsinu atau Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama menaruh harapan besar terhadap kian membaiknya perhatian terkait kesehatan masyarakat.   “Sebelumnya kami mengucapkan selamat atas terpilihnya dokter Terawan Agus Putranto sebagai Menteri Kesehatan RI di Kabinet Indonesia Maju periode 2019 hingga 2024,” katanya kepada NU Online di kediamannya di Jombang, Jawa Timur, Jumat (25/10).   Gus Ufik, sapaan akrabnya mengemukakan bahwa secara pribadi telah mengenal sosok sang menteri. Hal tersebut lantaran dulu pernah satu almamater saat menempuh pendidikan di Yogyakarta.   “Kebetulan dokter Terawan Agus Putranto adalah adik kelas satu tingkat saat menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta,” terang pria yang juga diamanahi sebagai Wakil Ketua Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.    “Yang saya tahu, bapak menteri memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki figur lain.  Melalui media ini saya mengajak agar kita senantiasa berprasangka baik sekaligus berharap agar program yang disentuh tidakkah hal-hal klinis semata,” harapnya.    Hal yang harus menjadi perhatian adalah program atau kebijakan upaya promotif dan prefentif termasuk juga stunting. “Sehingga Indonesia bukan menjadi bangsa yang suka berobat, tetapi menjadi bangsa yang menjadikan sehat sebagai gaya hidup atau life style,” ungkapnya.   Dalam pandangan salah seorang Wakil Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang ini, kesehatan sebetulnya sangat diperhatikan para ulama pendiri NU. Hal ini dapat dilihat dari Anggaran Dasar saat jamiyah ini didirikan tahun 1926.   “Karena di sana sudah menyebutkan akan pentingnya kesehatan di samping pendidikan dan masalah sosial keagamaan untuk diperhatikan,” jelasnya. Oleh sebab itu, dirinya berharap agar masalah kesehatan betul-betul dapat menjadi perhatian yang lebih, dibandingkan dengan periode lalu, lanjutnya.    Hal mendesak yang juga harus dilakukan antara lain menggerakkan dan mengaktifkan program Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu dan memfungsikan kembali Pusat Kesehatan Masyarakat yakni Puskesmas sebagai penanggung jawab program. Lantaran belakangan ini telah terjadi salah kaprah dimana Puskesmas menjadi rumah sakit kecil yang juga melaksanakan upaya kuratif.    “Tidaklah salah kalau hal itu diperuntukkan untuk daerah terpencil yang belum ada fasilitas rumah sakit yang memadai. Tetapi di kota-kota besar sebaiknya fungsi promotif dan prefentif diutamakan,” terangnya. Dengan itu maka diharapkan masyarakat memiliki paradigma sehat yang dapat mempengaruhi anggaran sebagaimana saat ini menjadi sangat berat, lanjutnya.    Hal lain tentunya, harus juga diperhatikan tentang rumah sakit berkaitan kualitas pelayanan dan hubungan dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan atau BPJS.    “Kementerian kesehatan harus hadir pada setiap kebijakan yang dikeluarkan BPJS dengan duduk bersama sebelum kebijakan diberlakukan. Baik untuk rumah sakit milik pemerintah atau daerah maupun swasta,” tandasnya. Repost (NU Online).

Post Terbaru

Mengantisipasi Gangguan Kesehatan Akibat Kabut Asap, LKPBNU Distribusikan Masker N95 Di Provinsi Riau dan Kepri

Mengantisipasi Gangguan Kesehatan Akibat Kabut Asap, LKPBNU Distribusikan Masker N95 Di Provinsi Riau dan Kepri

Foto by Wahyu TIM LKNU INHIL

Jakarta - Prihatin dengan kabut asap yang terjadi beberapa waktu lalu di Riau dan Kepulauan Riau (Kepri), Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKPBNU) mendistribusikan masker N95 melalui tim IU (Implementing Unit) LKNU Riau dan Kepri. Sekitar 1500 masker dibagikan kepada kader di Kota Pekanbaru, Dumai, Bengkalis, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, Tanjung Pinang, Batam dan Karimun.

“Tim dan kader pegiat TBC tidak bisa melakukan aktivitas penemuan kasus untuk sementara waktu dikarenakan efek dari kabut asap dari kebakaran hutan. LKNU berharap dengan adanya bantuan masker, dapat meminimalisir gangguan pernapasan,” ungkap Elina dari tim pusat LKNU.

