KADER TBC-RO DENGAN AKSES MEDIA DAN FILANTROFI

“Saya akan kejar, kalau ada yang coba-coba mempermainkan pasien TB RO saya!”

Orinayanti Kemalaputri (48 tahun) – biasa dipanggil Orin – tampak berbeda dengan ibu-ibu kader pada umumnya. Sikapnya yang tegas dan terang-terangan sering membuat lawan bicara tak berkutik, apalagi ketika Ibu Orin mulai mengeluarkan  “kartu saktinya” sebagai anggota gabungan relawan media/wartawan. Gertakannya soal relawan media bukan gertak sambal, dia memang benar-benar punya akses yang luas dengan teman-teman media. Sehingga ketika menemukan ketidakberesan dalam hal pelayanan kesehatan terhadap pasien dampingannya, dia akan segera merekam dalam format foto maupun video. Hal itu akan digunakan sebagai alat bukti yang valid.

Sebagai kader TBC-RO, Ibu Orin sering menjumpai pihak rumah sakit mempersulit untuk menerima pasien TB-RO menginap. Alasannya macam-macam, misalnya ruang inap penuh. Jika itu alasannya, maka Ibu Orin akan benar-benar mengecek keberadaan ruang inap. Jika ditemukan ruang kosong tapi pihak rumah sakit menyampaikan penuh, maka dia akan segera menggertak dengan cara akan segera menyebarkan kepada media. Pernah suatu ketika, alasan penuh ternyata hanya berujung persoalan uang. “Jadi ruang penuh ya? Saya harus bayar berapa agar tidak dibilang penuh?” Begitu gertakannya.

Sifat tegas dan terus terang sepertinya diwariskan dari bapaknya yang tantara. Sebagai “anak kolong” Ibu Orin tidak pernah mengenal rasa takut pada lawan bicara, apalagi yang coba-coba meremehkannya.

Awal perjumpaan dengan awak media adalah justru ketika ada pasien TBC dari keluarga wartawan yang dipersulit mendapat pelayanan. Celakanya, pihak keluarga awak media justru tidak berani menggertak pihak rumah sakit. “Kenapa abang tidak gunakan Kartu Tanda Anggota (KTA) wartawan?” Tanya ibu Orin waktu itu.

Sejak saat itu, Ibu Orin menjadi akrab dengan teman-teman awak media. Ternyata pertemanan dengan mereka membawa manfaat. Ibu Orin sering mendapat kemudahan ketika ada yang coba-coba mempersulit dalam mendapatkan pelayanan TBC.

Pengalaman panjang Ibu Orin sebagai kader Posyandu PKM Babelan I dimulai sejak 2000 hingga 2005. Kemudian sejak 2005 hingga 2015 aktif sebagai kader HIV dengan wilayah kerja hingga di luar tempat tinggalnya di Desa Babelan. Perjumpaannya sebagai kader TBC-RO dimulai sejak 2013 ketika bergabung dengan program TBC Aisyiyah, yang kemudian berlanjut dengan LKNU pada tahun 2018 hingga saat ini.

Sebagian besar aktifvitasnya sebagai kader TBC-RO dia up load di media sosial Facebook, hingga suatu ketika Komunitas Peduli Sesama (KPS) tertarik untuk membantu pasien yang didampingi Ibu Orin. Pasien TBC-RP pertama yang mendapat bantuan dari KPS adalah Bapak Agus Hidayat. Kondisi fisik bapak Hidayat waktu itu sangat kritis. Sudah tiga hari tidak makan. Bapak Agus hanya hidup bertiga dengan orang tuanya yang sudah jompo. Anak dan istrinya telah meninggalkannya semenjak mereka mengetahui Bapak Agus menderita penyakit TBC.

Dari KPS, Bapak Agus mendapat bantuan uang tunai Rp. 5,4 juta, bingkisan sembako dan oksigen. Jika ditotal, jumlah bantuan yang diterima mencapai lebih dari Rp. 7 juta.

Pasien TBC RO kedua yang menerima bantuan dari KPS adalah Ibu Sofiah dari Taruna Jaya, uang tunai Rp. 4,3 juta dan sembako. Dan pasien TBC RO terakhir adalah Bapak Siregar dari Pondok Ungu sebesar Rp. 2 juta.

