Habis Sakit TBC Terbitlah Sembuh

Habis Sakit TBC Terbitlah Sembuh

Kejadian gerhana selalu ditandai dengan kegelapan. Menurut cerita rakyat yang berkembang, peristiwa itu disebabkan karena munculnya raksasa yang sedang memakan matahari atau rembulan.  Untuk membebaskannya, orang-orang diminta memukul kentongan. Biasanya, beberapa saat setelah mendengar bunyi kentongan, sang raksasa akan memuntahkan matahari atau  rembulan. Setelah itu, kegelapan akan segera sirna, matahari dan  rembulan akan kembali bersinar. Harapan akan sirnanya kegelapan itu pula yang memberi inspirasi sekelompok mantan pasien TB di Cirebon untuk mendeklarasikan diri sebagai kelompok pendidik sebaya, dengan nama “Gerhana TB” (Gerakan Hati dan Naluri Tuberkulosis). Mereka punya harapan besar, habis sakit TB  terbitlah sembuh!

Kelompok pendidik sebaya ini “hanya” digawangi oleh 6 orang, tapi semangat mereka patut diacungi jempol. Dari 6 orang itu, terdapat 1 laki-laki dan 5 wanita, dengan rentang usia antara 25-47 tahun. Latar belakang pekerjaan mereka antara lain buruh bangunan, pembatik, dan ibu rumah tangga. Semua anggota kelompok ini  adalah mantan pasien TB regular yang menjalani pengobatan salama 6 bulan, dengan 1 orang menjalani pengobatan selama 9 bulan, dan 1 orang pernah kambuh lagi setelah 4 tahun dan menjalani pengobatan kedua selama 9 bulan. Sang ketua kelompok, Marudin, hanyalah buruh bangunan. Sang sekretaris sekaligus merangkap time keeper, Kurniasih, adalah buruh batik. Sisanya adalah ibu rumah tangga, mereka antara lain adalah Meliana, Sarilah, Mu’ah, dan Mida

Dalam kesempatan wawancara dengan CEPAT-LKNU, pada saat deklarasi tanggal 29 Agustus 2016, mereka menyatakan bahwa tujuan dibentuknya Pendidik Sebaya “Gerhana TB” adalah: 1).  Menyediakan tempat yang aman dan nyaman untuk berbicara, berbagi perasaan dan pengalaman, 2). Memberikan  informasi dan dukungan kepada sesama pasien, termasuk dukungan untuk patuh pada pengobatan dan menghadapi efek samping, 3). Mewujudkan kebutuhan bersama dalam kampanye dan advokasi, untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan. Di sela-sela deklarasi pembentukan pendidik sebaya, sang ketua kelompok, Marudin, sempat bercerita, “Hari  ini, saya sebenarnya masih ada kerjaan bangunan di Bogor. Tapi saya bela-belain kembali ke Cirebon, karena pembentukan kelompok pendidik sebaya ini sangat penting. Jadi saya minta ijin pada mandor bangunan, agar saya bisa pergi ke Cirebon.”

Sebagian besar motivasi mereka untuk bergabung sebagai pendidik sebaya TB adalah sebagai sarana berbagi, menularkan informasi tentang TB, dan untuk membantu sesama pasien TB agar tidak putus obat di tengah jalan.

Pada kesempatan pertama sebelum kelompok ini terbentuk, Budi, aktivis PETA (Pejuang Tangguh),  memberikan dorongan bahwa pembentukan kelompok pendidik sebaya tidak perlu memikirkan jumlah anggota. Sedikit orang tidak masalah. Yang paling penting punya semangat tinggi dan mau bekerja untuk sesama pasien TB. Hal paling mendasar untuk berdirinya sebuah kelompok adalah motivasi yang kuat, tujuan yang jelas, serta rencana kerja yang dapat dilaksanakan. Terkait soal rencana kerja jangka panjang, visi, misi, AD/ART, proposal, dll dapat dipikirkan kemudian.

Tugas awal telah menanti. Saat ini, terdapat 37 pasien TB mangkir yang perlu mendapat perhatian. Sebagian besar pasien mangkir disebabkan oleh lemahnya motivasi mereka untuk sembuh. Berbagai alasan mereka berikan, diantaranya berupa beratnya efek samping dan faktor ekonomi. Sebagai pendidik sebaya, kelompok yang baru lahir ini patut segera mendapat suntikan pengetahuan tentang TB, sekaligus pengetahuan dan ketrampilan komunikasi. Karena tugas mereka akan lebih banyak memberikan dorongan kepada pasien TB untuk memulai pengobatan, dan mencegah pasien mangkir, melalui komunikasi intensif, menghindar dari kesan menggurui, dan lebih banyak mendengar. Karena sejatinya mereka hadir sebagai teman, bukan orang lain yang patut mereka jauhi.

Post Terbaru