Akibat dari kabut asap, beberapa gangguan pernapasan  yang dapat terjadi antara lain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, paru-paru dan penyakit pernapasan lainnya. Berdasarkan data yang dimuat melalui situs National Geographic Indonesia di bulan September 2019, jumlah warga yang terserang ISPA di Riau sebanyak 275.793 orang. Mayoritas korban penderita ISPA adalah anak-anak yang rentan terhadap suatu penyakit. (TSA/Red)

Pembagian Masker by Wahyu

Post Terbaru

LKNU Rembang Turut Berkontribusi Memberikan Bantuan Air untuk Warga Terdampak Kekeringan

LKNU Rembang Turut Berkontribusi Memberikan Bantuan Air untuk Warga Terdampak Kekeringan

LKNU Rembang Memberikan Bantuan Air Bersih

Rembang, nurfmrembang.com

Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Rembang memberikan bantuan air bersih kepada warga di Kabupaten Rembang yang terdampak musibah kekeringan. Penyaluran bantuan air bersih perdana dilakukan di Desa Pedak Kecamatan Sulang, Rembang pada Sabtu (21/9/19).

Ketua LKNU Rembang, Agus Setiyohadi mengatakan, kegiatan penyaluran bantuan air bersih semacam itu telah menjadi salah satu agenda program kegiatan sosial tahunan LKNU Rembang. Kali ini bekerja sama dengan pihak Bank Pasar Rembang.

“Jadi LKNU bekerja sama dengan Bank Pasar, mengadakan bakti sosial droping air bersih. Ini merupakan salah satu agenda kegiatan LKNU yakni melakukan dropping air bersih,” kata Agus.

Ada sebanyak 25 titik yang nantinya mendapatkan bantuan dropping air bersih dari LKNU. Terbagi di 5 kecamatan, diantaranya Kecamatan Sulang, Bulu, Sumber, Rembang kota dan Kaliori. Masing-masing kecamatan terdapat 5 Desa terdampak kekeringan yang menjadi sasaran dropping.

“Kita menyiapkan 50 tangki untuk 25 titik penyaluran. Pembagiannya, kita sudah petakan ada 5 wilayah MWC NU, yakni Kecamatan Sulang, Bulu, Sumber, Kaliori, dan Rembang kota. Masing-masing MWC ada 5 Desa yang menerima. Sehingga per titik ada alokasi 2 tangki,” jelasnya.

Ma’ruf, warga Desa Pedak, mengaku bersyukur mendapatkan bantuan air bersih dari LKNU Rembang. Ia bercerita, kondisi kekeringan telah melanda wilayah Desa Pedak sejak bulan Agustus kemarin.

“Sudah sejak awal Agustus kemarin mulai kekeringan, apa-apa ya susah. Biasanya kami ambil air harus di tengah sawah yang ada kalinya disana, sekitar 2 kilometer. Sangat bersyukur sekali bisa dapat bantuan ini. Harapannya ya bisa terus secara berkelanjutan,” akunya. (DM38)

 

