NU Lakukan Empat Hal agar Program Kesehatan Dirasakan Masyarakat

NU Lakukan Empat Hal agar Program Kesehatan Dirasakan Masyarakat

Ketua PBNU H Syahrizal Syarif saat mengisi Seminar Penanggulangan Tubercolosis (TB) di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Selasa (10/12). (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Syahrizal Syarif mengemukakan empat hal yang akan dilakukan NU agar program-program kesehatan terlaksana dengan baik, sehingga manfaatnya dapat secara nyata dirasakan oleh masyarakat. Pertama, mengadvokasi peraturan atau kebijakan pemerintah terkait kesehatan. "Salah satunya yang tengah menjadi persoalan adalah BPJS. Saya tegas menyatakan bahwa untuk yang mandiri kelas 3 tidak boleh dinaikkan karena itu bentuk dari keberpihakan pemerintah kepada masyarakat. Jadi peraturan, kita harus terlibat dalam peraturan-peraturan advokasi," kata Syahrizal saat mengisi Seminar Penanggulangan Tubercolosis (TB) di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Selasa (10/12). Kedua, NU terus meningkatkan fasilitas kesehatan. Saat ini, katanya, NU memiliki Badan Pelaksana Kesehatan (BPN). BPN ini berfungsi mendampingi NU yang ada di tingkat wilayah atau cabang yang ingin mendirikan fasilitas kesehatan. "Nanti dikasih petunjuk bagaimana caranya membangun fasilitas kesehatan atau melihat kemungkinan-kemungkinan sumber daya untuk membangun kesehatan. Sekarang ini didirikan berbagai macam rumah sakit, didirikan minimal didirikan klinik pratama," katanya. Setelah fasilitas kesehatan berdiri, ia tidak perlu mengkhawatirkan keberlangsungannya karena kini, di NU  telah ada asosiasi Rumah Sakit NU (RSNU) dan Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU). Terkait keberadaan dokter di tubuh NU, ia bersyukur karena kini telah banyak dokter-dokter bermunculan dari NU. Hal itu dikatakannya berbeda jauh dibandingkan 30 tahunan yang lalu. Menurutnya, saat itu di PBNU yang menyandang gelar dokter hanya dua orang: Fahmi D Saifuddin dan dirinya. "Tapi sekarang Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama itu mengkonsolidasi kurang lebih 300 dokter spesialis. Tapi nanti kita tentu akan menggalang, mengkonsolidasi apoteker, mengkonsolidasi ahli kesehatan masyarakat, bidan, perwat, dan sebagainya. Kita bergerak ke arah sana satu-satu. Jadi saya kira, situasi ini kita akan bermitra di dalam pelayanan kesehatan yang bermutu," terangnya. Ketiga, kemampuan mobilisasi masyarakat. Sudah mafhum bahwa NU merupakan organisasi sosial keagamaan yang memiliki anggota terbanyak di Indonesia. Dengan jumlah yang banyak ini, maka program-program kesehatan dapat terwujud. Keempat, harus terlibat dalam komunikasi perubahan prilaku. Maksudnya adalah, terlibat dalam mengubah perilaku masyarakat agar hidup bersih dan sehat.

Pewarta: Husni Sahal

Editor: Abdullah Alawi

Post Terbaru

LKNU Advokasi Para Pengidap TBC Melalui Kader-Kader Muda

LKNU Advokasi Para Pengidap TBC Melalui Kader-Kader Muda

Esty Febriani Penanggung Jawab Teknis Program TBC
Repost, Laduni.id

Jakarta - Hingga kini, BATUK kerap dianggap sebagai salah satu jenis penyakit ringan yang jarang ditanggapi serius oleh banyak orang. Padahal batuk yang dianggap ringan ini bisa saja merupakan pertanda dari terjangkitnya seseorang oleh penyakit TBC atau Tuberculosis.

Indonesia mengalamai darurat TBC sudah sejak lama. Pasalnya TBC merupakan penyakit yang mudah menghinggapi siapa saja karena sifatnya yang menular. Indonesia, seperti diungkapkan oleh Dr. Esty Febriani M.Kes, SR-Khusus LKNU berada pada posisi 3 besar di dunia terkait banyaknya orang yang terjangkit TBC. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit TB bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.

“Indonesia berada di peringkat ke 3 terkait TBC, sebelumnya berada di peringkat ke 2. Kata Dr. Esty Febriani M.Kes (SR-Khusus LKNU) pada acara yang diselenggarakan oleh LKNU bekerjasama dengan Kementerian kesehatan dan TB Community, Selasa, 10/12/2019 di hotel Acacia.

