BERDERMA BERKAT POSTINGAN TBC DI FB

“Anda bisa menunda, waktu tidak bisa menunggu!”

Mumpung masih ada waktu dan umur panjang, saatnya berbagi dengan sesama. Itu adalah rangkaian kata-kata yang punya makna kuat bagi perjalanan hidup ibu Siti, seorang bidan sepuh yang mengabdikan sebagian hidupnya untuk membantu sesama yang kekurangan.

Mengawali karir di bidang kesehatan sebagai perawat pada tahun 1978 di RSCM, hingga berpindah profesi menjadi bidan pada tahun 1987. Menyabet rangking kedua sebagai lulusan terbaik sekolah bidan di Kota Tegal, pada usia 40 tahun. Sejak saat itu, Ibu Siti berprofesi sebagai bidan di daerah Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi.

Sifat kedermawaannya tidak hanya dimulai sejak pensiun sebagai bidan pada tahun 2013, melainkan jauh sebelum itu. Sebagai bidan dengan berbagai latar belakang pasien, bidan Siti sering memberikan keringanan soal biaya perawatan dan persalinan. Pasien boleh berhutang atau mencicil apabila memang tidak mampu untuk biaya persalinan. Bagi bidan Siti, menyelamatkan nyawa lebih penting daripada berbicara soal uang. Toh, tidak semua pasien memiliki uang. Ada saatnya mendapat lebih dari pasien yang mampu dan ada saatnya memberikan keringanan pada pasien yang kurang mampu.

Ibu Siti, Bidan Sepuh Yang Dermawan

Kan sudah diberi rizqi yang banyak. Jadi harus memberikan kepada orang lain. Ini sebagai ucapan syukur. Memberi lagi, membagi lagi. Kan tidak setiap orang mendapat anugerah rizqi. Kan ada yang pas, ada yang cukup, ada yang lebih.” Tutur bidan Siti membeberkan alasan mengapa dia suka berderma.

“Dia tidak meminta, tapi kita yang harus mengerti,” tambah bidan Siti menegaskan bahwa sebagai insan yang bersyukur, kita yang harus mengerti alias peduli dengan kebutuhan sesama, tanpa harus menunggu orang tesebut meminta bantuan.

Pada awalnya, bidan Siti sempat mensyaratakan perjanjian di atas meterai, bagi mereka yang yang berhutang atau mencicil pembayaran. Dalam perjalanannya, meskipun memakai perjanjian, banyak juga yang ingkar janji alias tetap tidak mau bayar. Belajar dari pengalamana itu, bidan Siti akhirnya mengikhlaskan saja dan menyerahkan semua itu pada keadilan ilahi. Bagi dirinya, lebih dan kurang itu sudah ada takarannya, sudah ada yang mengaturnya.

Prinsip penting dalam memberikan bantuan adalah memberikan bantuan bagi keluarga yang kekurangan, sebelum membantu orang lain. Ibu Siti termasuk orang yang kurang suka apabila ada saudara yang kekurangan kemudian berhutang. Itulah sebabnya bidan Siti kemudian menggagas keluarga besarnya untuk mendirikan koperasi simpan pinjam. Berkat koperasi itu, kini sudah tidak ada lagi masalah keuangan bagi keluarga besarnya. Sejak saat itu, bidan Siti menjadi leluasa untuk membantu dan meringankankan beban orang lain.

Hingga suatu ketika bidan Siti berjumpa dengan kader Yayat yang bekerja di wilayah PKM Pondok Melati, pada program TBC GF LKNU untuk wilayah Kota Bekasi, melalui akun pertemanan Facebook (FB). Hanya berbekal pertemanan FB dan belum pernah jumpa darat, bidan Siti kemudian tertarik untuk membantu ketika Ibu Yayat sering posting soal kegiatannya bersama pasien TBC.

Kemudian bidan Siti bertanya, “Pasien TBC yang ibu dampingi sudah dapat apa saja selain pengobatan gratis dari pemerintah?” Bu Yayat menjawab, “Tidak ada bu. Padahal pasien yang saya dampingi sebagian besar kurang mampu. Mereka membutuhkan asupan gizi yang cukup agar tidak oleng ketika minum obat TBC.”

“Kalau begitu, apa yang bisa saya bantu?” tanya bidan Siti, memastikan agar bantuan yang akan diberikan benar-benar bermanfaat. “Bantuan bisa ditujukan untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bu!” jawab ibu Yayat meyakinkan.

Dengan informasi itu, bidan Siti langsung bergerak cepat memberikan bantuan berupa uang sebesar Rp. 300.000 untuk PMT pasien TBC yang kurang mampu, melalui SSR Kota Bekasi.

