LKNU Advokasi Para Pengidap TBC Melalui Kader-Kader Muda

LKNU Advokasi Para Pengidap TBC Melalui Kader-Kader Muda

Esty Febriani Penanggung Jawab Teknis Program TBC
Repost, Laduni.id

Jakarta - Hingga kini, BATUK kerap dianggap sebagai salah satu jenis penyakit ringan yang jarang ditanggapi serius oleh banyak orang. Padahal batuk yang dianggap ringan ini bisa saja merupakan pertanda dari terjangkitnya seseorang oleh penyakit TBC atau Tuberculosis.

Indonesia mengalamai darurat TBC sudah sejak lama. Pasalnya TBC merupakan penyakit yang mudah menghinggapi siapa saja karena sifatnya yang menular. Indonesia, seperti diungkapkan oleh Dr. Esty Febriani M.Kes, SR-Khusus LKNU berada pada posisi 3 besar di dunia terkait banyaknya orang yang terjangkit TBC. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit TB bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.

“Indonesia berada di peringkat ke 3 terkait TBC, sebelumnya berada di peringkat ke 2. Kata Dr. Esty Febriani M.Kes (SR-Khusus LKNU) pada acara yang diselenggarakan oleh LKNU bekerjasama dengan Kementerian kesehatan dan TB Community, Selasa, 10/12/2019 di hotel Acacia.

Mengusung tema “Meneguhkan Kiprah Organisasi NU Dalam Program Penanggulangan TBC", Esty berharap agar berbagai elemen khususnya NU turut andil memberikan kontribusi dalam rangka menghentikan penyebaran TB serta upaya menanggulanginya.

“Mudah-mudahan dengan adanya kontribusi dari bapak ibu, saudara-saudara sekalian akan bisa menurunkan kembali rangkingnya supaya gak masuk 3 besar.” Ujarnya.

Esty mengungkapkan bahwa LKNU memiliki berbagai project yang didanai langsung oleh Global Fund. Tujuan dari project tersebut menurutnya guna mengembangkan kader-kader yang akan secara intensif membantu dalam menuntaskan prsoalan TBC.

“Jadi hal yang pertama kita lakukan adalah menemukan pasien TBC. Yang kedua mendampingi pasien hingga sembuh, yang ketiga advokasi. Jadi ini adalah bagian advokasi.” Tuturnya.

Meski begitu, Esti mengakui bahwa sampai saat ini untuk mengembangkan kader-kader TBC tak semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu tantangan yang dihadapi ialah minimnya peran para generasi muda dalam mensosialisasikan TBC.

“Kesulitannya mencari kader, karena mereka belum tahu. Insya Allah jika mereka diberi tahu dan mereka sudah mengerti, mereka akan melakukannya.” Ujarnya.

Ia meyakini bahwa dengan adanya proses edukasi untuk para anak muda, potensi yang mereka miliki mampu bermanfaat dalam rangka menyelesaikan berbagai problematika terkait TBC.

“Sementara sebenarnya mereka itu misalnya untuk edukasi, mereka aktif menggunakan sosial media sebagai influencer. Mereka itu key influencer sebenarnya bisa kita manfaatkan untuk memberikan edukasi.” Ungkapnya.

Post Terbaru