Mengusung tema “Meneguhkan Kiprah Organisasi NU Dalam Program Penanggulangan TBC", Esty berharap agar berbagai elemen khususnya NU turut andil memberikan kontribusi dalam rangka menghentikan penyebaran TB serta upaya menanggulanginya.

“Mudah-mudahan dengan adanya kontribusi dari bapak ibu, saudara-saudara sekalian akan bisa menurunkan kembali rangkingnya supaya gak masuk 3 besar.” Ujarnya.

Esty mengungkapkan bahwa LKNU memiliki berbagai project yang didanai langsung oleh Global Fund. Tujuan dari project tersebut menurutnya guna mengembangkan kader-kader yang akan secara intensif membantu dalam menuntaskan prsoalan TBC.

“Jadi hal yang pertama kita lakukan adalah menemukan pasien TBC. Yang kedua mendampingi pasien hingga sembuh, yang ketiga advokasi. Jadi ini adalah bagian advokasi.” Tuturnya.

Meski begitu, Esti mengakui bahwa sampai saat ini untuk mengembangkan kader-kader TBC tak semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu tantangan yang dihadapi ialah minimnya peran para generasi muda dalam mensosialisasikan TBC.

“Kesulitannya mencari kader, karena mereka belum tahu. Insya Allah jika mereka diberi tahu dan mereka sudah mengerti, mereka akan melakukannya.” Ujarnya.

Ia meyakini bahwa dengan adanya proses edukasi untuk para anak muda, potensi yang mereka miliki mampu bermanfaat dalam rangka menyelesaikan berbagai problematika terkait TBC.

“Sementara sebenarnya mereka itu misalnya untuk edukasi, mereka aktif menggunakan sosial media sebagai influencer. Mereka itu key influencer sebenarnya bisa kita manfaatkan untuk memberikan edukasi.” Ungkapnya.

Post Terbaru

Ketua PBNU dr. Syahrizal Tegaskan Pentingnya Basis Komunitas Dalam Menyelesaikan Masalah TBC.

Ketua PBNU dr. Syahrizal Tegaskan Pentingnya Basis Komunitas Dalam Menyelesaikan Masalah TBC.

dr. H. Syahrizal Syarif, MPH., Ph.d (Ketua PBNU).
Repost LADUNI.ID,

Jakarta - Ketua PBNU dr. H. syahrizal syarif, MPH., Ph.D menyebut hingga hari ini penyakit Tuberclosis (TBC) masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat di berbagai penjuru dunia. Pasalnya penyakit yang disebabkan oleh microorganism ini mampu membunuh jutaan manusia dibandingkan konflik bersenjata maupun konflik politik.

“Jadi berita buruknya adalah sampai hari ini kita masih terus akan menghadapinya.” Ungkapnya dalam acara seminar yang bertajuk “Meneguhkan Kiprah Organisasi NU Dalam Program Penanggulangan TBC" di hotel Acacia, pada Selasa, 10/12/2019.

Berkaca pada situasi yang pernah terjadi di Amerika, Rizal menampik anggapan di masyarakat bahwa penyakit TBC susah untuk dihilangkan. Pasalnya kurun tahun 1992 hingga tahun 2018, Amerika telah memulai program intensif dalam rangka menurunkan angka penderita TBC dan berhasil turun di angka yang drastis. Ia pun meyakini bahwa dengan tekad yang kuat, Indonesia juga mampu menekan angka para pengidap TBC.

“Jadi kalau ada orang bilang Tb susah dihilangkan itu tidak.” Tuturnya.

LKNU, lanjutnya, ketika bekerjasama dengan USAID dan 8 negara di tahun 2012 telah berhasil membuktikan kerja kerasnya dalam membuka hampir 30% kasus baru yang terjadi di Indonesia. Berbeda halnya dengan 7 negara lainnya yang ikut berpartisipasi dalam program tersebut yang dinilai USAID tidak memberikan dampak yang signifikan karena hanya berdampak kepada pengurangan stigma negatif terhadap pengidap TB, namun upaya tersebut belum menyentuh pada upaya membuka kasus-kasus baru TBC di negara mereka.

Atas upaya tersebut, syahrizal pun memberikan apresiasi kepada LKNU atas kerja-kerja kemanusiaan yang telah dilakukan.