Seluruh bantuan yang diberikan KPS sudah disampaikan, dan seluruh dokumentasi dalam bentuk foto dan video dikirimkan sebagai laporan kepada KPS.

BERDERMA BERKAT POSTINGAN TBC DI FB

“Anda bisa menunda, waktu tidak bisa menunggu!”

Mumpung masih ada waktu dan umur panjang, saatnya berbagi dengan sesama. Itu adalah rangkaian kata-kata yang punya makna kuat bagi perjalanan hidup ibu Siti, seorang bidan sepuh yang mengabdikan sebagian hidupnya untuk membantu sesama yang kekurangan.

Mengawali karir di bidang kesehatan sebagai perawat pada tahun 1978 di RSCM, hingga berpindah profesi menjadi bidan pada tahun 1987. Menyabet rangking kedua sebagai lulusan terbaik sekolah bidan di Kota Tegal, pada usia 40 tahun. Sejak saat itu, Ibu Siti berprofesi sebagai bidan di daerah Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi.

Sifat kedermawaannya tidak hanya dimulai sejak pensiun sebagai bidan pada tahun 2013, melainkan jauh sebelum itu. Sebagai bidan dengan berbagai latar belakang pasien, bidan Siti sering memberikan keringanan soal biaya perawatan dan persalinan. Pasien boleh berhutang atau mencicil apabila memang tidak mampu untuk biaya persalinan. Bagi bidan Siti, menyelamatkan nyawa lebih penting daripada berbicara soal uang. Toh, tidak semua pasien memiliki uang. Ada saatnya mendapat lebih dari pasien yang mampu dan ada saatnya memberikan keringanan pada pasien yang kurang mampu.

Ibu Siti, Bidan Sepuh Yang Dermawan

Kan sudah diberi rizqi yang banyak. Jadi harus memberikan kepada orang lain. Ini sebagai ucapan syukur. Memberi lagi, membagi lagi. Kan tidak setiap orang mendapat anugerah rizqi. Kan ada yang pas, ada yang cukup, ada yang lebih.” Tutur bidan Siti membeberkan alasan mengapa dia suka berderma.

“Dia tidak meminta, tapi kita yang harus mengerti,” tambah bidan Siti menegaskan bahwa sebagai insan yang bersyukur, kita yang harus mengerti alias peduli dengan kebutuhan sesama, tanpa harus menunggu orang tesebut meminta bantuan.

Pada awalnya, bidan Siti sempat mensyaratakan perjanjian di atas meterai, bagi mereka yang yang berhutang atau mencicil pembayaran. Dalam perjalanannya, meskipun memakai perjanjian, banyak juga yang ingkar janji alias tetap tidak mau bayar. Belajar dari pengalamana itu, bidan Siti akhirnya mengikhlaskan saja dan menyerahkan semua itu pada keadilan ilahi. Bagi dirinya, lebih dan kurang itu sudah ada takarannya, sudah ada yang mengaturnya.

Prinsip penting dalam memberikan bantuan adalah memberikan bantuan bagi keluarga yang kekurangan, sebelum membantu orang lain. Ibu Siti termasuk orang yang kurang suka apabila ada saudara yang kekurangan kemudian berhutang. Itulah sebabnya bidan Siti kemudian menggagas keluarga besarnya untuk mendirikan koperasi simpan pinjam. Berkat koperasi itu, kini sudah tidak ada lagi masalah keuangan bagi keluarga besarnya. Sejak saat itu, bidan Siti menjadi leluasa untuk membantu dan meringankankan beban orang lain.

Hingga suatu ketika bidan Siti berjumpa dengan kader Yayat yang bekerja di wilayah PKM Pondok Melati, pada program TBC GF LKNU untuk wilayah Kota Bekasi, melalui akun pertemanan Facebook (FB). Hanya berbekal pertemanan FB dan belum pernah jumpa darat, bidan Siti kemudian tertarik untuk membantu ketika Ibu Yayat sering posting soal kegiatannya bersama pasien TBC.