Bidan Siti adalah segelintir dermawan yang punya niat baik untuk membantu sesama. Kadangkala, insan-insan dermawan ini tidak tahu harus menyalurkan bantuan ke mana saja. Beruntung Ibu Yayat rajin mengunggah status FB yang berisi kegiatan penanggulangan  TBC di wilayah dampingannya. Beruntung Ibu Yayat punya teman baru di FB yang dermawan seperti bidan Siti. Ternyata posting sesuatu yang positif di FB ada manfaatnya, jadi bukan sekedar posting jalan-jalan, makan, belanja, atau posting yang tak perlu.

OBROLAN KOPI TBC TANPA KOPI

OBROLAN KOPI TBC TANPA KOPI

Kesan pertama berjumpa dengan dokter paru satu ini bisa membuat kita terkecoh. Bagaimana tidak? rambutnya gondrong dengan cara berpakaian yang casual. Orangpun tidak akan mengira jika lelaki paruh baya ini adalah seorang dokter ahli paru yang sehari-hari bertugas di RSUD Dr. Chasbullah Abdulmajid, Kota Bekasi. Dia adalah dr. Anggarjito, SP.P.

Anggardjito, SP.P adalah Spesialis Paru yang menyelesaikan pendidikan Spesialis Pulmonologi di Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Ia juga terdaftar sebagai anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bekasi.

“Saya tidak suka seremoni atau formalitas. Tapi aksi nyata!” – dr. Anggarjito –

Di luar kesibukan hariannya sebagai dokter paru, dr. Anggarjito adalah ketua KOPI TBC (Koalisi Organisasi Profesi TBC) yang dibentuk tahun 2019 dan beranggotakan berbagai organisasi profesi seperti Persatuan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI), Perhimpunan Dokter Spesialis Anak Indonesia (IDAI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI), Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), Asosiasi Klinik Indonesia (ASKLIN), Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Ikatan Okupasi Terapis Indonesia (IOPI), Persatuan Ahli Teknilogi Laboratorium Kesehatan Indoensia (PATELKI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), BPJS, LKC-NU, dan UPTD Puskesmas.

KOPI TBC dibentuk sebagai mitra Dinas Kesehatan dalam memainkan peran menjaga kualitas layanan TBC pada aspek surevilens dan kontrol. Dengan peran dan fungsi masing-masing anggotanya, KOPI TBC mencoba menjangkau pasien yag berada di luar jangkauan Dinas Kesehatan, memastikan bahwa pasien TBC mendapatkan layanan Kesehatan, memastikan cakupan TBC sesuai target dan  memastikan tidak ada pasien mangkir selama pengobatan.

Melalui jaringan KOPI TBC yang luas mulai dari rumah sakit pemerintah, Puskesmas, klinik dan  rumah sakit swasta serta berbagai profesi, akan segera terlacak dan terinformasikan posisi maupun kondisi pasien TBC. Termasuk peran LKC-NU yang memiliki anggaran dan jaringan ke akar rumput untuk menjangkau pasien TBC melalui keberadaan kader-kader di lapangan.

Menurut dr. Anggarjito, kelemahan utama pada penanggulangan TBC adalah pada evaluasi proses, mengingat pengobatan TBC memerlukan waktu yang lama, yaitu antar 6 (enam) sampai 8 (delapan) bulan untuk TB SO dan 2 (dua) tahun untuk TB RO. Perlunya pendampingan dan pengawasan pasien TBC agar mampu menyelesaikan pengobatan hingga sembuh karena tidak hanya menemukan gejala dan pasien TBC serta memberikan obat TBC dengan tepat, namun juga yang lebih penting adalah memantau pengobatan TBC sampai sembuh.

Menutup obrolan tanpa suguhan kopi, dr. Aggarjito menjelaskan, “KOPI TBC memerlukan keterwakilan dari semua pihak. Tidak hanya dari dokternya, perawat, tapi semua pihak, semua stakeholder yang ada. Di sana juga ada Pemda. Memang terlihat sederhana, namun efek yang akan timbul jika menyepelekan TBC, efeknya akan panjang. Dari sisi pengobatan, dari sisi pengawasan. Seperti kita tahu pengobatan TBC itu panjang.” Di sinilah diperlukan keterwakilan dan keterkaitan antar pihak hingga memberikan dampak positif bagi penanggulangan TBC di Kota Bekasi.

Kegiatan KOPI TBC akan banyak apabila masih terdapat bolong-bolong pada cakupan dan proses, namun kegiatan atau tugas itu akan berkurang apabila sistem sudah berjalan dengan baik.