Post Terbaru

Pola dan Cara Makan Rasulullah

Pola dan Cara Makan Rasulullah

Bagian Pertama

Pola dan Cara Makan Rasulullah
Makanan dan minuman merupakan kebutuhan dasar dan pasti diperlukan dalam situasi dan kondisi apa pun. Bahkan, keduanya merupakan rahasia kehidupan dan salah satu nikmat besar yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya. Dalam banyak ayat, Allah telah menjelaskan bahwa makanan merupakan nikmat dan anugerah besar yang diberikan kepada kita.
Di antaranya adalah ayat yang menyatakan, “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-mayur, yaitu dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu,” (QS Abasa [80]: 24-32).
Untuk memenuhi kebutuhan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan sejumlah pedoman atau acuan perihal makanan, termasuk bagaimana cara makannya yang selayaknya kita pedomani. Sebab sudah barang tentu setiap informasi yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyimpan banyak hikmah dan rahasia. Cukup banyak hadits yang berbicara tentang pedoman ini. Namun, dalam tulisan ini hanya akan disajikan sebagiannya saja, sedangkan sisanya akan disampaikan pada kesempatan berikutnya. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa perut bukanlah wadah yang siap diisi apa saja sesuai keinginan kita. Sekalipun ia diisi, tidak boleh berlebihan sehingga melebihi batas kemampuannya, sebagaimana dalam hadits, “Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang dia harus lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk napas,” (HR Ahmad).
Dengan demikian, yang terpenting perut kita terisi makanan halal yang dapat menjaga kelangsungan hidup. Sebab, bila tidak, kita sendiri yang rugi. Di kala perut kita kekenyangan, misalnya, kita menjadi mengantuk, malas beraktivitas, termasuk malas beribadah, sehingga kemudian kita menjadi kurang poduktif dan dalam jangka panjang berat badan kita menjadi berlebih (obesitas), lebih prihatin lagi di akhirat kekurangan amal.
Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan agar kita tidak rakus dan tidak memasukkan berbagai jenis makanan ke dalam perut. Hal ini sejalan dengan kebiasaan Nabi yang menyebutkan bahwa beliau tidak pernah makan banyak, tidak pernah makan sampai kenyang, atau tidak memperbanyak ragam makanan. Bahkan, saat istrinya tidak masak makanan beberapa hari, beliau cukup berpuasa dan menyantap roti saja.
Hal ini juga ditunjang oleh temuan-temuan dalam dunia pangan dan ilmu gizi bahwa ada beberapa makanan yang tidak boleh dikonsumsi secara bersamaan karena memiliki zat kimia yang justru akan menimbulkan efek negatif dan membahayakan bagi tubuh. Buah-buahan misalnya, sebaiknya tidak dikonsumsi dengan susu. Sebab, umumnya buah-buahan bersifat asam (memiliki PH rendah) sehingga bila bercampur dengan makanan lain dapat menyebabkan fermentasi dalam lambung. Demikian pula kedelai tidak boleh dimakan bersamaan bayam, kedelai dengan bawang hijau, susu kedelai dengan telur, susu dengan cokelat, daging dengan semangka, daging dengan cuka, dan sebagainya.
Ketiga, jika kita menghadiri suatu undangan yang di dalamnya disajikan makanan, sebaiknya tidak mengajak orang lain untuk memenuhi sebuah undangan tersebut kecuali atas izin orang yang mengundangnya. Abu Mas’ud meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki Anshar yang akrab disapa Abu Syu’aib datang. Kemudian, dia bilang kepada pelayannya yang bernama Qashab, “Sediakanlah makanan untuk lima orang. Aku ingin mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di antara mereka berlima. Sebab, aku mengetahui rasa lapar di raut wajah mereka.” Abu Syu‘aib pun kemudian mengundang mereka. Namun, ada seorang lelaki yang datang bersama kelima tamu itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda, “Lelaki ini ikut bersama kami. Jika menghendaki, engkau boleh mengizinkannya. Dan jika menghendaki, engkau boleh menyuruhnya pulang,” (HR al-Bukhari). Abu Mas‘ud menambahkan, Abu Syu‘aib pun mengizinkannya.
Keempat, pada saat makan kita dianjurkan untuk berkumpul, mengerumuni makanan, dan tidak berpencar darinya. Wahsyi ibn Harm mengatakan bahwa sejumlah sahabat bertanya, “Wahai Rasul, kami makan tapi tidak merasa kenyang.” Beliau menjawab, “Mungkin kalian berpencar (saat makan)?” Mereka berkata, “Iya.” Beliau kembali berkata, “Maka berkumpullah di sekitar makanan kalian. Sebutlah asma Allah (basmalah). Dengan begitu, Dia akan memberi keberkahan kepada kalian,” (HR Abu Dawud). Beliau juga bersabda, “(Jika berkah) makanan untuk seorang pun jadi cukup untuk berdua. Makanan untuk berdua cukup untuk berempat. Dan makanan untuk berempat cukup untuk delapan orang,” (HR Muslim).
Ketiga, jangan makan makanan orang-orang yang sedang berlomba-lomba menyembelih hewan. Dalam hal ini, Ibnu ‘Abbâs meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan makanan orang-orang Arab yang berlomba menyembelih hewan (HR Abu Dawud).
Maksudnya, mereka berlomba di sini adalah adu banyak menyembelih hewan. Ketika itu ada dua orang laki-laki yang bersaing dalam hal kebaikan dan kedermawanannya. Salah seorang dari mereka menyembelih unta dan lelaki yang lain juga menyembelihnya, sampai salah satu di antara mereka tidak mampu melakukannya. Namun, perbuatan itu hanya sekadar riya dan mencari popularitas. Dengan menyembelih untanya, mereka tidak bermaksud mencari keridaan Allah, sehingga perbuatan itu serupa dengan orang yang menyembelih hewan bukan karena Allah. (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).
Termasuk ke dalam kategori ini adalah daging hewan yang disembelih tidak menyebut asma Allah dan sembelihan orang-orang musyrik, sebagaimana dalam ayat, "Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah," (QS al-Nahl [16]: 115).
Keempat, jika kita memiliki makanan, sangat dianjurkan yang memakan makanan kita adalah orang yang saleh dan bertakwa. Abu Sa’id al-Khudzrî meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang yang beriman, dan janganlah ada yang makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” Sudah barang tentu, makanan yang diberikan kepada mereka akan menolong ketaatan dan ibadah mereka.
Kelima, hendaknya tidak makan di khawân atau tempat tinggi yang dipersiapkan untuk makan, seperti meja makan. Anas ibn Mâlik meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Nabi Allah tidak pernah makan di khawân dan sakrajah. Tidak pula ia makan roti yang dikeringkan,” (HR al-Bukhari).
Sakrajah adalah wadah kecil yang memuat makanan ringan, seperti lalapan atau makanan penambah selera. Namun, hadits ini bukan berarti mengharamkan makan di meja makan atau di tempat tinggi lainnya, melainkan sebatas sunah bahwa makan sebaiknya dilakukan di atas tanah sebagaimana yang biasa dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. 
Keenam, tidak makan sambil terlentang atau makan di tempat yang tersedia makanan yang haram. ‘Umar meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan di tempat yang disajikan minuman keras. Begitu pula beliau melarang seseorang makan sambil menelungkupkan perutnya. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).
Ketujuh, tidak bersandar pada saat makan. Abu Juhaifah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku tidak pernah makan sambil bersandar.” Ibnu ‘Amr juga menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah terlihat makan sambil bersandar,” (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).
Istilah “bersandar” ini tentu mencakup segala bentuk duduk yang dilakukan sambil bersandar atau menyandarkan bagian tubuh tertentu kepada sesuatu yang lain. Cara ini dimakruhkan atau dianggap kurang baik karena memperlihatkan duduknya orang yang sedang lahap dan nafsu makan. Akibatnya seseorang tidak bisa mengontrol daya tampung perutnya sehingga jadi membesar atau membuncit. (Lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353).
Karena itu, posisi duduk yang dianjurkan pada saat makan adalah menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki, atau menegakkan betis dan paha kanan dan menduduki kaki yang kiri. (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, Beirut: Darul Ma‘rifah], 1379 H, jilid 9, hal. 542).
Bersambung ..... 
Dua Tahun Berjalan Program LKNU untuk Diabetes Mellitus Capai Target