Kemudian bidan Siti bertanya, “Pasien TBC yang ibu dampingi sudah dapat apa saja selain pengobatan gratis dari pemerintah?” Bu Yayat menjawab, “Tidak ada bu. Padahal pasien yang saya dampingi sebagian besar kurang mampu. Mereka membutuhkan asupan gizi yang cukup agar tidak oleng ketika minum obat TBC.”

“Kalau begitu, apa yang bisa saya bantu?” tanya bidan Siti, memastikan agar bantuan yang akan diberikan benar-benar bermanfaat. “Bantuan bisa ditujukan untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bu!” jawab ibu Yayat meyakinkan.

Dengan informasi itu, bidan Siti langsung bergerak cepat memberikan bantuan berupa uang sebesar Rp. 300.000 untuk PMT pasien TBC yang kurang mampu, melalui SSR Kota Bekasi.

Bidan Siti adalah segelintir dermawan yang punya niat baik untuk membantu sesama. Kadangkala, insan-insan dermawan ini tidak tahu harus menyalurkan bantuan ke mana saja. Beruntung Ibu Yayat rajin mengunggah status FB yang berisi kegiatan penanggulangan  TBC di wilayah dampingannya. Beruntung Ibu Yayat punya teman baru di FB yang dermawan seperti bidan Siti. Ternyata posting sesuatu yang positif di FB ada manfaatnya, jadi bukan sekedar posting jalan-jalan, makan, belanja, atau posting yang tak perlu.

OBROLAN KOPI TBC TANPA KOPI

OBROLAN KOPI TBC TANPA KOPI

Kesan pertama berjumpa dengan dokter paru satu ini bisa membuat kita terkecoh. Bagaimana tidak? rambutnya gondrong dengan cara berpakaian yang casual. Orangpun tidak akan mengira jika lelaki paruh baya ini adalah seorang dokter ahli paru yang sehari-hari bertugas di RSUD Dr. Chasbullah Abdulmajid, Kota Bekasi. Dia adalah dr. Anggarjito, SP.P.

Anggardjito, SP.P adalah Spesialis Paru yang menyelesaikan pendidikan Spesialis Pulmonologi di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Ia juga terdaftar sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bekasi.

“Saya tidak suka seremoni atau formalitas. Tapi aksi nyata!” – dr. Anggarjito –

Di luar kesibukan hariannya sebagai dokter paru, dr. Anggarjito adalah ketua KOPI TBC (Koalisi Organisasi Profesi TBC) yang dibentuk tahun 2019 dan beranggotakan berbagai organisasi profesi seperti Persatuan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI), Perhimpunan Dokter Spesialis Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI), Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), Asosiasi Klinik Indonesia (ASKLIN), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Okupasi Terapis Indonesia (IOPI), Persatuan Ahli Teknilogi Laboratorium Kesehatan Indoensia (PATELKI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), BPJS, LKC-NU, dan UPTD Puskesmas.

KOPI TBC dibentuk sebagai mitra Dinas Kesehatan dalam memainkan peran menjaga kualitas layanan TBC pada aspek surevilens dan kontrol. Dengan peran dan fungsi masing-masing anggotanya, KOPI TBC mencoba menjangkau pasien yag berada di luar jangkauan Dinas Kesehatan, memastikan bahwa pasien TBC mendapatkan layanan Kesehatan, memastikan cakupan TBC sesuai target dan  memastikan tidak ada pasien mangkir selama pengobatan.

Melalui jaringan KOPI TBC yang luas mulai dari rumah sakit pemerintah, Puskesmas, klinik dan  rumah sakit swasta serta berbagai profesi, akan segera terlacak dan terinformasikan posisi maupun kondisi pasien TBC. Termasuk peran LKC-NU yang memiliki anggaran dan jaringan ke akar rumput untuk menjangkau pasien TBC melalui keberadaan kader-kader di lapangan.

Menurut dr. Anggarjito, kelemahan utama pada penanggulangan TBC adalah pada evaluasi proses, mengingat pengobatan TBC memerlukan waktu yang lama, yaitu antar 6 (enam) sampai 8 (delapan) bulan untuk TB SO dan 2 (dua) tahun untuk TB RO. Perlunya pendampingan dan pengawasan pasien TBC agar mampu menyelesaikan pengobatan hingga sembuh karena tidak hanya menemukan gejala dan pasien TBC serta memberikan obat TBC dengan tepat, namun juga yang lebih penting adalah memantau pengobatan TBC sampai sembuh.