“Kepercayaan kepada LKNU ini harus dijaga. Di dunia, civil society yang memberi dampak besar dan punya jaringan kuat di dunia salah satunya yang diakui oleh USAID adalah LKNU.” Ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Syahrizal juga menyampaikan pentingnya basis komunitas. Karena menurutnya problem terbesar yang masih dihadapi hingga hari ini adalah menemukan kasus yang baru.

“Saya ingin sampaikan juga bahwa ini penting karena memang untuk mengatasi TB tidak mungkin (sendiri), harus memiliki base. Harus melakukan basis aktif. LKNU melakukan ketok pintu. Nah itu yang menurut saya pendekatan yang luar biasa. Karena itu mengangkat kasus baru yang cukup besar dan sangat bermanfaat.” Ungkapnya.

Ia pun meminta kepada pemerintah agar memberikan kepercayaan pada community base seperti NU Muhammadiyah. Karena baginya, community base hanya memiliki komitmen namun terbatas di pendanaan.

“Memang harus bermitra bersama”. Tuturnya.

Acara yang diselenggarakan oleh LKNU bekerjasama dengan Kementerian kesehatan melalui TB Community ini berlangsung selama 2 hari dan dihadiri oleh berbagai organisasi pemuda, Lembaga dan Banom NU.

Post Terbaru

LKNU sebut Kota dan Kabupaten Cirebon Wilayah Endemik Tuberkulosis

LKNU sebut Kota dan Kabupaten Cirebon Wilayah Endemik Tuberkulosis

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON

Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Cirebon menilai Kota dan Kabupaten Cirebon merupakan wilayah endemik TBC.

Pasalnya, temuan kasus TBC di dua daerah itu tergolong cukup banyak.

"Luas wilayahnya segitu sedangkan jumlah kasusnya mencapai ribuan itu termasuk wilayah endemik TBC," kata Wahyono An Najih saat ditemui usai Peringatan Hari TBC 2019 di Goa Sunyaragi, Jl Brigjend Dharsono, Kota Cirebon, Jumat (12/4/2019).

Ia mengatakan, berdasarkan data Dinkes Kota Cirebon temuan kasus TBC selama 2018 mencapai 1352 kasus.

Sementara data Dinkes Kabupaten menyebutkan temuan kasusnya mencapai 7000-an.

Selain itu, kasus TBC juga dinilai menjamur karena penyebarannya merata di tiap kecamatan di Kota dan Kabupaten Cirebon.

Karenanya, pihaknya berharap seluruh elemen masyarakat Cirebon aktif dan sadar TBC sedari dini.

"Gejala TBC yang paling mudah itu jika batuk disertai dahak selama lebih dari dua minggu, segera periksa ke dokter," ujar Wahyono An Najih.

Menurut dia, LKNU mempunyai 176 kader TBC di Kota dan Kabupaten Cirebon yang selalu melakukan asesmen di lapangan.

Mereka akan mendatangi pasien TBC dan orang-orang sekitarnya untuk mencegah penularan TBC.

"Para kader itupun selalu bersinergi dengan jajaran Dinkes dan Puskesmas di tiap kecamatan," kata Wahyono An Najih.