KOPI TBC bukan sekedar formalitas, melainkan yang lebih penting adalah gerakan atau aksi nyata. Prinsip ini tergambar jelas pada penampilan dr. Anggarjito yang jauh dari kesan formal, karena bagi dirinya yang penting adalah aksi nyata, bukan sekedar penampilan yang dapat menipu mata.

Mari bikin aksi nyata, sambil ngopi bersama KOPI TBC!

Dari Koin, NU Purbalingga Berhasil Bangun Klinik Kesehatan

Dari Koin, NU Purbalingga Berhasil Bangun Klinik Kesehatan

NU Purbalingga Bangun Klinik Kesehatan

Purbalingga, NU Online

Satu program yang berhasil diwujudkan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Karangmoncol, Purbalingga, Jawa Tengah, yakni membangun 'Klinik Kesehatan' dari pengumpulan kotak infaq (koin) sejak tahun 2017.   Bangunan berdiri megah di atas lahan yag merupakan wakaf dari orang tua Ketua DPC PKB Purbalingga H Slamet Wahidin dan sertifikat diserahkan saat peresmian klinik kesehatan pada Sabtu (26/10).

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Purbalingga H Selamet Wahidin mengatakan, dirinya mendapat amanah dari orang tuanya menyerahkan sebidang tanah untuk bangunan klinik kesehatan.   "Saya mendapat amanah dari kedua orang tua saya untuk untuk mewakafkan tanahnya jika sekiranya NU membutuhkan," ujarnya.    Dikatakan, ketika MWC NU akan membangun klinik saya segera mewakafkan tanah tersebut. Dengan harapan setelah klinik ini beroperasi semoga bermanfa'at buat masyarakat.    Selain wakaf sebidang tanah, MWCNU Karangmoncol juga menerima bantuan hibah satu unit ambulan dari Fraksi PKB DPRD Purbalingga yang penyerahannya diwakili Miswanto dan disaksikan Wakil Ketua PCNU Purbalingga KH Tofiq.    Ketua MWCNU Karangmoncol, Kiai Hafidz Husni mengatakan, pengumpulan uang koin mulai sejak tahun 2017 dan hingga bangunan klinik selesai terkumpul dana hingga miliaran.  "Untuk tenaga dan pekerja bangunan dibantu relawan dari warga NU, Ansor, dan Banser," paparnya.    Selain peresmian klinik kesehatan, dalam rangka Peringatan Hari Santri MWCNU Karangmoncol juga menggelar pawai ta'aruf dengan melibatkan seluruh santri pondok pesantren, siswa di lingkungan LP Ma'arif, badan otonom, dan warga NU se-Kecamatan Karangmoncol.   Camat Karangmoncol, Purbalingga Juli Atmadi sangat apresiasi kepada warga NU Karangmoncol yang berhasil membangun klinik kesehatan melalui pengumpulan koin sejak tahun 2017.   "Potensi besar di Kecamatan Karangmoncol Alhamdulillah dapat menghasilkan susuatu yang bermanfaat bagi umat dan pengurus NU berhasil mewujudkannya," ujarnya.   "Dan yang membanggakan, dengan cara mengumpulkan uang koin sampai bisa mendirikan sebuah bangunan klinik yang sebegini megahnya menghabiskan dana miliaran rupiah cukup dengan uang koin ini semua bentuk kepedulian dan kebersamaan warga NU," imbuhnya.    Maka sudah selayaknya lanjutnya, dengan sebutan NU gigih dalam perjuangan mengabdi buat agama dan bangsa. Kiai-kiai NU santri-santri NU, Ansor, dan Banser dengan penuh keikhlasan menumpas penjajah dengan sebutan Resolusi Jihad.  "Sampai sekarang perjuangan Ansor dan Banser dengan sukarela menjaga NKRI tanpa gaji dari siapapun bahkan seragampun beli sendiri. Dengan penuh harapan setelah berdirinya klinik NU bisa membantu kesehatan masyarakat dengan penanganan dan perawatan yang handal dan profesional," tuturnya.   Acara peresmian klinik yang dihadiri ribuan pengunjung, selain diawali pawai ta'aruf, momentum itu juga dimanfaatkan untuk pelantikan Pengurus MWCNU dan PAC Fatayat NU Karangmoncol  dengan menghadirkan Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh untuk memberikan mauidhah hasanah.