Menutup obrolan tanpa suguhan kopi, dr. Aggarjito menjelaskan, “KOPI TBC memerlukan keterwakilan dari semua pihak. Tidak hanya dari dokternya, perawat, tapi semua pihak, semua stakeholder yang ada. Di sana juga ada Pemda. Memang terlihat sederhana, namun efek yang akan timbul jika menyepelekan TBC, efeknya akan panjang. Dari sisi pengobatan, dari sisi pengawasan. Seperti kita tahu pengobatan TBC itu panjang.” Di sinilah diperlukan keterwakilan dan keterkaitan antar pihak hingga memberikan dampak positif bagi penanggulangan TBC di Kota Bekasi.

Kegiatan KOPI TBC akan banyak apabila masih terdapat bolong-bolong pada cakupan dan proses, namun kegiatan atau tugas itu akan berkurang apabila sistem sudah berjalan dengan baik.

KOPI TBC bukan sekedar formalitas, melainkan yang lebih penting adalah gerakan atau aksi nyata. Prinsip ini tergambar jelas pada penampilan dr. Anggarjito yang jauh dari kesan formal, karena bagi dirinya yang penting adalah aksi nyata, bukan sekedar penampilan yang dapat menipu mata.

Mari bikin aksi nyata, sambil ngopi bersama KOPI TBC!

Banjir Usai, Selalu Jaga Kesehatan dengan 5 Cara Berikut :

Banjir Usai, Selalu Jaga Kesehatan dengan 5 Cara Berikut :

Lembaga Kesehatan NU - Dikutip dari laman resmi BMKG, Deputi Bidang Meteorologi R Mulyono R Prabowo, mengatakan,hujan yang akan terjadi hari ini dan besok tidak se-ekstrem hujan yang terjadi pada tanggal 1 Januari 2020.

"Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti angin kencang, genangan, banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, dan jalan licin," ujar Mulyono.

Selain itu, pasang naik maksimum di Teluk Jakarta juga terjadi pada periode tanggal 9-12 Januari 2020 dengan ketinggian maksimum 0,6 meter. Kondisi ini berpotensi menghambat laju aliran air sungai masuk ke laut di Teluk Jakarta.

Meskipun itu, pastikan tetap menjaga kesehatan agar proses pemulihan dan pembersihan setelah banjir bisa dilakukan. Jadi, perhatikan beberapa tips agar tetap sehat saat banjir. Berikut Poin-poin yang sudah dihimpun dari Suara.com.

  1. Bersihkan peralatan makan dengan air panas

Saat banjir, kuman bisa menyebar melalui air yang tercemar dan mengontaminasi melalui peralatan makan. Jadi pastikan peralatan makan selalu dijaga kebersihannya dengan cara membilasnya dengan air panas sebelum dipakai, demikian dikatakan ahli gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD.

"Hati-hati dalam makan minum, terutama dari makanan, sebisa mungkin tidak sembarang makan. Beberapa parabotan yang terkena banjir, pastikan dibilas dengan air panas sebelum digunakan," ujar Prof. Sulaeman saat dihubungi Suara.com, Rabu (1/1/2020).

  1. Pastikan air minum direbus

Banyak orang mengandalkan air galon atau air kemasan untuk minum. Tapi patut diperhatikan asal atau sumber air kemasan. Menurut Prof. Sulaeman, minum air isi ulang yang tidak jelas asalnya, terlebih saat tanah sedang tergenang air, sangatlah tidak aman. Jadi, pastikan selalu merebus air sebelum diminum.

"Sebaiknya air minum adalah air yang direbus. Air galon, tergantung dari sumbernya. Jadi, pastikan air direbus sampai mendidih," jelasnya.

  1. Buah dan sayur dikupas dan dicuci air hangat

Makan sayur mentah atau lalapan mungkin jadi langkah praktis saat bahan makanan lain sulit didapat. Tapi saat banjir melanda, Prof. Sulaeman meminta untuk berhati-hatu makan lalapan. Ada baiknya lalapan lebih dulu direndam di dalam air hangat suam-suam kuku agar kumannya mati. Sedangkan untuk buah, pastikan setelah dicuci dikupas terlebih dahulu.

