Boleh Tidak YA Donor Darah saat Puasa ?

Boleh Tidak YA Donor Darah saat Puasa ?

Hukum Donor Darah saat Puasa

Oleh : Ustadz M. Mubasysyarum Bih.

Repost NU Online.

Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk disimpan di bank darah sebagai stok darah untuk kemudian digunakan untuk transfusi darah. Proses donor darah tidak bisa dilepaskan dari injeksi pada bagian tangan. Bagaimana bila aktivitas tersebut dilakukan saat puasa? Batalkah puasanya?

Mendermakan kebaikan untuk orang lain dalam bentuk apa pun merupakan hal yang dianjurkan oleh agama. Donor darah termasuk di antaranya. Allah memerintahkan agar kita saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Nabi juga menegaskan seseorang yang menghilangkan kesusahan saudaranya di dunia, Allah kelak akan menghilangkan penderitaannya di akhirat.

Donor darah yang dilakukan dengan proses injeksi di bagian tangan, tidak dapat membatalkan puasa. Sebab tidak ada benda yang masuk ke anggota tubuh bagian dalam melalui rongga terbuka. Donor darah tidak lebih merupakan proses melukai tubuh yang tidak mempengaruhi keabsahan puasa, sama seperti melukai tubuh dengan batu, jarum, pisau atau benda-benda lainnya. Bedanya kalau donor darah tidak berdosa, karena melukai tubuhnya berdasarkan kebutuhan yang dibenarkan syariat, sedangkan melukai tubuh tanpa ada tujuan yang jelas hukumnya haram.

Donor darah tidak memiliki ketentuan hukum yang sama dengan hijamah (bekam), yaitu metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah statis (kental) yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah darinya. Hijamah menurut mayoritas Ulama Madzahib al-Arba’ah tidak membatalkan puasa. Sedangkan menurut mazhab Hanabilah membatalkan puasa, baik bagi orang yang membekam atau yang dibekam.

Bila merujuk pendapat mayoritas ulama, maka persoalan menjadi jelas bahwa donor darah tidak membatalkan puasa sebagaimana bekam. Demikian pula ketika berpijak dari pendapat Hanabilah, donor darah tidak membatalkan puasa.

Syekh Manshur bin Yunus al-Bahuti, salah seorang pembesar ulama Hanabilah, membedakan antara hijamah dan tindakan melukai tubuh lainnya. Menurut al-Bahuti, melukai tubuh dengan selain hijamah tidak dapat membatalkan puasa karena dua alasan. Pertama, tidak ada nashnya. Kedua, tidak didukung analogi (qiyas) yang mapan.

Beliau dalam karya monumentalnya, Kassyaf al-Qina’ berkata:

“Dan tidak batal puasa bila orang yang berpuasa melukai dirinya atau dilukai orang lain atas izinnya dan tidak ada sesuatu apapun dari alat melukai yang sampai ke bagian tubuh bagian dalam, meski tindakan melukai sebagai ganti dari hijamah. Tidak pula membatalkan puasa disebabkan al-Fashdu (mengeluarkan darah dengan merobek otot), al-Syarthu (menyayat kulit untuk menyedot darah), dan mengeluarkan darah dengan mimisan. Sebab tidak ada nash (syariat) di dalamnya sedangkan metode qiyas tidak menuntutnya” (Syekh Manshur bin Yunus al-Bahuti, Kassyaf al-Qina’, juz 2, hal. 320).

Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam karya fiqihnya yang mengomparasikan berbagai mazhab mengklasifikasi tindakan melukai tubuh selain hijamah ke dalam hal-hal yang tidak dapat membatalkan puasa. Beliau tidak menyebutkan terdapat ikhtilaf ulama dalam persoalan ini, berbeda dengan hijamah yang disebutkan ikhtilafnya. Beliau menegaskan:

“Orang yang berpuasa tidak batal dengan hal-hal sebagai berikut; dan mengeluarkan darah sebab mimisan, melukai diri atau dilukai orang lain atas seizinnya dan tidak ada sesuatu dari alatnya yang masuk pada lubang tubuh, meski sebagai ganti dari hijamah, sebab tidak ada nash di dalam hal tersebut dan qiyas tidak menuntutnya”. (Syekh Wahbah al-Zuhaili, al-FIqh al-Islami wa Adillatuhu, juz 3, hal. 1730).

Demikian penjelasan mengenai hukum donor darah bagi orang yang berpuasa. Semoga bermanfaat.
Salam Sehat.

Permenkes No.84 Th 2018

Permenkes No.84 Th 2018

Peraturan : Permenkes No.84 Tahun 2015 tentang Pedoman Pengembangan Peran Serta Organisasi Kemasyarakatan Bidang Kesehatan

Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Resmikan Berdirinya Asosiasi Rumah Sakit NU

Oleh Reporter: Tempo.co
Editor : TSA
Repost Tempo.co

TEMPO.COSidoarjo- Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU)  mendeklarasikan berdirinya Asosiasi Rumah Sakit Islam Nahdlatul Ulama (ARSINU) di Rumah Sakit Islam Siti Hajar Sidoarjo, Sabtu, 28 Februari 2015. Deklarasi  diikuti oleh 28 instansi dan direktur Rumah Sakit Islam di bawah nauangan NU se-Jawa Timur.

Hadir juga Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur KH Mutawwakil Alallah, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, Ketua LKNU Pusat Imam Rosidi, serta ratusan tamu undangan dari berbagai rumah sakit perwakilan NU yang tergabung dalam ARSINU.

Imam Rosidi mengatakan rumah sakit yang berafiliasi dengan NU memiliki misi memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya warga nahdiyin, sebaik-baiknya. Berdirinya ARSINU diharapkan dapat menjadi wadah untuk mengkoordinasikan pelayanan kesehatan tersebut demi mencapai misi yang diharapkan. "Mudah-mudahan ARSINU bisa berkiprah dalam memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik," kata Imam.

Imam mengakui bahwa pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Islam  belum maksimal lantaran masih terdapat beberapa kendala, terutama peralatan yang belum lengkap. Namun dengan berdirinya ARSINU komunikasi antar-Rumah Sakit Islam diharapkan terbangun untuk memberikan pelayanan yang memuaskan. "Kita tidak bisa berdiri sendiri, harus bersatu supaya kuat dan solid dalam memberikan pelayanan," ujarnya.

Dengan perbaikan-perbaikan pelayanan tersebut diharapkan para pasien yang  berobat ke Rumah Sakit Islam menjadi lebih banyak karena mendapatkan pelayanan terbaik dan memuaskan.

Wakil Gubernur  Saifullah Yusuf menyambut baik berdirinya ARSINU. Menurut dia wadah ini bisa dijadikan network seluruh Rumah Sakit Islam yang berbasis NU, termasuk yang ada di Jawa Timur. "Dengan adanya jaringan dan komunikasi yang kuat, maka saya yakin layanan kesehatan bagi warga nahdliyin akan semakin terpenuhi," kata dia.

Post Terbaru