Banjir Usai, Selalu Jaga Kesehatan dengan 5 Cara Berikut :

Banjir Usai, Selalu Jaga Kesehatan dengan 5 Cara Berikut :

Lembaga Kesehatan NU - Dikutip dari laman resmi BMKG, Deputi Bidang Meteorologi R Mulyono R Prabowo, mengatakan,hujan yang akan terjadi hari ini dan besok tidak se-ekstrem hujan yang terjadi pada tanggal 1 Januari 2020.

"Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti angin kencang, genangan, banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, dan jalan licin," ujar Mulyono.

Selain itu, pasang naik maksimum di Teluk Jakarta juga terjadi pada periode tanggal 9-12 Januari 2020 dengan ketinggian maksimum 0,6 meter. Kondisi ini berpotensi menghambat laju aliran air sungai masuk ke laut di Teluk Jakarta.

Meskipun itu, pastikan tetap menjaga kesehatan agar proses pemulihan dan pembersihan setelah banjir bisa dilakukan. Jadi, perhatikan beberapa tips agar tetap sehat saat banjir. Berikut Poin-poin yang sudah dihimpun dari Suara.com.

  1. Bersihkan peralatan makan dengan air panas

Saat banjir, kuman bisa menyebar melalui air yang tercemar dan mengontaminasi melalui peralatan makan. Jadi pastikan peralatan makan selalu dijaga kebersihannya dengan cara membilasnya dengan air panas sebelum dipakai, demikian dikatakan ahli gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD.

"Hati-hati dalam makan minum, terutama dari makanan, sebisa mungkin tidak sembarang makan. Beberapa parabotan yang terkena banjir, pastikan dibilas dengan air panas sebelum digunakan," ujar Prof. Sulaeman saat dihubungi Suara.com, Rabu (1/1/2020).

  1. Pastikan air minum direbus

Banyak orang mengandalkan air galon atau air kemasan untuk minum. Tapi patut diperhatikan asal atau sumber air kemasan. Menurut Prof. Sulaeman, minum air isi ulang yang tidak jelas asalnya, terlebih saat tanah sedang tergenang air, sangatlah tidak aman. Jadi, pastikan selalu merebus air sebelum diminum.

"Sebaiknya air minum adalah air yang direbus. Air galon, tergantung dari sumbernya. Jadi, pastikan air direbus sampai mendidih," jelasnya.

  1. Buah dan sayur dikupas dan dicuci air hangat

Makan sayur mentah atau lalapan mungkin jadi langkah praktis saat bahan makanan lain sulit didapat. Tapi saat banjir melanda, Prof. Sulaeman meminta untuk berhati-hatu makan lalapan. Ada baiknya lalapan lebih dulu direndam di dalam air hangat suam-suam kuku agar kumannya mati. Sedangkan untuk buah, pastikan setelah dicuci dikupas terlebih dahulu.

"Untuk makanan, pastikan buah selalu dikupas. Kondisi kita saat banjir juga kurang fit, jadi harus hati-hati dengan makanan. Kalau dalam kondisi biasa saja, sih, tidak apa-apa (makan lalap)," paparnya.

  1. Konsumsi vitamin C

Saat cuaca tidak menentu dan peredaran kuman dimana-mana, Prof. Sulaeman mengingatkan untuk memastikan daya tahan tubuh tetap stabil untuk mencegah kuman menginfeksi. Jadi, cobalah konsumsi vitamin C untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh.

"Hujan begini, asupan vitamin C harus cukup karena daya tahan tubuh kita menurun. Bisa vitamin C di suplemen, ataupun memperbanyak buah-buahan," katanya

  1. Jaga suhu tubuh tetap normal

Suhu tubuh tetap normal jadi tanda imuntas tubuh bisa bekerja maksimal saat melawan penyakit dan kuman, seperti halnya kolera dan flu yang kerap menyerang saat musim banjir. Jadi, pastikan selalu memakai baju hangat, dan pastikan selalu mengganti baju yang basah terkena hujan atau banjir. "Jaga suhu tubuh tetap normal jangan sampai kedinginan," tutup Prof. Sulaeman.

Hujan dan Banjir Melanda, Waspadai Penyakit-penyakit Ini

Hujan dan Banjir Melanda, Waspadai Penyakit-penyakit Ini

Info Kesehatan

Jakarta, NU Online

Tahun baru 2020 menjadi duka mendalam bagi masyarakat Indonesia, mengawali tahun diawal bulan Januari sejumlah daerah terutama di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten tertimpa banjir yang mengakibatkan rumah-rumah warga runtuh dan hancur.  Dokter Umum di Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mahesa Parandipa mengatakan selain menimbulkan permasalahan ekonomi dan sosial, banjir dapat menimbulkan permasalahan lain yang perlu diperhatikan yakni masalah kesehatan masyarakat terdampak banjir.