"Untuk makanan, pastikan buah selalu dikupas. Kondisi kita saat banjir juga kurang fit, jadi harus hati-hati dengan makanan. Kalau dalam kondisi biasa saja, sih, tidak apa-apa (makan lalap)," paparnya.

  1. Konsumsi vitamin C

Saat cuaca tidak menentu dan peredaran kuman dimana-mana, Prof. Sulaeman mengingatkan untuk memastikan daya tahan tubuh tetap stabil untuk mencegah kuman menginfeksi. Jadi, cobalah konsumsi vitamin C untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

"Hujan begini, asupan vitamin C harus cukup karena daya tahan tubuh kita menurun. Bisa vitamin C di suplemen, ataupun memperbanyak buah-buahan," katanya

  1. Jaga suhu tubuh tetap normal

Suhu tubuh tetap normal jadi tanda imuntas tubuh bisa bekerja maksimal saat melawan penyakit dan kuman, seperti halnya kolera dan flu yang kerap menyerang saat musim banjir. Jadi, pastikan selalu memakai baju hangat, dan pastikan selalu mengganti baju yang basah terkena hujan atau banjir. "Jaga suhu tubuh tetap normal jangan sampai kedinginan," tutup Prof. Sulaeman.

Hujan dan Banjir Melanda, Waspadai Penyakit-penyakit Ini

Hujan dan Banjir Melanda, Waspadai Penyakit-penyakit Ini

Info Kesehatan

Jakarta, NU Online

Tahun baru 2020 menjadi duka mendalam bagi masyarakat Indonesia, mengawali tahun diawal bulan Januari sejumlah daerah terutama di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten tertimpa banjir yang mengakibatkan rumah-rumah warga runtuh dan hancur.  Dokter Umum di Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mahesa Parandipa mengatakan selain menimbulkan permasalahan ekonomi dan sosial, banjir dapat menimbulkan permasalahan lain yang perlu diperhatikan yakni masalah kesehatan masyarakat terdampak banjir.

Berikut permasalahan kesehatan yang sering dialami ketika musim hujan dan musibah banjir:

Pertama, kata dia, penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Ia menuturkan, ketika musim penghujan, terjadi genangan air di mana-mana. Genangan air tersebut akan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.  Genangan air yang jernih akan menjadi tempat terbaik bagi perkembang biakan nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk ini merupakan perantara (vector) penularan virus Dengue dan virus Chikungunya.  Virus ini, kata Mahesa sering menimbulkan penyakit ketika musim penghujan dan banjir, misalnya Demam Berdarah dan penyakit Cikungunya. Penyakit  ditandai dengan demam tinggi serta bintik-bintik merah di kulit.  Sementara itu,  pada penyakit demam berdarah, kondisi pasien akan memburuk jika terjadi penurunan jumlah trombosit dalam darah dan dalam jumlah yang signifikan, karena mengakibatkan terjadi perdarahan di dalam tubuh. Sedangkan pada penyakit Chikungunya, ditandai dengan panas tinggi serta nyeri pada hampir seluruh persendian. Selanjutnya, selain nyamuk Aedes Aegypti, di beberapa daerah terdapat nyamuk jenis lain yang akan meningkat jumlahnya, yaitu nyamuk Anopheles yang menularkan parasite malaria. Penyakit itu ditandai dengan demam dengan pola demam tinggi-suhu tubuh menurun dan tubuh terasa menggigil.

Kedua, Diare. Mahesa menyebut di saat musim penghujan dan banjir, sumber-sumber air bersih akan tercemar, sampah serta kotoran akan banyak berserakan di mana-mana, banyak hewan-hewan pengerat atau hewan kecil yang mati karena tenggelam saat banjir melanda. Air yang tidak bersih tentu akan banyak mengandung bakteri.  Ia menjelaskan, sampah yang berserakan dan hewan yang mati tersebut menyebabkan bertambahnya jumlah lalat yang membawa bakteri kemudian hinggap di makanan atau minuman. Hal ini mengakibatkan kasus-kasus diare banyak terjadi.