Kontributor: Hamka Baskara

Editor: Abdul Muiz Tags: #purbalingga #klinik nu #koin

Post Terbaru

Lembaga Kesehatan NU Kembangkan Kembali Kader Penanggulangan TBC

Lembaga Kesehatan NU Kembangkan Kembali Kader Penanggulangan TBC

Esty Febriani saat memberi sambutan Seminar Penanggulangan TB di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Selasa (10/12). (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online

Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI menggelar Seminar Penanggulangan Tubercolosis (TB) selama dua hari, Selasa sampai Rabu (10-11/12) di Hotel Acacia, Jakarta Pusat. Kegiatan ini dalam rangka meneguhkan kiprah NU dalam menanggulangi TB agar Indonesia terbebas darinya. Seminar ini diisi oleh Ketua PBNU H Syahrizal Syarif, Katib Syuriyah PBNU KH Miftah Faqih, dan perwakilan dari Perhimpunan Organisasi Pasien (POP) TB Indonesia Binsar. Adapun peserta yang mengikuti acara ini berasal dari lembaga dan banom NU, mahasiswa Unusia Jakarta, kader TB, kader Diabtes Mellitus (DM), dan region dan SSR DKI Jakarta.  Penangung Jawab Teknis Program TB, Esty Febriani, mengatakan bahwa Indonesia sangat berharap kepada NU agar membantu menanggulangi TB. NU menurutnya dipercaya karena selain memiliki anggota yang banyak, juga memiliki komitmen yang tinggi.  "Ini untuk mengembangkan kader-kader yang akan secara intensif membantu di dalam penuntasan TB di Indonesia," kata Esty. Untuk itu, katanya, melalui seminar ini, peserta dari lembaga dan banom NU, serta dari mahasiswa diundang. Seusai seminar, acara dilanjutkan dengan forum kecil. Lewat forum tersebut, kata Esty, pihaknya akan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan banom dan lembaga NU, serta mahasiswa Unusia Jakarta. Setelah teridentifikasi, nanti mengedukasi tentang TB. "Itu salah satu outputnya. Apakah nanti dengan Unusia kita juga melihat, di mana nih kita bisa masuk untuk memberikan edukasi tentang Tubercolosis, di mana saja," ucapnya. Ia juga menyatakan bahwa masih banyak pemuda yang belum mengetahui tentang TB. Padahal menurutnya, peran pemuda sangat penting karena bisa kampanye melalui media sosial. "Mereka itu bisa untuk edukasi karena mereka aktif gunakan media sosial. Mereka (bisa jadi) influencer," ucapnya. Sementara Sekretaris LKNU Citra Fitria mengungkapkan tentang peringkat Indonesia yang belum baik dalam hal TB. Rilis terakhir, Indonesia menempati rangking ke tiga di dunia di bawah India dan Cina. Ia berharap, melalui pertemuan ini, peserta dapat menjadi kader aktif, sehingga peringkat Indonesia bisa keluar dari tiga besar. "Ini (peringkat ke tiga di dunia) bukan prestasi yang bisa dibanggakan. Mudah-mudahan pertemuan ini bisa bermanfaat. Kehadiran ibu-ibu, bapak-bapak, dan saudara-saudara sekalian bisa berkontribusi buat bangsa Indonesia. Sekecil apapun kontribusi kita, inilah yang bisa kita berikan untuk bangsa kita," kata perempuan yang kerap disapa Civi itu.

Pewarta: Husni Sahal

Editor: Abdullah Alawi


 