Berikut permasalahan kesehatan yang sering dialami ketika musim hujan dan musibah banjir:

Pertama, kata dia, penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Ia menuturkan, ketika musim penghujan, terjadi genangan air di mana-mana. Genangan air tersebut akan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.  Genangan air yang jernih akan menjadi tempat terbaik bagi perkembang biakan nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk ini merupakan perantara (vector) penularan virus Dengue dan virus Chikungunya.  Virus ini, kata Mahesa sering menimbulkan penyakit ketika musim penghujan dan banjir, misalnya Demam Berdarah dan penyakit Cikungunya. Penyakit  ditandai dengan demam tinggi serta bintik-bintik merah di kulit.  Sementara itu,  pada penyakit demam berdarah, kondisi pasien akan memburuk jika terjadi penurunan jumlah trombosit dalam darah dan dalam jumlah yang signifikan, karena mengakibatkan terjadi perdarahan di dalam tubuh. Sedangkan pada penyakit Chikungunya, ditandai dengan panas tinggi serta nyeri pada hampir seluruh persendian. Selanjutnya, selain nyamuk Aedes Aegypti, di beberapa daerah terdapat nyamuk jenis lain yang akan meningkat jumlahnya, yaitu nyamuk Anopheles yang menularkan parasite malaria. Penyakit itu ditandai dengan demam dengan pola demam tinggi-suhu tubuh menurun dan tubuh terasa menggigil.

Kedua, Diare. Mahesa menyebut di saat musim penghujan dan banjir, sumber-sumber air bersih akan tercemar, sampah serta kotoran akan banyak berserakan di mana-mana, banyak hewan-hewan pengerat atau hewan kecil yang mati karena tenggelam saat banjir melanda. Air yang tidak bersih tentu akan banyak mengandung bakteri.  Ia menjelaskan, sampah yang berserakan dan hewan yang mati tersebut menyebabkan bertambahnya jumlah lalat yang membawa bakteri kemudian hinggap di makanan atau minuman. Hal ini mengakibatkan kasus-kasus diare banyak terjadi.

"Ketiga, Demam Tifoid. Selain diare, penyakit saluran cerna lain yang sering terjadi saat musim penghujan dan banjir adalah demam tifoid atau tifus. Penyakit yang disebabkan masukkan kuman Salmonella Typhosa ke dalam saluran cerna melalui makanan atau minuman yang dikonsumsi," katanya saat diwawancarai NU Online,  Kamis (2/1). Ia mengatakan, gejala penyakit tidak khas, ditandai dengan demam tinggi lebih dari 390C, badan lemah, sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu makan, sakit perut, dan pada kasus tertentu muncul penyebaran bercak merah muda (rose spot).

Penyakit keempat adalah Leptospirosis. Menurut Mahesa, saat banjir melanda, tikus-tikus yang banyak berdiam di selokan dan tempat-tempat kotor lain akan banyak keluar dari tempatnya dan berkeliaran kemana-mana. Bakteri Leptospira ditularkan oleh tikus melalui air kencing. Kulit yang mengalami luka rentan dimasuki bakteri ini pada saat kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi.   "Gejala penyakit ini ditandai dengan demam tinggi, nyeri otot, mual, sakit kepala, mata merah dan iritasi. Pasien biasanya membaik dalam waktu satu minggu, sebagian mengalami kondisi yang memburuk yang ditandai dengan gangguan fungsi hati, ginjal , dan jantung," ucapnya.  Kemudian, infeksi saluran pernafasan (Ispa). Penyakit kelima ini muncul saat musim penghujan dimana, kelembaban meningkat serta suhu udara sedikit lebih rendah dan menyebabkan daya tahan tubuh menurun.  Daya tahan tubuh yang menurun inilah yang menyebabkan seseorang gampang terinfeksi oleh virus maupun mikroba lainnya.  Infeksi paling banyak dialami adalah infeksi saluran pernafasan akut. Penyakit ini ditandai dengan tidak enak badan.