Dua Tahun Berjalan Program LKNU untuk Diabetes Mellitus Capai Target

Esty Febriani, Penanggung Jawab Program DM-LKNU

Jakarta, NU Online

Selama dua tahun kebelakang ini Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) melalui program Diabetes Mellitus (DM) secara resmi ditutup di lantai 8, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (3/9). Program yang didukung World Diabetes Foundation (WDF) itu bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang Diabetes Mellitus.

Penanggung Jawab Program LKNU for DM, Esty Febriani menyatakan bahwa lembaganya baru pertama kali mengadakan program terkait penyakit tidak menular. Sebelumnya, LKNU memberikan perhatian kepada penyakit menular, seperti tuberkulosis. “Kali ini kita memasuki kegiatan yang berbeda. Kita fokus pada kegiatan penyakit yang tidak menular dalam hal ini diaebetes,” kata Esty. Menurut perempuan yang juga menjadi dosen di Pascasarjana  Kesehatan Masyarakat STIKES Kuningan, Jawa Barat itu, programnya dilakukan di lima kabupaten/kota, yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Depok, Blitar, dan Jombang.

Lalu, apa saja yang telah dilakukan selama dua tahun itu dan bagaimana hasilnya? Untuk mengetahui jawabannya, Jurnalis NU Online Husni Sahal telah berbincang-bincang dengan perempuan berusia 53 tahun ini.

Selama dua tahun itu, apa saja yang telah dilakukan LKNU?

Jadi LKNU dalam hal ini sebenarnya walaupun kabupatennya banyak tuh, Mas, tapi sebenarnya cakupannya di tingkat kecamatan karena project ini kita lebih ingin membuat model. Jadi mempelajari bagaimana pendekatan terhadap masyarakat untuk diabetes mellitus itu. Jadi yang pertama kita lakukan pelatihannya tokoh-tokohnya itu kita gunakan kader, tokoh agama, juga tokoh masyarakat. Jadi kader-kadernya diawali kita latih dulu untuk tau tentang kader, kerjaan kader, terus bagaimana mereka melakukan screening atau pemeriksaan untuk orang diabetes jadi misalnya berat badannya, lingkar pinggangnya, terus juga tes gula darah menggunakan stik untuk jari, dan juga tekanan darah. Jadi untuk tahu apakah dia hipertensi atau enggak.