Post Terbaru

Katib Syuriyah PBNU: NU Lahir untuk Turut Berperan Menata Dunia

Katib Syuriyah PBNU: NU Lahir untuk Turut Berperan Menata Dunia

KH. Miftah Faqih (Khatib Syuriah PBNU)
Jakarta, NU Online

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan  organisasi yang memiliki peran penting dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Peran itu tidak lepas dari kelahirannya yang bertujuan untuk menata dunia. Tak hanya itu, NU juga lahir demi kebahagiaan akhirat. Demikian disampaikan Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftah Faqih saat mengisi Seminar Penanggulangan Tubercolosis (TB) di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Selasa (10/12). Menurut Miftah, karena NU merupakan organisasi struktural, maka dalam menyelesaikan berbagai persoalan, NU selalu berkoordinasi dengan pengurus-pengurus yang ada di tingkat bawahnya. Begitu juga dalam upaya penanggulangan TB, LKNU sudah selayaknya menggandeng lembaga-lembaga yang berada di bawahnya. "Program ini adalah agenda, bukan proyek, di mana agenda ini memiliki kepentingan-kepentingan. Apa kepentingannya? Memanusiakan manusia: menghadirkan kemaslahatan bagi yang lain. Menghadirkan ketersambungan satu terhadap yang lainnya," katanya. Ia mengatakan bahwa yang menjadi tujuan NU dalam mewujudkan program-programnya hanya untuk kemasalahatan masyarakat. Oleh karena itu, menjadi tidak mengherankan karena dalam berbagai kesempatan, NU selalu ikut turun menangani berbagai bencana yang menimpa masyarakat. "Bencana apa pun: bencana kemiskinan, bencana kesehatan, bencana alam dan sebagainya, dan sebagainya dengan lembaga yang ada (di NU)," ucapnya. Ia menyatakan bahwa NU melalui LKNU telah berpartisipasi tidak hanya menanggulangi berbagai penyakit, seperti malaria, HIV AIDS, dan TB, tetapi juga menghilangkan stigma-stigma negatif dari masyarakat kepada penderita penyakit. "Demikian juga dengan TB, NU hadir untuk menghapuskan stigmatisasi dan bagaimana agar kehidupan sehat benar-benar menjadi orientasi semua orang. Memberikan siapa pun yang terkena TB itu mempunyai harapan hidup, bukan didiskriminasikan, tetapi di sini benar-benar diberikan harapan hidup karena dia pun juga manusia yang punya hak hidup. Nahdlatul Ulama berupaya untuk menghadirkan itu (memberikan harapan hidup kepada penderita penyakit)," terangnya. Selain Miftah, pembicara lain yang hadir ialah Ketua PBNU H Syahrizal Syarif dan perwakilan dari Perhimpunan Organisasi Pasien (POP) TB Indonesia Binsar. Adapun peserta yang mengikuti acara ini berasal dari lembaga dan banom NU, mahasiswa Unusia Jakarta, kader TB, kader Diabtes Mellitus (DM), dan region dan SSR DKI Jakarta.

Pewarta: Husni Sahal

Editor: Abdullah Alawi

Post Terbaru

NU Lakukan Empat Hal agar Program Kesehatan Dirasakan Masyarakat

NU Lakukan Empat Hal agar Program Kesehatan Dirasakan Masyarakat

Ketua PBNU H Syahrizal Syarif saat mengisi Seminar Penanggulangan Tubercolosis (TB) di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Selasa (10/12). (Foto: NU Online/Husni Sahal)
Jakarta, NU Online

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Syahrizal Syarif mengemukakan empat hal yang akan dilakukan NU agar program-program kesehatan terlaksana dengan baik, sehingga manfaatnya dapat secara nyata dirasakan oleh masyarakat. Pertama, mengadvokasi peraturan atau kebijakan pemerintah terkait kesehatan. "Salah satunya yang tengah menjadi persoalan adalah BPJS. Saya tegas menyatakan bahwa untuk yang mandiri kelas 3 tidak boleh dinaikkan karena itu bentuk dari keberpihakan pemerintah kepada masyarakat. Jadi peraturan, kita harus terlibat dalam peraturan-peraturan advokasi," kata Syahrizal saat mengisi Seminar Penanggulangan Tubercolosis (TB) di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Selasa (10/12). Kedua, NU terus meningkatkan fasilitas kesehatan. Saat ini, katanya, NU memiliki Badan Pelaksana Kesehatan (BPN). BPN ini berfungsi mendampingi NU yang ada di tingkat wilayah atau cabang yang ingin mendirikan fasilitas kesehatan. "Nanti dikasih petunjuk bagaimana caranya membangun fasilitas kesehatan atau melihat kemungkinan-kemungkinan sumber daya untuk membangun kesehatan. Sekarang ini didirikan berbagai macam rumah sakit, didirikan minimal didirikan klinik pratama," katanya. Setelah fasilitas kesehatan berdiri, ia tidak perlu mengkhawatirkan keberlangsungannya karena kini, di NU  telah ada asosiasi Rumah Sakit NU (RSNU) dan Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU). Terkait keberadaan dokter di tubuh NU, ia bersyukur karena kini telah banyak dokter-dokter bermunculan dari NU. Hal itu dikatakannya berbeda jauh dibandingkan 30 tahunan yang lalu. Menurutnya, saat itu di PBNU yang menyandang gelar dokter hanya dua orang: Fahmi D Saifuddin dan dirinya. "Tapi sekarang Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama itu mengkonsolidasi kurang lebih 300 dokter spesialis. Tapi nanti kita tentu akan menggalang, mengkonsolidasi apoteker, mengkonsolidasi ahli kesehatan masyarakat, bidan, perwat, dan sebagainya. Kita bergerak ke arah sana satu-satu. Jadi saya kira, situasi ini kita akan bermitra di dalam pelayanan kesehatan yang bermutu," terangnya. Ketiga, kemampuan mobilisasi masyarakat. Sudah mafhum bahwa NU merupakan organisasi sosial keagamaan yang memiliki anggota terbanyak di Indonesia. Dengan jumlah yang banyak ini, maka program-program kesehatan dapat terwujud. Keempat, harus terlibat dalam komunikasi perubahan prilaku. Maksudnya adalah, terlibat dalam mengubah perilaku masyarakat agar hidup bersih dan sehat.