Post Terbaru

Diabetes dapat Disembuhkan dengan Cara Berikut

Diabetes dapat Disembuhkan dengan Cara Berikut

Sidoarjo, NU Online

Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, Jawa Timur menggelar seminar awam bertajuk ‘Sehat dan Bugar bagi Penderita Diabetes’. Kegiatan berlangsung di ruang Darun Na'im lantai tiga rumah sakit setempat, Sabtu (26/10).   Direktur RSI Siti Hajar Sidoarjo, dokter H Sulistio mengatakan bahwa seminar awam ini bertujuan untuk mengedukasi pasien maupun keluarga pasien agar menjaga kesehatnnya dengan baik.   "Penyuluhan ini sifatnya untuk mengedukasi atau membimbing bapak maupun ibu dengan topik berbeda. Misal, saat ini tentang diabet. Topik lain di antaranya tentang tekanan darah tinggi, penyakit tulang otot dan masih banyak lagi kegiatan seminar lainnya," kata dokter Sulis, sapaan akrabnya.   Menurutnya, angka penyakit diabet dari tahun ke tahun terus bertambah. Di Puskesmas, di klinik perawatan, maupun di RSI Siti Hajar sendiri, penderita penyakit diabet mulai banyak dilakukan penanganan.   Beberapa bulan terakhir, pasien yang dirawat di rumah sakit dengan fasilitas BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) ini bila kondisinya sudah stabil akan dirujuk kembali ke klinik perawatan awal. Karena memang aturannya seperti itu.    “Bagi yang belum stabil akan dirawat, tapi yang sudah bagus dikembalikan ke dokter FKTP atau fasilitas kesehatan tingkat pertama," ujarnya.   Ia menegaskan, pasien yang menderita penyakit diabetes jangan menyerah. Akan tetapi harus semangat melakukan aktivitas sehari-hari, agar hidupnya lebih bagus. Bahkan dirinya menyarankan, pasien diabetes agar mengatur pola hidup dengan baik. Sehingga kondisi kadar gula akan membaik pula.   Pihaknya berharap, dengan adanya penyuluhan ini bisa menjadi nilai tambah, agar pasien maupun keluarga pasien dapat menjaga kesehatan, mengubah pola hidup agar semakin segar dan bugar serta tidak ada penyakit jangka panjang.   "Setelah dari sini, ilmunya bisa ditransfer kepada keluarga agar menjaga kesehatan dengan baik," pesannya. Lebih lanjut ia menjelaskan, beberapa faktor risiko menjadi diabet yaitu faktor genetik, kegemukan, indek masa tubuh, pola makan, gaya hidup dan lain sebagainya.   Jika laki-laki lingkar perutnya 90 cm atau lebih, itu dikhawatirkan menderita diabet. Jika hal itu terjadi, maka segera olahraga dan lemaknya dibuang. Sementara perempuan lingkar perutnya 80 cm.    “Cara lain yang bisa dilakukan yaitu membatasi minum teh pagi hari, minum sirup, makanan manis dan sebagainya. Olahraga ringan jalan kaki supaya dilakukan agar tidak gampang sakit," tegasnya.   Pada seminar ini hadir dua narasumber yang ahli dan profesional di bidang diabetes, yakni dokter Atik Yuniani dan dokter Dewi Retno Ningsih.   Dokter Atik Yuniani memaparkan, waktu makan bagi penderita diabetes lebih baik dengan porsi kecil, namun dibagi dalam beberapa waktu makan. Hal tersebut agar gula darah stabil.   Menururnya, setiap orang punya pola makan sendiri-sendiri. Karenanya harus diesuaikan dengan pola makan yang sudah ada.    “Lakukan olahraga yang teratur 3 hingga 4 kali dalam sepekan,” ungkapnya. Artinya hal itu dilakukan rutin sebisa mungkin. Mau setiap hari juga boleh, dengan disesuaikan kondisi masing-masing orang. Kalau yang mau senam boleh, jalan kaki juga boleh. Hindarilah tidur setelah makan juga kebiasaan malas bergerak, lanjutnya.   Beberapa gejala diabetes, di antaranya pandangan mata kabur, gatal-gatal terutama di bagian dalam, cepat lelah atau mengantuk, luka sulit sembuh, sering kencing, mudah lapar dan haus, serta kesemutan.

Post Terbaru

LKNU Pekalongan Menggelar Pengobatan Gratis, Walikota Meminta Kegiatan ini Rutin Dua Minggu Sekali

LKNU Pekalongan Menggelar Pengobatan Gratis, Walikota Meminta Kegiatan ini Rutin Dua Minggu Sekali

Pengobatan Gratis Oleh LKNU Pekalongan.