Setelah kita latih, kader-kadernya turun dan juga mereka kita bekalin dengan media komunikasi jadi misalnya dengan leaflet untuk mereka melakukan edukasi masyarakat. Jadi dengan screening itu mereka masuk ke pengajian-pengajian juga kegiatan majelis taklim, kegiatan posyandu gitu untuk memeriksa ibu-ibu dan bapak-bapak juga, sehingga dari hasilnya kita kader itu melakukan screening terhadap 25 angota masyarakat.

Dari 25 ribu itu ada sekitar 10 ribu yang dia berisiko untuk hipertensi atau dia juga beresiko untuk diabetes, karena 2 penyakit ini berdekatan ini. Kalau dia diabet dia bisa menjadi hipertensi juga atau sebaliknya. Jadi di 5 kabupaten, 8 kecamatan. Jadi kan kita di Jawa Timur ada dua kabupaten: Kabupaten Jombang sama Blitar. Terus di Depok, di Jakarta Pusat: Senen masuk, Kramat masuk wilayah kerja juga, Kenari masuk. Terus Jakarta Selatan.

Ada lagi yang dilakukan?

Selain itu kita juga melatih tenaga kesehatan. Yang dilatih itu tenaga kesehatan di puskesmas dan juga klinik-klinik NU. Ada sekitar 15 Fasilitas Kesehatan, termasuk klinik NU atau yang berafiliasi. Jadi walaupun dia bukan klinik NU, tapi berafiliasi, kerja sama dengan NU.

Waktu merekrut kader apakah mengalami kesusahan?

Enggak. Terutama untuk daerah Jawa Timur, ya, karena Jawa Timur kita memang pakai kader-kader yang biasa dengan NU, umumnya dari NU: apakah itu Fatayat, Muslimat. Dan kalau di kota lebih beragam karena kadernya juga ada kader Posyandu, ada kader PKK karena sebagian emang dari kader organisasi. Gak kesulitan, Mas, justru tingkat keaktifan kadernya itu lebih dari 80. Jadi kalau pengalaman saya, ya, kalau tingkat keaktifan kader di atas 80 persen itu biasanya sulit, tapi untuk diabetes ini umumnya mereka tetap aktif setelah 2 tahun.

Jadi menurut mereka sih lebih karena ini jarang intervensi untuk diabetes masih jarang, juga karena risikonya setelah mereka mempelajari itu resikonya sangat tinggi, terutama berkaitan dengan kemungkinan orang diabet juga terinfeksi penyakit lain. Jadi kaya dengan tuberkolosis, penyakit ginjal. Jadi diabet itu pintu masuk segala penyakit.

Kader yang direkrut ini volunteer?

Volunter, walaupun ada transportasi, ya. Jadi mereka lebih bekerja secara kelompok. Jadi kalau misalkan melakukan screening, biasanya mereka turun ada 4 orang. Mereka yang ngatur sendiri untuk itu. Volunter, Mas.

Bagaimana antusiasme masyarakat terhadap program ini?

Ini gak hanya sosialisasi, tapi juga langsung screening, ya. Antusias masyarakat itu memang berbeda di desa dan kota berbeda, ya. Jadi kalau di Jakarta tidak terlalu mudah karena kegiatan kemasyarakatan itu agak sulit digagas kalau di perkotaan, tetapi kalau di pedesaan, misalnya di Blitar sama Jombang, karena terutama saya pikir karena daerah NU, itu yang pertama, kedua karena daerah yang luas pada saat itu pendekatan ke masyarakat lebih mudah dilakukan, lebih efektif.

Berarti ini menjadi PR di kota ya?

Iya, di kota. Sementara angka DM itu di perkotaan itu lebih tinggi karena gaya hidup masyarakat, jadi kurang gerak. Tidak hanya makanan, ya, tapi juga kurang gerak salah satu penyebab. Terus potensi lainnya merokok karena merokok Itu juga salah satu faktor risiko untuk diabet.

Lalu apa yang harus dievaluasi untuk di kota?