Pewarta: Husni Sahal

Editor: Abdullah Alawi

Post Terbaru

LKNU Advokasi Para Pengidap TBC Melalui Kader-Kader Muda

LKNU Advokasi Para Pengidap TBC Melalui Kader-Kader Muda

Esty Febriani Penanggung Jawab Teknis Program TBC
Repost, Laduni.id

Jakarta - Hingga kini, BATUK kerap dianggap sebagai salah satu jenis penyakit ringan yang jarang ditanggapi serius oleh banyak orang. Padahal batuk yang dianggap ringan ini bisa saja merupakan pertanda dari terjangkitnya seseorang oleh penyakit TBC atau Tuberculosis.

Indonesia mengalamai darurat TBC sudah sejak lama. Pasalnya TBC merupakan penyakit yang mudah menghinggapi siapa saja karena sifatnya yang menular. Indonesia, seperti diungkapkan oleh Dr. Esty Febriani M.Kes, SR-Khusus LKNU berada pada posisi 3 besar di dunia terkait banyaknya orang yang terjangkit TBC. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit TB bukanlah hal yang bisa dianggap remeh.

“Indonesia berada di peringkat ke 3 terkait TBC, sebelumnya berada di peringkat ke 2. Kata Dr. Esty Febriani M.Kes (SR-Khusus LKNU) pada acara yang diselenggarakan oleh LKNU bekerjasama dengan Kementerian kesehatan dan TB Community, Selasa, 10/12/2019 di hotel Acacia.

Mengusung tema “Meneguhkan Kiprah Organisasi NU Dalam Program Penanggulangan TBC", Esty berharap agar berbagai elemen khususnya NU turut andil memberikan kontribusi dalam rangka menghentikan penyebaran TB serta upaya menanggulanginya.

“Mudah-mudahan dengan adanya kontribusi dari bapak ibu, saudara-saudara sekalian akan bisa menurunkan kembali rangkingnya supaya gak masuk 3 besar.” Ujarnya.

Esty mengungkapkan bahwa LKNU memiliki berbagai project yang didanai langsung oleh Global Fund. Tujuan dari project tersebut menurutnya guna mengembangkan kader-kader yang akan secara intensif membantu dalam menuntaskan prsoalan TBC.

“Jadi hal yang pertama kita lakukan adalah menemukan pasien TBC. Yang kedua mendampingi pasien hingga sembuh, yang ketiga advokasi. Jadi ini adalah bagian advokasi.” Tuturnya.

Meski begitu, Esti mengakui bahwa sampai saat ini untuk mengembangkan kader-kader TBC tak semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu tantangan yang dihadapi ialah minimnya peran para generasi muda dalam mensosialisasikan TBC.

“Kesulitannya mencari kader, karena mereka belum tahu. Insya Allah jika mereka diberi tahu dan mereka sudah mengerti, mereka akan melakukannya.” Ujarnya.

Ia meyakini bahwa dengan adanya proses edukasi untuk para anak muda, potensi yang mereka miliki mampu bermanfaat dalam rangka menyelesaikan berbagai problematika terkait TBC.

“Sementara sebenarnya mereka itu misalnya untuk edukasi, mereka aktif menggunakan sosial media sebagai influencer. Mereka itu key influencer sebenarnya bisa kita manfaatkan untuk memberikan edukasi.” Ungkapnya.

Post Terbaru

Ketua PBNU dr. Syahrizal Tegaskan Pentingnya Basis Komunitas Dalam Menyelesaikan Masalah TBC.

Ketua PBNU dr. Syahrizal Tegaskan Pentingnya Basis Komunitas Dalam Menyelesaikan Masalah TBC.

dr. H. Syahrizal Syarif, MPH., Ph.d (Ketua PBNU).
Repost LADUNI.ID,

Jakarta - Ketua PBNU dr. H. syahrizal syarif, MPH., Ph.D menyebut hingga hari ini penyakit Tuberclosis (TBC) masih menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat di berbagai penjuru dunia. Pasalnya penyakit yang disebabkan oleh microorganism ini mampu membunuh jutaan manusia dibandingkan konflik bersenjata maupun konflik politik.