Pekalongan, NU Online

Wali Kota Pekalongan, Jawa Tengah HM Saelany Mahfudz meminta kepada Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU), Rabithah Alawiyah, dan Dinas Kesehatan Kota Pekalongan lebih sering melakukan kegiatan pengobatan gratis minimal dua minggu sekali. "Saya meminta ketiga pihak ini yakni LKNU, Rabithah Alawiyah, dan Dinas Kesehatan lebih banyak terjun ke masyarakat untuk menggelar kegiatan pengobatan. Minimal dua pekan sekali. Mengingat program ini sangat bermanfaat dan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," ujarnya. Hal itu disampaikan Wali Kota Pekalongan pada acara pengobatan gratis yang digelar LKNU, Rabithah Alawiyah, dan Dinkes Kota Pekalongan di Kelurahan Padukuhan Kraton, Kecamatan Pekalongan Utara, Ahad (27/10). Dikatakan, kegiatan pengobatan gratis sebagi bentuk dakwah bil hal yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat dan inilah pola yang seharusnya dibangun oleh NU dan Rabithah Alawiyah. “Dakwah tidak sekedar menyampaikan dengan lisan semata. Akan tetapi, bisa dilakukan dengan tindakan nyata seperti kegiatan pengobatan gratis ini dan pemerintah siap memfasilitasi, baik obat-obatan maupun tenaga medisnya,” ungkapnya. Disampaikan, meski sudah ada Puskesmas yang dekat dengan warga. Masyarakat nampaknya masih cukup antusias memanfaatkan program pengobatan gratis untuk berobat. "Ini harus dimanfaatkan pegiat kesehatan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya di kawasan rob di Pekalongan Utara. Apalagi di sini ada bekam dan ruqyah aswaja yang tidak dijumpai di Puskesmas," tegasnya. Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan, H Ahad Tubagus Surur mengatakan, kegiatan NU Peduli Kesehatan melalui LKNU diharapkan dapat membantu masyarakat kelas bawah. "Program ini sudah dilakukan beberapa kali bekerjasama dengan Rabithah dan Pemerintah Kota Pekalongan dan Alhamdulillah responsnya cukup baik," paparnya. Panitia kegiatan pengobatan gratis Agus Rofiqi kepada NU Online, Senin (28/10) mengatakan, kegiatan pengobatan yang berakhir pukul 12.30 WIB diikuti oleh 135 peserta dengan beragam pengobatan medis dan non medis. “Alhamdulillah, tim pengobatan gabungan dari LKNU, Rabithah Alawiyah, dan Dinkes Kota Pekalongan berhasil melayani peserta dengan jenis pengobatan medis. Sedangkan yang non medis berupa ruqyah aswaja dan bekam,” paparnya. Usai membuka kegiatan pengobatan gratis, Wali Kota beserta rombongan mengunjungi dan menyapa peserta yang sedang memeriksakan penyakitnya, serta menyapa dokter, dan para medis. Di tengah kunjungannya, Wali Kota juga menyempatkan permintaan dokter, panitia, dan peserta untuk foto bersama sebelum meninggalkan lokasi pengobatan.

Post Terbaru

Ini Harapan Ketua Umum Arsinu kepada Menteri Kesehatan RI

Ini Harapan Ketua Umum Arsinu kepada Menteri Kesehatan RI

Ketua ARSINU

Jombang, NU Online

Beberapa hari lalu Presiden RI melalui hak prerogatifnya telah memilih, menetapkan dan mengambil sumpah sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju. Salah satu yang dikukuhkan adalah Menteri Kesehatan RI yang dipercayakan kepada Letjen (Pur) dr Terawan Agus Putranto.    Menanggapi hal tersebut, HM Zulfikar As’ad selaku Ketua Umum Arsinu atau Asosiasi Rumah Sakit Nahdlatul Ulama menaruh harapan besar terhadap kian membaiknya perhatian terkait kesehatan masyarakat.   “Sebelumnya kami mengucapkan selamat atas terpilihnya dokter Terawan Agus Putranto sebagai Menteri Kesehatan RI di Kabinet Indonesia Maju periode 2019 hingga 2024,” katanya kepada NU Online di kediamannya di Jombang, Jawa Timur, Jumat (25/10).   Gus Ufik, sapaan akrabnya mengemukakan bahwa secara pribadi telah mengenal sosok sang menteri. Hal tersebut lantaran dulu pernah satu almamater saat menempuh pendidikan di Yogyakarta.   “Kebetulan dokter Terawan Agus Putranto adalah adik kelas satu tingkat saat menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta,” terang pria yang juga diamanahi sebagai Wakil Ketua Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.    “Yang saya tahu, bapak menteri memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki figur lain.  Melalui media ini saya mengajak agar kita senantiasa berprasangka baik sekaligus berharap agar program yang disentuh tidakkah hal-hal klinis semata,” harapnya.    Hal yang harus menjadi perhatian adalah program atau kebijakan upaya promotif dan prefentif termasuk juga stunting. “Sehingga Indonesia bukan menjadi bangsa yang suka berobat, tetapi menjadi bangsa yang menjadikan sehat sebagai gaya hidup atau life style,” ungkapnya.   Dalam pandangan salah seorang Wakil Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang ini, kesehatan sebetulnya sangat diperhatikan para ulama pendiri NU. Hal ini dapat dilihat dari Anggaran Dasar saat jamiyah ini didirikan tahun 1926.   “Karena di sana sudah menyebutkan akan pentingnya kesehatan di samping pendidikan dan masalah sosial keagamaan untuk diperhatikan,” jelasnya. Oleh sebab itu, dirinya berharap agar masalah kesehatan betul-betul dapat menjadi perhatian yang lebih, dibandingkan dengan periode lalu, lanjutnya.    Hal mendesak yang juga harus dilakukan antara lain menggerakkan dan mengaktifkan program Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu dan memfungsikan kembali Pusat Kesehatan Masyarakat yakni Puskesmas sebagai penanggung jawab program. Lantaran belakangan ini telah terjadi salah kaprah dimana Puskesmas menjadi rumah sakit kecil yang juga melaksanakan upaya kuratif.    “Tidaklah salah kalau hal itu diperuntukkan untuk daerah terpencil yang belum ada fasilitas rumah sakit yang memadai. Tetapi di kota-kota besar sebaiknya fungsi promotif dan prefentif diutamakan,” terangnya. Dengan itu maka diharapkan masyarakat memiliki paradigma sehat yang dapat mempengaruhi anggaran sebagaimana saat ini menjadi sangat berat, lanjutnya.    Hal lain tentunya, harus juga diperhatikan tentang rumah sakit berkaitan kualitas pelayanan dan hubungan dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan atau BPJS.    “Kementerian kesehatan harus hadir pada setiap kebijakan yang dikeluarkan BPJS dengan duduk bersama sebelum kebijakan diberlakukan. Baik untuk rumah sakit milik pemerintah atau daerah maupun swasta,” tandasnya. Repost (NU Online).