Kita pikir gini, ya, karena kemarin kita juga lakukan kayak survei terhadap misalnya di Depok. Depok kan semi perkotaan, terus jadi hasil survei nya terlihat bahwa masyarakatnya itu untuk informasi media informasinya mereka lebih memilih misalkan media internet, terus juga jadi lebih kepada sosial media, sementara kalau di daerah pedesaan, kita ngambil sampelnya Blitar yang mereka pilih memang kegiatan kemasyarakatan untuk mengambil informasi. Jadi perlu sekali kita ketika untuk mengembangkan masyarakat untuk memberitahu masyarakat itu kita harus sensitif mengetahui situasi lokal. Jadi misalnya kaya di perkotaan mereka kan akses internet lebih banyak, ya, sehingga yang penting sekali kita lakukan menurut saya, ya, kita menyediakan informasi yang gak hoaks gitu loh. Jadi yang bener, yang menjadikan akses mereka dan misalnya memakai aplikasi berbasis internet itu akan bisa. Kalau di pedesaan masih guyub, jadi kegiatan kemasyarakatan itu lebih menjadi pilihan mereka untuk media di edukasi.

Bagaimana hasil dari program yang telah dilakukan selama dua tahun itu? 

Hasilnya kalau untuk kegiatan screeningnya bagus, ya, Mas. Jadi kita mencapai lebih dari yang kita jadi target. Targetnya 24 ribu, kita nyampe screeningnya 25 ribu. Terus yang menjadi tantangan adalah karena kan udah ketemu tuh orang ini gula darahnya terganggu, Jadi biasanya disebut di atas 200 itu gula darahnya sudah dianggap gula darah terganggu. Seharusnya dia datang nih ke layanan: apakah ke puskesmas apa klinik, tapi dia nggak datang dengan berbagai macam alasan, ‘oh ini kan penyakitnya gak serius’. Kalau mereka menganggap diabet itu kalau masih 200 itu masih oke-oke saja. Jadi intinya menganggap penyakit itu gak serius. Padahal dia datang ke layanan terus dia harus dipantau minimal 3 bulan: apakah kadar gulanya memang tetap tinggi. Nah kalau tetap tinggi baru dia mengerti, mereka diberi pengobatan tapi kalau tidak dia bisa di diet saja. Nah, itu yang tidak dilakukan masyarakat. Jadi jumlah yang dirujuk oleh kader hanya 30% yang melanjutkan pemeriksaan pelayanan.

Setelah penemuan LKNU itu, apa rekomendasi untuk pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan?

Kegiatan ini memang untuk menemukan karena diabet ini harus ditemukan lebih awal supaya nggak sampai komplikasi yang masih ya yang kakinya sampai harus diamputasi. Jadi ditemukannya harus awal. Awalnya Itu tadi kayak gejala-gejala dia Apakah gula darahnya tinggi atau hipertensi atau faktor risikonya: lingkar perutnya, terus berat badannya yang seperti itu. Jadi ini yang tugas masyarakat. Jadi tadi kita merekomendasikan ke pemerintah, harusnya pemerintah mengalokasikan dana khusus untuk kegiatan preventif, promotif di masyarakat, terutama seperti yang dilakukan LKNU.

Tadi kan di acara ada Subdit DM GM Kementerian Kesehatan. Apakah ada respons? Respons positifnya Subdit dalam hal ini Kementerian Kesehatan akan memasukkan LKNU sebagai karena untuk nasional ini belum punya technical working group yang akan merancang kegiatan, terus bagaimana mengimplementasikan. Nah, mereka akan memasukkan perwakilan LKNU di dalam technical working group itu sendiri. Jadi technical working group ini nanti akan bekerja strategi nasional, terus juga memastikan kegiatannya terjadi.

Terus juga tadi ada beberapa catatan beberapa daerah seperti Jombang, Blitar menyampaikan bahwa beberapa desa sudah mengalokasikan dana desa untuk diabet. Jadi ini adalah hasil kerja dari kegiatan dengan LKNU karena kita latih mereka advokasi juga, dan sudah membuahkan hasil. Jadi untuk tahun 2020, beberapa desa sudah dibiayai untuk kegiatan diabet.

Dari hasil program itu, pesan apa yang bisa disampaikan kepada masyarakat?

Pesannya: kenali faktor risikonya. Jadi misalkan lingkar badan, lingkar pinggang, terus juga berat badan, indeks massa tubuh yang kedua, terus pola makan. Jadi pola makanya banyakan makan karbohidrat, tetapi kurang sayur. Jadi makanan diet yang tidak seimbang itu ya itu sangat perlu diperhatikan dan juga yang tadi, di cek gula darah secara teratur. Paling tidak, Mas, diet makannya itu seimbang. edit/TSA.