“Jadi berita buruknya adalah sampai hari ini kita masih terus akan menghadapinya.” Ungkapnya dalam acara seminar yang bertajuk “Meneguhkan Kiprah Organisasi NU Dalam Program Penanggulangan TBC" di hotel Acacia, pada Selasa, 10/12/2019.

Berkaca pada situasi yang pernah terjadi di Amerika, Rizal menampik anggapan di masyarakat bahwa penyakit TBC susah untuk dihilangkan. Pasalnya kurun tahun 1992 hingga tahun 2018, Amerika telah memulai program intensif dalam rangka menurunkan angka penderita TBC dan berhasil turun di angka yang drastis. Ia pun meyakini bahwa dengan tekad yang kuat, Indonesia juga mampu menekan angka para pengidap TBC.

“Jadi kalau ada orang bilang Tb susah dihilangkan itu tidak.” Tuturnya.

LKNU, lanjutnya, ketika bekerjasama dengan USAID dan 8 negara di tahun 2012 telah berhasil membuktikan kerja kerasnya dalam membuka hampir 30% kasus baru yang terjadi di Indonesia. Berbeda halnya dengan 7 negara lainnya yang ikut berpartisipasi dalam program tersebut yang dinilai USAID tidak memberikan dampak yang signifikan karena hanya berdampak kepada pengurangan stigma negatif terhadap pengidap TB, namun upaya tersebut belum menyentuh pada upaya membuka kasus-kasus baru TBC di negara mereka.

Atas upaya tersebut, syahrizal pun memberikan apresiasi kepada LKNU atas kerja-kerja kemanusiaan yang telah dilakukan.

“Kepercayaan kepada LKNU ini harus dijaga. Di dunia, civil society yang memberi dampak besar dan punya jaringan kuat di dunia salah satunya yang diakui oleh USAID adalah LKNU.” Ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Syahrizal juga menyampaikan pentingnya basis komunitas. Karena menurutnya problem terbesar yang masih dihadapi hingga hari ini adalah menemukan kasus yang baru.

“Saya ingin sampaikan juga bahwa ini penting karena memang untuk mengatasi TB tidak mungkin (sendiri), harus memiliki base. Harus melakukan basis aktif. LKNU melakukan ketok pintu. Nah itu yang menurut saya pendekatan yang luar biasa. Karena itu mengangkat kasus baru yang cukup besar dan sangat bermanfaat.” Ungkapnya.

Ia pun meminta kepada pemerintah agar memberikan kepercayaan pada community base seperti NU Muhammadiyah. Karena baginya, community base hanya memiliki komitmen namun terbatas di pendanaan.

“Memang harus bermitra bersama”. Tuturnya.

Acara yang diselenggarakan oleh LKNU bekerjasama dengan Kementerian kesehatan melalui TB Community ini berlangsung selama 2 hari dan dihadiri oleh berbagai organisasi pemuda, Lembaga dan Banom NU.

Post Terbaru

LKNU sebut Kota dan Kabupaten Cirebon Wilayah Endemik Tuberkulosis

LKNU sebut Kota dan Kabupaten Cirebon Wilayah Endemik Tuberkulosis

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON

Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Cirebon menilai Kota dan Kabupaten Cirebon merupakan wilayah endemik TBC.

Pasalnya, temuan kasus TBC di dua daerah itu tergolong cukup banyak.

"Luas wilayahnya segitu sedangkan jumlah kasusnya mencapai ribuan itu termasuk wilayah endemik TBC," kata Wahyono An Najih saat ditemui usai Peringatan Hari TBC 2019 di Goa Sunyaragi, Jl Brigjend Dharsono, Kota Cirebon, Jumat (12/4/2019).

Ia mengatakan, berdasarkan data Dinkes Kota Cirebon temuan kasus TBC selama 2018 mencapai 1352 kasus.

Sementara data Dinkes Kabupaten menyebutkan temuan kasusnya mencapai 7000-an.

Selain itu, kasus TBC juga dinilai menjamur karena penyebarannya merata di tiap kecamatan di Kota dan Kabupaten Cirebon.

Karenanya, pihaknya berharap seluruh elemen masyarakat Cirebon aktif dan sadar TBC sedari dini.

"Gejala TBC yang paling mudah itu jika batuk disertai dahak selama lebih dari dua minggu, segera periksa ke dokter," ujar Wahyono An Najih.

Menurut dia, LKNU mempunyai 176 kader TBC di Kota dan Kabupaten Cirebon yang selalu melakukan asesmen di lapangan.