"Ketiga, Demam Tifoid. Selain diare, penyakit saluran cerna lain yang sering terjadi saat musim penghujan dan banjir adalah demam tifoid atau tifus. Penyakit yang disebabkan masukkan kuman Salmonella Typhosa ke dalam saluran cerna melalui makanan atau minuman yang dikonsumsi," katanya saat diwawancarai NU Online,  Kamis (2/1). Ia mengatakan, gejala penyakit tidak khas, ditandai dengan demam tinggi lebih dari 390C, badan lemah, sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, sakit perut, dan pada kasus tertentu muncul penyebaran bercak merah muda (rose spot).

Penyakit keempat adalah Leptospirosis. Menurut Mahesa, saat banjir melanda, tikus-tikus yang banyak berdiam di selokan dan tempat-tempat kotor lain akan banyak keluar dari tempatnya dan berkeliaran kemana-mana. Bakteri Leptospira ditularkan oleh tikus melalui air kencing. Kulit yang mengalami luka rentan dimasuki bakteri ini pada saat kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi.   "Gejala penyakit ini ditandai dengan demam tinggi, nyeri otot, mual, sakit kepala, mata merah dan iritasi. Pasien biasanya membaik dalam waktu satu minggu, sebagian mengalami kondisi yang memburuk yang ditandai dengan gangguan fungsi hati, ginjal , dan jantung," ucapnya.  Kemudian, infeksi saluran pernafasan (Ispa). Penyakit kelima ini muncul saat musim penghujan dimana, kelembaban meningkat serta suhu udara sedikit lebih rendah dan menyebabkan daya tahan tubuh menurun.  Daya tahan tubuh yang menurun inilah yang menyebabkan seseorang gampang terinfeksi oleh virus maupun mikroba lainnya.  Infeksi paling banyak dialami adalah infeksi saluran pernafasan akut. Penyakit ini ditandai dengan tidak enak badan.

Dari Koin, NU Purbalingga Berhasil Bangun Klinik Kesehatan

Dari Koin, NU Purbalingga Berhasil Bangun Klinik Kesehatan

NU Purbalingga Bangun Klinik Kesehatan

Purbalingga, NU Online

Satu program yang berhasil diwujudkan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Karangmoncol, Purbalingga, Jawa Tengah, yakni membangun 'Klinik Kesehatan' dari pengumpulan kotak infaq (koin) sejak tahun 2017.   Bangunan berdiri megah di atas lahan yag merupakan wakaf dari orang tua Ketua DPC PKB Purbalingga H Slamet Wahidin dan sertifikat diserahkan saat peresmian klinik kesehatan pada Sabtu (26/10).