 

Post Terbaru

LKNU Garut Silaturahim dan Temu Alumni Pelatihan

LKNU Garut Silaturahim dan Temu Alumni Pelatihan

LKNU Garut

Garut, NU Online

Pengurus Cabang Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Kabupaten (PC LKNU) Kabupaten Garut, Jawa Barat menggelar kegiatan silaturahim dan temu alumni pelatihan LKNU Garut. Acara bertempat di Aula PCNU Kabupaten Garut Gedong Hejo Lantai 3, Ahad (4/8). Acara tersebut dihadiri oleh puluhan siswa SMA dan sederajat yang ada di Kabupaten Garut yang telah mengikuti pelatihan LKNU. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris PCNU Garut, Deni Ranggajaya.

Kang Deni sapaan akrabnya, menyampaikan dalam sambutan sejumlah harapan kepada alumni tersebut. Di antaranya keterlibatan aktif para alumni pelatihan LKNU dalam setiap kegiatan-kegiatan sosial pengobatan gratis yang telah menjadi agenda rutin LKNU Kabupaten Garut. "Alumni Pelatihan LKNU baik angkatan pertama ataupun angkatan kedua harus menjadi agent of change dan terlibat langsung dengan masyarakat untuk memberikan edukasi kesehatan. Terutama pertolongan pertama terhadap keadaan-keadaan darurat kesehatan," ujarnya.

Di samping itu meskipun sifatnya kegiatan sosial para alumni pelatihan sebagai warga NU harus percaya adanya barakah. "Ketika berbuat baik asal niatnya tulus dari hati, yakin Allah akan membalas sekecil apa pun kebaikan kita," ungkang Kang Deni. Ia juga berharap ke depannya, pelatihan LKNU terus berlanjut tidak berhenti sampai di angkatan kedua, tetapi ada ketiga, keempat dan seterusnya. "Namun perlu dicatat peserta pelatihan ini harus lebih diorientasikan kepada kader-kader muda yang masih duduk di kelas X SMA agar kesinambungannya jelas," tutup Kang Deni.

Sementara itu Ketua LKNU Garut H Arvi Iskadar, ditemui di sela-sela kegiatan menyapaikan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan tindak lanjut dari dua kegiatan yang telah dilakukan LKNU sebelumnya. Edukasi kesehatan ini sangat penting artinya, karena kita tidak pernah tahu kejadian tidak terduga itu selalu tidak mengenal tempat dan waktu. LKNU Garut telah melakukan dua pelatihan yang pertama adalah pelatihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), dan yang kedua adalah Pelatihan Pengurusan Jenazah. Mereka yang hadir adalah alumni dari kegiatan tersebut sebagai tindak lanjut dan konsolidasi kader-kader NU dibidang kesehatan.

"Ini juga merupakan langkah awal dari kami untuk menyiapkan kader-kader LKNU yang ada di tingkatan. Semoga saja ke depannya dapat terbentuk kepengurusan MWC LK NU Garut yang ada diseluruh Kabupaten Garut," pungkas Dokter Arvi. Kegiatan diisi dengan berbagi pengalaman mengenai kesehatan masyarakat Kabupaten Garut dan agenda kegiatan-kegiatan PC LKNU Kabupaten Garut baik yang sudah dilaksanakan ataupun yang sudah teragendakan, serta pendataan ulang seluruh alumni pelatihan. Kegiatan tersebut ditutup dengan tausiah dan doa khidmat yang disampaikan oleh KH Ubun Bunyamin. (Muhamad Dadan Nurdani/Kendi Setiawan)

Post Terbaru

Ketua LKNU Banyumas Berbagi Tips Sehat Konsumsi Daging Kurban

Ketua LKNU Banyumas Berbagi Tips Sehat Konsumsi Daging Kurban

Repost : NU Online
Ketua LKNU Banyumas

Setiap tahun seluruh umat Islam di dunia merayakan hari raya Idul Adha, biasa kita kenal juga hari raya Qurban. Magnet yang ditularkan luar biasa, semua lapisan masyarakat (bawah – atas) menikmati daging qurban.

"Makna idul kurban ini adalah kesetiakawanan sosial, saling berbagi, antara masyarakat muslim yang mampu kepada saudaranya yang fakir dan miskin," ucap Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyumas (LKNU Banyumas) Jawa tengah Agus Ujianto mengawali perbincangan dengan NU Online Selasa,(21/8).