Post Terbaru

Mengantisipasi Gangguan Kesehatan Akibat Kabut Asap, LKPBNU Distribusikan Masker N95 Di Provinsi Riau dan Kepri

Mengantisipasi Gangguan Kesehatan Akibat Kabut Asap, LKPBNU Distribusikan Masker N95 Di Provinsi Riau dan Kepri

Foto by Wahyu TIM LKNU INHIL

Jakarta - Prihatin dengan kabut asap yang terjadi beberapa waktu lalu di Riau dan Kepulauan Riau (Kepri), Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKPBNU) mendistribusikan masker N95 melalui tim IU (Implementing Unit) LKNU Riau dan Kepri. Sekitar 1500 masker dibagikan kepada kader di Kota Pekanbaru, Dumai, Bengkalis, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, Tanjung Pinang, Batam dan Karimun.

“Tim dan kader pegiat TBC tidak bisa melakukan aktivitas penemuan kasus untuk sementara waktu dikarenakan efek dari kabut asap dari kebakaran hutan. LKNU berharap dengan adanya bantuan masker, dapat meminimalisir gangguan pernapasan,” ungkap Elina dari tim pusat LKNU.

Akibat dari kabut asap, beberapa gangguan pernapasan  yang dapat terjadi antara lain Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, paru-paru dan penyakit pernapasan lainnya. Berdasarkan data yang dimuat melalui situs National Geographic Indonesia di bulan September 2019, jumlah warga yang terserang ISPA di Riau sebanyak 275.793 orang. Mayoritas korban penderita ISPA adalah anak-anak yang rentan terhadap suatu penyakit. (TSA/Red)

Pembagian Masker by Wahyu

Post Terbaru

LKNU Rembang Turut Berkontribusi Memberikan Bantuan Air untuk Warga Terdampak Kekeringan

LKNU Rembang Turut Berkontribusi Memberikan Bantuan Air untuk Warga Terdampak Kekeringan

LKNU Rembang Memberikan Bantuan Air Bersih

Rembang, nurfmrembang.com

Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Rembang memberikan bantuan air bersih kepada warga di Kabupaten Rembang yang terdampak musibah kekeringan. Penyaluran bantuan air bersih perdana dilakukan di Desa Pedak Kecamatan Sulang, Rembang pada Sabtu (21/9/19).

Ketua LKNU Rembang, Agus Setiyohadi mengatakan, kegiatan penyaluran bantuan air bersih semacam itu telah menjadi salah satu agenda program kegiatan sosial tahunan LKNU Rembang. Kali ini bekerja sama dengan pihak Bank Pasar Rembang.

“Jadi LKNU bekerja sama dengan Bank Pasar, mengadakan bakti sosial droping air bersih. Ini merupakan salah satu agenda kegiatan LKNU yakni melakukan dropping air bersih,” kata Agus.

Ada sebanyak 25 titik yang nantinya mendapatkan bantuan dropping air bersih dari LKNU. Terbagi di 5 kecamatan, diantaranya Kecamatan Sulang, Bulu, Sumber, Rembang kota dan Kaliori. Masing-masing kecamatan terdapat 5 Desa terdampak kekeringan yang menjadi sasaran dropping.

“Kita menyiapkan 50 tangki untuk 25 titik penyaluran. Pembagiannya, kita sudah petakan ada 5 wilayah MWC NU, yakni Kecamatan Sulang, Bulu, Sumber, Kaliori, dan Rembang kota. Masing-masing MWC ada 5 Desa yang menerima. Sehingga per titik ada alokasi 2 tangki,” jelasnya.