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Purbalingga H Selamet Wahidin mengatakan, dirinya mendapat amanah dari orang tuanya menyerahkan sebidang tanah untuk bangunan klinik kesehatan.   "Saya mendapat amanah dari kedua orang tua saya untuk untuk mewakafkan tanahnya jika sekiranya NU membutuhkan," ujarnya.    Dikatakan, ketika MWC NU akan membangun klinik saya segera mewakafkan tanah tersebut. Dengan harapan setelah klinik ini beroperasi semoga bermanfa'at buat masyarakat.    Selain wakaf sebidang tanah, MWCNU Karangmoncol juga menerima bantuan hibah satu unit ambulan dari Fraksi PKB DPRD Purbalingga yang penyerahannya diwakili Miswanto dan disaksikan Wakil Ketua PCNU Purbalingga KH Tofiq.    Ketua MWCNU Karangmoncol, Kiai Hafidz Husni mengatakan, pengumpulan uang koin mulai sejak tahun 2017 dan hingga bangunan klinik selesai terkumpul dana hingga miliaran.  "Untuk tenaga dan pekerja bangunan dibantu relawan dari warga NU, Ansor, dan Banser," paparnya.    Selain peresmian klinik kesehatan, dalam rangka Peringatan Hari Santri MWCNU Karangmoncol juga menggelar pawai ta'aruf dengan melibatkan seluruh santri pondok pesantren, siswa di lingkungan LP Ma'arif, badan otonom, dan warga NU se-Kecamatan Karangmoncol.   Camat Karangmoncol, Purbalingga Juli Atmadi sangat apresiasi kepada warga NU Karangmoncol yang berhasil membangun klinik kesehatan melalui pengumpulan koin sejak tahun 2017.   "Potensi besar di Kecamatan Karangmoncol Alhamdulillah dapat menghasilkan susuatu yang bermanfaat bagi umat dan pengurus NU berhasil mewujudkannya," ujarnya.   "Dan yang membanggakan, dengan cara mengumpulkan uang koin sampai bisa mendirikan sebuah bangunan klinik yang sebegini megahnya menghabiskan dana miliaran rupiah cukup dengan uang koin ini semua bentuk kepedulian dan kebersamaan warga NU," imbuhnya.    Maka sudah selayaknya lanjutnya, dengan sebutan NU gigih dalam perjuangan mengabdi buat agama dan bangsa. Kiai-kiai NU santri-santri NU, Ansor, dan Banser dengan penuh keikhlasan menumpas penjajah dengan sebutan Resolusi Jihad.  "Sampai sekarang perjuangan Ansor dan Banser dengan sukarela menjaga NKRI tanpa gaji dari siapapun bahkan seragampun beli sendiri. Dengan penuh harapan setelah berdirinya klinik NU bisa membantu kesehatan masyarakat dengan penanganan dan perawatan yang handal dan profesional," tuturnya.   Acara peresmian klinik yang dihadiri ribuan pengunjung, selain diawali pawai ta'aruf, momentum itu juga dimanfaatkan untuk pelantikan Pengurus MWCNU dan PAC Fatayat NU Karangmoncol  dengan menghadirkan Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh untuk memberikan mauidhah hasanah.

Kontributor: Hamka Baskara

Editor: Abdul Muiz Tags: #purbalingga #klinik nu #koin

Post Terbaru

Lembaga Kesehatan NU Kembangkan Kembali Kader Penanggulangan TBC

Lembaga Kesehatan NU Kembangkan Kembali Kader Penanggulangan TBC

Esty Febriani saat memberi sambutan Seminar Penanggulangan TB di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Selasa (10/12). (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online

Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI menggelar Seminar Penanggulangan Tubercolosis (TB) selama dua hari, Selasa sampai Rabu (10-11/12) di Hotel Acacia, Jakarta Pusat. Kegiatan ini dalam rangka meneguhkan kiprah NU dalam menanggulangi TB agar Indonesia terbebas darinya. Seminar ini diisi oleh Ketua PBNU H Syahrizal Syarif, Katib Syuriyah PBNU KH Miftah Faqih, dan perwakilan dari Perhimpunan Organisasi Pasien (POP) TB Indonesia Binsar. Adapun peserta yang mengikuti acara ini berasal dari lembaga dan banom NU, mahasiswa Unusia Jakarta, kader TB, kader Diabtes Mellitus (DM), dan region dan SSR DKI Jakarta.  Penangung Jawab Teknis Program TB, Esty Febriani, mengatakan bahwa Indonesia sangat berharap kepada NU agar membantu menanggulangi TB. NU menurutnya dipercaya karena selain memiliki anggota yang banyak, juga memiliki komitmen yang tinggi.  "Ini untuk mengembangkan kader-kader yang akan secara intensif membantu di dalam penuntasan TB di Indonesia," kata Esty. Untuk itu, katanya, melalui seminar ini, peserta dari lembaga dan banom NU, serta dari mahasiswa diundang. Seusai seminar, acara dilanjutkan dengan forum kecil. Lewat forum tersebut, kata Esty, pihaknya akan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan banom dan lembaga NU, serta mahasiswa Unusia Jakarta. Setelah teridentifikasi, nanti mengedukasi tentang TB. "Itu salah satu outputnya. Apakah nanti dengan Unusia kita juga melihat, di mana nih kita bisa masuk untuk memberikan edukasi tentang Tubercolosis, di mana saja," ucapnya. Ia juga menyatakan bahwa masih banyak pemuda yang belum mengetahui tentang TB. Padahal menurutnya, peran pemuda sangat penting karena bisa kampanye melalui media sosial. "Mereka itu bisa untuk edukasi karena mereka aktif gunakan media sosial. Mereka (bisa jadi) influencer," ucapnya. Sementara Sekretaris LKNU Citra Fitria mengungkapkan tentang peringkat Indonesia yang belum baik dalam hal TB. Rilis terakhir, Indonesia menempati rangking ke tiga di dunia di bawah India dan Cina. Ia berharap, melalui pertemuan ini, peserta dapat menjadi kader aktif, sehingga peringkat Indonesia bisa keluar dari tiga besar. "Ini (peringkat ke tiga di dunia) bukan prestasi yang bisa dibanggakan. Mudah-mudahan pertemuan ini bisa bermanfaat. Kehadiran ibu-ibu, bapak-bapak, dan saudara-saudara sekalian bisa berkontribusi buat bangsa Indonesia. Sekecil apapun kontribusi kita, inilah yang bisa kita berikan untuk bangsa kita," kata perempuan yang kerap disapa Civi itu.