Diharapkan, masyarakat yang selama ini sulit mengonsumsi daging, pada hari itu akan merasakan nikmatnya mengonsumsi daging. Selain itu juga, bagi yang memberikan hewan kurban pun juga turut merasakan nikmatnya daging kurban tersebut.

"Tentu, kita pasti tidak berharap pesta daging kurban pada hari itu akan berakhir dengan musibah atau menjadikan badan kita terasa sakit," tambah Agus

Daging, lanjut Agus mengandung zat gizi terutama protein dan lemak hewani yang merupakan zat gizi penting untuk tubuh. Pada saat masa pertumbuhan, protein dibutuhkan untuk zat pembangun, dan pada orang dewasa protein dibutuhkan untuk menjaga keutuhan tubuh dan mengganti sel-sel yang rusak bahkan berperan penting untuk proses penyembuhan.

Sedangkan lemak merupakan sumber energi, serta asam lemak esensial berperan untuk pembentukan membran sel-sel tubuh, juga untuk pembentukan steroid dan hormon. Lemak juga bumper bagi organ dalam tubuh. "Namun, jika daging yang mengandung lemak dikonsumsi berlebihan dan tidak pada waktu yang sesuai siklus faali seringkali akan merugikan tubuh," imbuhnya.

Berbagai gangguan akan terjadi pada saluran cerna atas maupun gangguan saluran cerna bawah, antara lain GERD (Gastroesophageal Reflux), sakit maag, susah buang air besar (konstipasi) atau ambeien (hemoroid). Makan lemak yang berlebihan dalam waktu singkat menyebabkan penyakit GERD, yaitu terjadi akibat pola gaya hidup yang salah.

"Terjadinya aliran balik isi lambung termasuk asam lambung ke kerongkongan, karena adanya kelemahan klep antara lambung dan kerongkongan dan adanya gangguan pengosongan lambung juga mencetuskan timbulnya GERD," jelas Agus Lemak yang berlebihan akan menyebabkan pengosongan lambung menjadi lambat dan gangguan pada klep menyebabkan isi lambung berbalik arah ke kerongkongan, pasien penderita GERD biasanya akan merasakan panas pada dada seperti terbakar (heart burn).

GERD disebabkan juga karena mengonsumsi daging dalam waktu singkat secara berlebihan, terlebih jika daging dimasak dengan santan yang berlebihan serta disertai bumbu masak yang merangsang, asam dan pedas. Atau sebalikanya jika daging hanya dimasak setengah matang, maka provokasi terhadap penyakit ini akan meningkat. "Kondisi itu akan lebih berat jika setelah mengonsumsi daging langsung tidur, karena itu akan menyebabkan makanan yang telah sampai di lambung berbalik arah ke kerongkongan," lanjutnya.

Tips Hindari GERD

Untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan usai menyantap daging kurban, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, terutama untuk menghindari terserang penyakit GERD, akibat dari mengkonsumsi daging kurban secara tidak tepat atau berlebihan.

Menurut Agus Ujianto, ada beberapa tips untuk tetap sehat ketika mengkonsumsi daging kurban, antara lain:

1. Jangan mengonsumsi daging secara berlebihan dalam waktu singkat.

2. Mengonsumsi sayuran dan buah-buahan.

3. Menghindari konsumsi secara bersamaan antara daging dengan jeroan.

4. Jangan tidur dalam waktu 2 jam setelah makan.

5. Hindari makanan yang terlalu asam dan pedas

6. Hindari minum kopi, alkohol atau minuman bersoda

7. Hindari makanan yang mengandung coklat dan keju.

Selian itu, kebiasaan makan nasi yang banyak saat lauknya terasa enak juga bukan hal yang baik, seringkali jika metabolisme dalam tubuh sudah mulai abnormal, seperti pada orang tua dan orang yang beresiko tinggi terhadap stroke,diabetes dan hypertensi.

"Peningkatan asupan lemak dan karbohidrat yang berlebihan kedalam tubuh, yang menyebabkan meningkatnya kadar kolesterol dan gula darah juga bisa menjadi sebab terserangnya penyakit tersebut," lanjut Agus.

Di ujung perbincang tersebut, Agus menggarisbawahi anjuran agama untuk tidak berlebihan.  "Maka benar bahwa Tuhan melarang kita berlebih-lebihan termasuk dalam hal makan dan minum," pangkas dokter sepesialis bedah itu. (Kifayatul Ahyar/Ibnu Nawawi edit TSA)