Ma’ruf, warga Desa Pedak, mengaku bersyukur mendapatkan bantuan air bersih dari LKNU Rembang. Ia bercerita, kondisi kekeringan telah melanda wilayah Desa Pedak sejak bulan Agustus kemarin.

“Sudah sejak awal Agustus kemarin mulai kekeringan, apa-apa ya susah. Biasanya kami ambil air harus di tengah sawah yang ada kalinya disana, sekitar 2 kilometer. Sangat bersyukur sekali bisa dapat bantuan ini. Harapannya ya bisa terus secara berkelanjutan,” akunya. (DM38)

 

Post Terbaru

Pola dan Cara Makan Rasulullah

Pola dan Cara Makan Rasulullah

Bagian Pertama

Pola dan Cara Makan Rasulullah
Makanan dan minuman merupakan kebutuhan dasar dan pasti diperlukan dalam situasi dan kondisi apa pun. Bahkan, keduanya merupakan rahasia kehidupan dan salah satu nikmat besar yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya. Dalam banyak ayat, Allah telah menjelaskan bahwa makanan merupakan nikmat dan anugerah besar yang diberikan kepada kita.
Di antaranya adalah ayat yang menyatakan, “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-mayur, yaitu dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu,” (QS Abasa [80]: 24-32).
Untuk memenuhi kebutuhan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan sejumlah pedoman atau acuan perihal makanan, termasuk bagaimana cara makannya yang selayaknya kita pedomani. Sebab sudah barang tentu setiap informasi yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyimpan banyak hikmah dan rahasia. Cukup banyak hadits yang berbicara tentang pedoman ini. Namun, dalam tulisan ini hanya akan disajikan sebagiannya saja, sedangkan sisanya akan disampaikan pada kesempatan berikutnya. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa perut bukanlah wadah yang siap diisi apa saja sesuai keinginan kita. Sekalipun ia diisi, tidak boleh berlebihan sehingga melebihi batas kemampuannya, sebagaimana dalam hadits, “Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang dia harus lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk napas,” (HR Ahmad).
Dengan demikian, yang terpenting perut kita terisi makanan halal yang dapat menjaga kelangsungan hidup. Sebab, bila tidak, kita sendiri yang rugi. Di kala perut kita kekenyangan, misalnya, kita menjadi mengantuk, malas beraktivitas, termasuk malas beribadah, sehingga kemudian kita menjadi kurang poduktif dan dalam jangka panjang berat badan kita menjadi berlebih (obesitas), lebih prihatin lagi di akhirat kekurangan amal.
Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan agar kita tidak rakus dan tidak memasukkan berbagai jenis makanan ke dalam perut. Hal ini sejalan dengan kebiasaan Nabi yang menyebutkan bahwa beliau tidak pernah makan banyak, tidak pernah makan sampai kenyang, atau tidak memperbanyak ragam makanan. Bahkan, saat istrinya tidak masak makanan beberapa hari, beliau cukup berpuasa dan menyantap roti saja.
Hal ini juga ditunjang oleh temuan-temuan dalam dunia pangan dan ilmu gizi bahwa ada beberapa makanan yang tidak boleh dikonsumsi secara bersamaan karena memiliki zat kimia yang justru akan menimbulkan efek negatif dan membahayakan bagi tubuh. Buah-buahan misalnya, sebaiknya tidak dikonsumsi dengan susu. Sebab, umumnya buah-buahan bersifat asam (memiliki PH rendah) sehingga bila bercampur dengan makanan lain dapat menyebabkan fermentasi dalam lambung. Demikian pula kedelai tidak boleh dimakan bersamaan bayam, kedelai dengan bawang hijau, susu kedelai dengan telur, susu dengan cokelat, daging dengan semangka, daging dengan cuka, dan sebagainya.
Ketiga, jika kita menghadiri suatu undangan yang di dalamnya disajikan makanan, sebaiknya tidak mengajak orang lain untuk memenuhi sebuah undangan tersebut kecuali atas izin orang yang mengundangnya. Abu Mas’ud meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki Anshar yang akrab disapa Abu Syu’aib datang. Kemudian, dia bilang kepada pelayannya yang bernama Qashab, “Sediakanlah makanan untuk lima orang. Aku ingin mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di antara mereka berlima. Sebab, aku mengetahui rasa lapar di raut wajah mereka.” Abu Syu‘aib pun kemudian mengundang mereka. Namun, ada seorang lelaki yang datang bersama kelima tamu itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda, “Lelaki ini ikut bersama kami. Jika menghendaki, engkau boleh mengizinkannya. Dan jika menghendaki, engkau boleh menyuruhnya pulang,” (HR al-Bukhari). Abu Mas‘ud menambahkan, Abu Syu‘aib pun mengizinkannya.
