BERDERMA BERKAT POSTINGAN TBC DI FB

“Anda bisa menunda, waktu tidak bisa menunggu!”

Mumpung masih ada waktu dan umur panjang, saatnya berbagi dengan sesama. Itu adalah rangkaian kata-kata yang punya makna kuat bagi perjalanan hidup ibu Siti, seorang bidan sepuh yang mengabdikan sebagian hidupnya untuk membantu sesama yang kekurangan.

Mengawali karir di bidang kesehatan sebagai perawat pada tahun 1978 di RSCM, hingga berpindah profesi menjadi bidan pada tahun 1987. Menyabet rangking kedua sebagai lulusan terbaik sekolah bidan di Kota Tegal, pada usia 40 tahun. Sejak saat itu, Ibu Siti berprofesi sebagai bidan di daerah Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi.

Sifat kedermawaannya tidak hanya dimulai sejak pensiun sebagai bidan pada tahun 2013, melainkan jauh sebelum itu. Sebagai bidan dengan berbagai latar belakang pasien, bidan Siti sering memberikan keringanan soal biaya perawatan dan persalinan. Pasien boleh berhutang atau mencicil apabila memang tidak mampu untuk biaya persalinan. Bagi bidan Siti, menyelamatkan nyawa lebih penting daripada berbicara soal uang. Toh, tidak semua pasien memiliki uang. Ada saatnya mendapat lebih dari pasien yang mampu dan ada saatnya memberikan keringanan pada pasien yang kurang mampu.

Ibu Siti, Bidan Sepuh Yang Dermawan

Kan sudah diberi rizqi yang banyak. Jadi harus memberikan kepada orang lain. Ini sebagai ucapan syukur. Memberi lagi, membagi lagi. Kan tidak setiap orang mendapat anugerah rizqi. Kan ada yang pas, ada yang cukup, ada yang lebih.” Tutur bidan Siti membeberkan alasan mengapa dia suka berderma.

“Dia tidak meminta, tapi kita yang harus mengerti,” tambah bidan Siti menegaskan bahwa sebagai insan yang bersyukur, kita yang harus mengerti alias peduli dengan kebutuhan sesama, tanpa harus menunggu orang tesebut meminta bantuan.

Pada awalnya, bidan Siti sempat mensyaratakan perjanjian di atas meterai, bagi mereka yang yang berhutang atau mencicil pembayaran. Dalam perjalanannya, meskipun memakai perjanjian, banyak juga yang ingkar janji alias tetap tidak mau bayar. Belajar dari pengalamana itu, bidan Siti akhirnya mengikhlaskan saja dan menyerahkan semua itu pada keadilan ilahi. Bagi dirinya, lebih dan kurang itu sudah ada takarannya, sudah ada yang mengaturnya.

Prinsip penting dalam memberikan bantuan adalah memberikan bantuan bagi keluarga yang kekurangan, sebelum membantu orang lain. Ibu Siti termasuk orang yang kurang suka apabila ada saudara yang kekurangan kemudian berhutang. Itulah sebabnya bidan Siti kemudian menggagas keluarga besarnya untuk mendirikan koperasi simpan pinjam. Berkat koperasi itu, kini sudah tidak ada lagi masalah keuangan bagi keluarga besarnya. Sejak saat itu, bidan Siti menjadi leluasa untuk membantu dan meringankankan beban orang lain.

Hingga suatu ketika bidan Siti berjumpa dengan kader Yayat yang bekerja di wilayah PKM Pondok Melati, pada program TBC GF LKNU untuk wilayah Kota Bekasi, melalui akun pertemanan Facebook (FB). Hanya berbekal pertemanan FB dan belum pernah jumpa darat, bidan Siti kemudian tertarik untuk membantu ketika Ibu Yayat sering posting soal kegiatannya bersama pasien TBC.

Kemudian bidan Siti bertanya, “Pasien TBC yang ibu dampingi sudah dapat apa saja selain pengobatan gratis dari pemerintah?” Bu Yayat menjawab, “Tidak ada bu. Padahal pasien yang saya dampingi sebagian besar kurang mampu. Mereka membutuhkan asupan gizi yang cukup agar tidak oleng ketika minum obat TBC.”

“Kalau begitu, apa yang bisa saya bantu?” tanya bidan Siti, memastikan agar bantuan yang akan diberikan benar-benar bermanfaat. “Bantuan bisa ditujukan untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bu!” jawab ibu Yayat meyakinkan.

Dengan informasi itu, bidan Siti langsung bergerak cepat memberikan bantuan berupa uang sebesar Rp. 300.000 untuk PMT pasien TBC yang kurang mampu, melalui SSR Kota Bekasi.

Bidan Siti adalah segelintir dermawan yang punya niat baik untuk membantu sesama. Kadangkala, insan-insan dermawan ini tidak tahu harus menyalurkan bantuan ke mana saja. Beruntung Ibu Yayat rajin mengunggah status FB yang berisi kegiatan penanggulangan  TBC di wilayah dampingannya. Beruntung Ibu Yayat punya teman baru di FB yang dermawan seperti bidan Siti. Ternyata posting sesuatu yang positif di FB ada manfaatnya, jadi bukan sekedar posting jalan-jalan, makan, belanja, atau posting yang tak perlu.