OBROLAN KOPI TBC TANPA KOPI

OBROLAN KOPI TBC TANPA KOPI

Kesan pertama berjumpa dengan dokter paru satu ini bisa membuat kita terkecoh. Bagaimana tidak? rambutnya gondrong dengan cara berpakaian yang casual. Orangpun tidak akan mengira jika lelaki paruh baya ini adalah seorang dokter ahli paru yang sehari-hari bertugas di RSUD Dr. Chasbullah Abdulmajid, Kota Bekasi. Dia adalah dr. Anggarjito, SP.P.

Anggardjito, SP.P adalah Spesialis Paru yang menyelesaikan pendidikan Spesialis Pulmonologi di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Ia juga terdaftar sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bekasi.

“Saya tidak suka seremoni atau formalitas. Tapi aksi nyata!” – dr. Anggarjito –

Di luar kesibukan hariannya sebagai dokter paru, dr. Anggarjito adalah ketua KOPI TBC (Koalisi Organisasi Profesi TBC) yang dibentuk tahun 2019 dan beranggotakan berbagai organisasi profesi seperti Persatuan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI), Perhimpunan Dokter Spesialis Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI), Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), Asosiasi Klinik Indonesia (ASKLIN), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Okupasi Terapis Indonesia (IOPI), Persatuan Ahli Teknilogi Laboratorium Kesehatan Indoensia (PATELKI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), BPJS, LKC-NU, dan UPTD Puskesmas.

KOPI TBC dibentuk sebagai mitra Dinas Kesehatan dalam memainkan peran menjaga kualitas layanan TBC pada aspek surevilens dan kontrol. Dengan peran dan fungsi masing-masing anggotanya, KOPI TBC mencoba menjangkau pasien yag berada di luar jangkauan Dinas Kesehatan, memastikan bahwa pasien TBC mendapatkan layanan Kesehatan, memastikan cakupan TBC sesuai target dan  memastikan tidak ada pasien mangkir selama pengobatan.

Melalui jaringan KOPI TBC yang luas mulai dari rumah sakit pemerintah, Puskesmas, klinik dan  rumah sakit swasta serta berbagai profesi, akan segera terlacak dan terinformasikan posisi maupun kondisi pasien TBC. Termasuk peran LKC-NU yang memiliki anggaran dan jaringan ke akar rumput untuk menjangkau pasien TBC melalui keberadaan kader-kader di lapangan.

Menurut dr. Anggarjito, kelemahan utama pada penanggulangan TBC adalah pada evaluasi proses, mengingat pengobatan TBC memerlukan waktu yang lama, yaitu antar 6 (enam) sampai 8 (delapan) bulan untuk TB SO dan 2 (dua) tahun untuk TB RO. Perlunya pendampingan dan pengawasan pasien TBC agar mampu menyelesaikan pengobatan hingga sembuh karena tidak hanya menemukan gejala dan pasien TBC serta memberikan obat TBC dengan tepat, namun juga yang lebih penting adalah memantau pengobatan TBC sampai sembuh.

Menutup obrolan tanpa suguhan kopi, dr. Aggarjito menjelaskan, “KOPI TBC memerlukan keterwakilan dari semua pihak. Tidak hanya dari dokternya, perawat, tapi semua pihak, semua stakeholder yang ada. Di sana juga ada Pemda. Memang terlihat sederhana, namun efek yang akan timbul jika menyepelekan TBC, efeknya akan panjang. Dari sisi pengobatan, dari sisi pengawasan. Seperti kita tahu pengobatan TBC itu panjang.” Di sinilah diperlukan keterwakilan dan keterkaitan antar pihak hingga memberikan dampak positif bagi penanggulangan TBC di Kota Bekasi.

Kegiatan KOPI TBC akan banyak apabila masih terdapat bolong-bolong pada cakupan dan proses, namun kegiatan atau tugas itu akan berkurang apabila sistem sudah berjalan dengan baik.

KOPI TBC bukan sekedar formalitas, melainkan yang lebih penting adalah gerakan atau aksi nyata. Prinsip ini tergambar jelas pada penampilan dr. Anggarjito yang jauh dari kesan formal, karena bagi dirinya yang penting adalah aksi nyata, bukan sekedar penampilan yang dapat menipu mata.

Mari bikin aksi nyata, sambil ngopi bersama KOPI TBC!