KADER TBC-RO DENGAN AKSES MEDIA DAN FILANTROFI

“Saya akan kejar, kalau ada yang coba-coba mempermainkan pasien TB RO saya!”

Orinayanti Kemalaputri (48 tahun) – biasa dipanggil Orin – tampak berbeda dengan ibu-ibu kader pada umumnya. Sikapnya yang tegas dan terang-terangan sering membuat lawan bicara tak berkutik, apalagi ketika Ibu Orin mulai mengeluarkan  “kartu saktinya” sebagai anggota gabungan relawan media/wartawan. Gertakannya soal relawan media bukan gertak sambal, dia memang benar-benar punya akses yang luas dengan teman-teman media. Sehingga ketika menemukan ketidakberesan dalam hal pelayanan kesehatan terhadap pasien dampingannya, dia akan segera merekam dalam format foto maupun video. Hal itu akan digunakan sebagai alat bukti yang valid.

Sebagai kader TBC-RO, Ibu Orin sering menjumpai pihak rumah sakit mempersulit untuk menerima pasien TB-RO menginap. Alasannya macam-macam, misalnya ruang inap penuh. Jika itu alasannya, maka Ibu Orin akan benar-benar mengecek keberadaan ruang inap. Jika ditemukan ruang kosong tapi pihak rumah sakit menyampaikan penuh, maka dia akan segera menggertak dengan cara akan segera menyebarkan kepada media. Pernah suatu ketika, alasan penuh ternyata hanya berujung persoalan uang. “Jadi ruang penuh ya? Saya harus bayar berapa agar tidak dibilang penuh?” Begitu gertakannya.

Sifat tegas dan terus terang sepertinya diwariskan dari bapaknya yang tantara. Sebagai “anak kolong” Ibu Orin tidak pernah mengenal rasa takut pada lawan bicara, apalagi yang coba-coba meremehkannya.

Awal perjumpaan dengan awak media adalah justru ketika ada pasien TBC dari keluarga wartawan yang dipersulit mendapat pelayanan. Celakanya, pihak keluarga awak media justru tidak berani menggertak pihak rumah sakit. “Kenapa abang tidak gunakan Kartu Tanda Anggota (KTA) wartawan?” Tanya ibu Orin waktu itu.

Sejak saat itu, Ibu Orin menjadi akrab dengan teman-teman awak media. Ternyata pertemanan dengan mereka membawa manfaat. Ibu Orin sering mendapat kemudahan ketika ada yang coba-coba mempersulit dalam mendapatkan pelayanan TBC.

Pengalaman panjang Ibu Orin sebagai kader Posyandu PKM Babelan I dimulai sejak 2000 hingga 2005. Kemudian sejak 2005 hingga 2015 aktif sebagai kader HIV dengan wilayah kerja hingga di luar tempat tinggalnya di Desa Babelan. Perjumpaannya sebagai kader TBC-RO dimulai sejak 2013 ketika bergabung dengan program TBC Aisyiyah, yang kemudian berlanjut dengan LKNU pada tahun 2018 hingga saat ini.

Sebagian besar aktifvitasnya sebagai kader TBC-RO dia up load di media sosial Facebook, hingga suatu ketika Komunitas Peduli Sesama (KPS) tertarik untuk membantu pasien yang didampingi Ibu Orin. Pasien TBC-RP pertama yang mendapat bantuan dari KPS adalah Bapak Agus Hidayat. Kondisi fisik bapak Hidayat waktu itu sangat kritis. Sudah tiga hari tidak makan. Bapak Agus hanya hidup bertiga dengan orang tuanya yang sudah jompo. Anak dan istrinya telah meninggalkannya semenjak mereka mengetahui Bapak Agus menderita penyakit TBC.

Dari KPS, Bapak Agus mendapat bantuan uang tunai Rp. 5,4 juta, bingkisan sembako dan oksigen. Jika ditotal, jumlah bantuan yang diterima mencapai lebih dari Rp. 7 juta.

Pasien TBC RO kedua yang menerima bantuan dari KPS adalah Ibu Sofiah dari Taruna Jaya, uang tunai Rp. 4,3 juta dan sembako. Dan pasien TBC RO terakhir adalah Bapak Siregar dari Pondok Ungu sebesar Rp. 2 juta.

Seluruh bantuan yang diberikan KPS sudah disampaikan, dan seluruh dokumentasi dalam bentuk foto dan video dikirimkan sebagai laporan kepada KPS.