Pewarta: Husni Sahal

Editor: Abdullah Alawi


 

Post Terbaru

Katib Syuriyah PBNU: NU Lahir untuk Turut Berperan Menata Dunia

Katib Syuriyah PBNU: NU Lahir untuk Turut Berperan Menata Dunia

KH. Miftah Faqih (Khatib Syuriah PBNU)
Jakarta, NU Online

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan  organisasi yang memiliki peran penting dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Peran itu tidak lepas dari kelahirannya yang bertujuan untuk menata dunia. Tak hanya itu, NU juga lahir demi kebahagiaan akhirat. Demikian disampaikan Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftah Faqih saat mengisi Seminar Penanggulangan Tubercolosis (TB) di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Selasa (10/12). Menurut Miftah, karena NU merupakan organisasi struktural, maka dalam menyelesaikan berbagai persoalan, NU selalu berkoordinasi dengan pengurus-pengurus yang ada di tingkat bawahnya. Begitu juga dalam upaya penanggulangan TB, LKNU sudah selayaknya menggandeng lembaga-lembaga yang berada di bawahnya. "Program ini adalah agenda, bukan proyek, di mana agenda ini memiliki kepentingan-kepentingan. Apa kepentingannya? Memanusiakan manusia: menghadirkan kemaslahatan bagi yang lain. Menghadirkan ketersambungan satu terhadap yang lainnya," katanya. Ia mengatakan bahwa yang menjadi tujuan NU dalam mewujudkan program-programnya hanya untuk kemasalahatan masyarakat. Oleh karena itu, menjadi tidak mengherankan karena dalam berbagai kesempatan, NU selalu ikut turun menangani berbagai bencana yang menimpa masyarakat. "Bencana apa pun: bencana kemiskinan, bencana kesehatan, bencana alam dan sebagainya, dan sebagainya dengan lembaga yang ada (di NU)," ucapnya. Ia menyatakan bahwa NU melalui LKNU telah berpartisipasi tidak hanya menanggulangi berbagai penyakit, seperti malaria, HIV AIDS, dan TB, tetapi juga menghilangkan stigma-stigma negatif dari masyarakat kepada penderita penyakit. "Demikian juga dengan TB, NU hadir untuk menghapuskan stigmatisasi dan bagaimana agar kehidupan sehat benar-benar menjadi orientasi semua orang. Memberikan siapa pun yang terkena TB itu mempunyai harapan hidup, bukan didiskriminasikan, tetapi di sini benar-benar diberikan harapan hidup karena dia pun juga manusia yang punya hak hidup. Nahdlatul Ulama berupaya untuk menghadirkan itu (memberikan harapan hidup kepada penderita penyakit)," terangnya. Selain Miftah, pembicara lain yang hadir ialah Ketua PBNU H Syahrizal Syarif dan perwakilan dari Perhimpunan Organisasi Pasien (POP) TB Indonesia Binsar. Adapun peserta yang mengikuti acara ini berasal dari lembaga dan banom NU, mahasiswa Unusia Jakarta, kader TB, kader Diabtes Mellitus (DM), dan region dan SSR DKI Jakarta.

Pewarta: Husni Sahal

Editor: Abdullah Alawi

Post Terbaru