Mereka akan mendatangi pasien TBC dan orang-orang sekitarnya untuk mencegah penularan TBC.

"Para kader itupun selalu bersinergi dengan jajaran Dinkes dan Puskesmas di tiap kecamatan," kata Wahyono An Najih.

Post Terbaru

Diabetes dapat Disembuhkan dengan Cara Berikut

Diabetes dapat Disembuhkan dengan Cara Berikut

Sidoarjo, NU Online

Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo, Jawa Timur menggelar seminar awam bertajuk ‘Sehat dan Bugar bagi Penderita Diabetes’. Kegiatan berlangsung di ruang Darun Na'im lantai tiga rumah sakit setempat, Sabtu (26/10).   Direktur RSI Siti Hajar Sidoarjo, dokter H Sulistio mengatakan bahwa seminar awam ini bertujuan untuk mengedukasi pasien maupun keluarga pasien agar menjaga kesehatnnya dengan baik.   "Penyuluhan ini sifatnya untuk mengedukasi atau membimbing bapak maupun ibu dengan topik berbeda. Misal, saat ini tentang diabet. Topik lain di antaranya tentang tekanan darah tinggi, penyakit tulang otot dan masih banyak lagi kegiatan seminar lainnya," kata dokter Sulis, sapaan akrabnya.   Menurutnya, angka penyakit diabet dari tahun ke tahun terus bertambah. Di Puskesmas, di klinik perawatan, maupun di RSI Siti Hajar sendiri, penderita penyakit diabet mulai banyak dilakukan penanganan.   Beberapa bulan terakhir, pasien yang dirawat di rumah sakit dengan fasilitas BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) ini bila kondisinya sudah stabil akan dirujuk kembali ke klinik perawatan awal. Karena memang aturannya seperti itu.    “Bagi yang belum stabil akan dirawat, tapi yang sudah bagus dikembalikan ke dokter FKTP atau fasilitas kesehatan tingkat pertama," ujarnya.   Ia menegaskan, pasien yang menderita penyakit diabetes jangan menyerah. Akan tetapi harus semangat melakukan aktivitas sehari-hari, agar hidupnya lebih bagus. Bahkan dirinya menyarankan, pasien diabetes agar mengatur pola hidup dengan baik. Sehingga kondisi kadar gula akan membaik pula.   Pihaknya berharap, dengan adanya penyuluhan ini bisa menjadi nilai tambah, agar pasien maupun keluarga pasien dapat menjaga kesehatan, mengubah pola hidup agar semakin segar dan bugar serta tidak ada penyakit jangka panjang.   "Setelah dari sini, ilmunya bisa ditransfer kepada keluarga agar menjaga kesehatan dengan baik," pesannya. Lebih lanjut ia menjelaskan, beberapa faktor risiko menjadi diabet yaitu faktor genetik, kegemukan, indek masa tubuh, pola makan, gaya hidup dan lain sebagainya.   Jika laki-laki lingkar perutnya 90 cm atau lebih, itu dikhawatirkan menderita diabet. Jika hal itu terjadi, maka segera olahraga dan lemaknya dibuang. Sementara perempuan lingkar perutnya 80 cm.    “Cara lain yang bisa dilakukan yaitu membatasi minum teh pagi hari, minum sirup, makanan manis dan sebagainya. Olahraga ringan jalan kaki supaya dilakukan agar tidak gampang sakit," tegasnya.   Pada seminar ini hadir dua narasumber yang ahli dan profesional di bidang diabetes, yakni dokter Atik Yuniani dan dokter Dewi Retno Ningsih.   Dokter Atik Yuniani memaparkan, waktu makan bagi penderita diabetes lebih baik dengan porsi kecil, namun dibagi dalam beberapa waktu makan. Hal tersebut agar gula darah stabil.   Menururnya, setiap orang punya pola makan sendiri-sendiri. Karenanya harus diesuaikan dengan pola makan yang sudah ada.    “Lakukan olahraga yang teratur 3 hingga 4 kali dalam sepekan,” ungkapnya. Artinya hal itu dilakukan rutin sebisa mungkin. Mau setiap hari juga boleh, dengan disesuaikan kondisi masing-masing orang. Kalau yang mau senam boleh, jalan kaki juga boleh. Hindarilah tidur setelah makan juga kebiasaan malas bergerak, lanjutnya.   Beberapa gejala diabetes, di antaranya pandangan mata kabur, gatal-gatal terutama di bagian dalam, cepat lelah atau mengantuk, luka sulit sembuh, sering kencing, mudah lapar dan haus, serta kesemutan.

Post Terbaru