Keempat, pada saat makan kita dianjurkan untuk berkumpul, mengerumuni makanan, dan tidak berpencar darinya. Wahsyi ibn Harm mengatakan bahwa sejumlah sahabat bertanya, “Wahai Rasul, kami makan tapi tidak merasa kenyang.” Beliau menjawab, “Mungkin kalian berpencar (saat makan)?” Mereka berkata, “Iya.” Beliau kembali berkata, “Maka berkumpullah di sekitar makanan kalian. Sebutlah asma Allah (basmalah). Dengan begitu, Dia akan memberi keberkahan kepada kalian,” (HR Abu Dawud). Beliau juga bersabda, “(Jika berkah) makanan untuk seorang pun jadi cukup untuk berdua. Makanan untuk berdua cukup untuk berempat. Dan makanan untuk berempat cukup untuk delapan orang,” (HR Muslim).
Ketiga, jangan makan makanan orang-orang yang sedang berlomba-lomba menyembelih hewan. Dalam hal ini, Ibnu ‘Abbâs meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan makanan orang-orang Arab yang berlomba menyembelih hewan (HR Abu Dawud).
Maksudnya, mereka berlomba di sini adalah adu banyak menyembelih hewan. Ketika itu ada dua orang laki-laki yang bersaing dalam hal kebaikan dan kedermawanannya. Salah seorang dari mereka menyembelih unta dan lelaki yang lain juga menyembelihnya, sampai salah satu di antara mereka tidak mampu melakukannya. Namun, perbuatan itu hanya sekadar riya dan mencari popularitas. Dengan menyembelih untanya, mereka tidak bermaksud mencari keridaan Allah, sehingga perbuatan itu serupa dengan orang yang menyembelih hewan bukan karena Allah. (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).
Termasuk ke dalam kategori ini adalah daging hewan yang disembelih tidak menyebut asma Allah dan sembelihan orang-orang musyrik, sebagaimana dalam ayat, "Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah," (QS al-Nahl [16]: 115).
Keempat, jika kita memiliki makanan, sangat dianjurkan yang memakan makanan kita adalah orang yang saleh dan bertakwa. Abu Sa’id al-Khudzrî meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang yang beriman, dan janganlah ada yang makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” Sudah barang tentu, makanan yang diberikan kepada mereka akan menolong ketaatan dan ibadah mereka.
Kelima, hendaknya tidak makan di khawân atau tempat tinggi yang dipersiapkan untuk makan, seperti meja makan. Anas ibn Mâlik meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Nabi Allah tidak pernah makan di khawân dan sakrajah. Tidak pula ia makan roti yang dikeringkan,” (HR al-Bukhari).
Sakrajah adalah wadah kecil yang memuat makanan ringan, seperti lalapan atau makanan penambah selera. Namun, hadits ini bukan berarti mengharamkan makan di meja makan atau di tempat tinggi lainnya, melainkan sebatas sunah bahwa makan sebaiknya dilakukan di atas tanah sebagaimana yang biasa dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. 
Keenam, tidak makan sambil terlentang atau makan di tempat yang tersedia makanan yang haram. ‘Umar meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan di tempat yang disajikan minuman keras. Begitu pula beliau melarang seseorang makan sambil menelungkupkan perutnya. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).
Ketujuh, tidak bersandar pada saat makan. Abu Juhaifah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku tidak pernah makan sambil bersandar.” Ibnu ‘Amr juga menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah terlihat makan sambil bersandar,” (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).
Istilah “bersandar” ini tentu mencakup segala bentuk duduk yang dilakukan sambil bersandar atau menyandarkan bagian tubuh tertentu kepada sesuatu yang lain. Cara ini dimakruhkan atau dianggap kurang baik karena memperlihatkan duduknya orang yang sedang lahap dan nafsu makan. Akibatnya seseorang tidak bisa mengontrol daya tampung perutnya sehingga jadi membesar atau membuncit. (Lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353).
Karena itu, posisi duduk yang dianjurkan pada saat makan adalah menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki, atau menegakkan betis dan paha kanan dan menduduki kaki yang kiri. (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, Beirut: Darul Ma‘rifah], 1379 H, jilid 9, hal. 542).
Bersambung .....