Pola dan Cara Makan Rasulullah

Pola dan Cara Makan Rasulullah

Bagian Pertama

Pola dan Cara Makan Rasulullah
Makanan dan minuman merupakan kebutuhan dasar dan pasti diperlukan dalam situasi dan kondisi apa pun. Bahkan, keduanya merupakan rahasia kehidupan dan salah satu nikmat besar yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya. Dalam banyak ayat, Allah telah menjelaskan bahwa makanan merupakan nikmat dan anugerah besar yang diberikan kepada kita.
Di antaranya adalah ayat yang menyatakan, “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-mayur, yaitu dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu,” (QS Abasa [80]: 24-32).
Untuk memenuhi kebutuhan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan sejumlah pedoman atau acuan perihal makanan, termasuk bagaimana cara makannya yang selayaknya kita pedomani. Sebab sudah barang tentu setiap informasi yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyimpan banyak hikmah dan rahasia. Cukup banyak hadits yang berbicara tentang pedoman ini. Namun, dalam tulisan ini hanya akan disajikan sebagiannya saja, sedangkan sisanya akan disampaikan pada kesempatan berikutnya. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Pertama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kepada kita bahwa perut bukanlah wadah yang siap diisi apa saja sesuai keinginan kita. Sekalipun ia diisi, tidak boleh berlebihan sehingga melebihi batas kemampuannya, sebagaimana dalam hadits, “Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang dia harus lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk napas,” (HR Ahmad).
Dengan demikian, yang terpenting perut kita terisi makanan halal yang dapat menjaga kelangsungan hidup. Sebab, bila tidak, kita sendiri yang rugi. Di kala perut kita kekenyangan, misalnya, kita menjadi mengantuk, malas beraktivitas, termasuk malas beribadah, sehingga kemudian kita menjadi kurang poduktif dan dalam jangka panjang berat badan kita menjadi berlebih (obesitas), lebih prihatin lagi di akhirat kekurangan amal.
Kedua, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan agar kita tidak rakus dan tidak memasukkan berbagai jenis makanan ke dalam perut. Hal ini sejalan dengan kebiasaan Nabi yang menyebutkan bahwa beliau tidak pernah makan banyak, tidak pernah makan sampai kenyang, atau tidak memperbanyak ragam makanan. Bahkan, saat istrinya tidak masak makanan beberapa hari, beliau cukup berpuasa dan menyantap roti saja.
Hal ini juga ditunjang oleh temuan-temuan dalam dunia pangan dan ilmu gizi bahwa ada beberapa makanan yang tidak boleh dikonsumsi secara bersamaan karena memiliki zat kimia yang justru akan menimbulkan efek negatif dan membahayakan bagi tubuh. Buah-buahan misalnya, sebaiknya tidak dikonsumsi dengan susu. Sebab, umumnya buah-buahan bersifat asam (memiliki PH rendah) sehingga bila bercampur dengan makanan lain dapat menyebabkan fermentasi dalam lambung. Demikian pula kedelai tidak boleh dimakan bersamaan bayam, kedelai dengan bawang hijau, susu kedelai dengan telur, susu dengan cokelat, daging dengan semangka, daging dengan cuka, dan sebagainya.
Ketiga, jika kita menghadiri suatu undangan yang di dalamnya disajikan makanan, sebaiknya tidak mengajak orang lain untuk memenuhi sebuah undangan tersebut kecuali atas izin orang yang mengundangnya. Abu Mas’ud meriwayatkan bahwa ada seorang lelaki Anshar yang akrab disapa Abu Syu’aib datang. Kemudian, dia bilang kepada pelayannya yang bernama Qashab, “Sediakanlah makanan untuk lima orang. Aku ingin mengundang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di antara mereka berlima. Sebab, aku mengetahui rasa lapar di raut wajah mereka.” Abu Syu‘aib pun kemudian mengundang mereka. Namun, ada seorang lelaki yang datang bersama kelima tamu itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lantas bersabda, “Lelaki ini ikut bersama kami. Jika menghendaki, engkau boleh mengizinkannya. Dan jika menghendaki, engkau boleh menyuruhnya pulang,” (HR al-Bukhari). Abu Mas‘ud menambahkan, Abu Syu‘aib pun mengizinkannya.
Keempat, pada saat makan kita dianjurkan untuk berkumpul, mengerumuni makanan, dan tidak berpencar darinya. Wahsyi ibn Harm mengatakan bahwa sejumlah sahabat bertanya, “Wahai Rasul, kami makan tapi tidak merasa kenyang.” Beliau menjawab, “Mungkin kalian berpencar (saat makan)?” Mereka berkata, “Iya.” Beliau kembali berkata, “Maka berkumpullah di sekitar makanan kalian. Sebutlah asma Allah (basmalah). Dengan begitu, Dia akan memberi keberkahan kepada kalian,” (HR Abu Dawud). Beliau juga bersabda, “(Jika berkah) makanan untuk seorang pun jadi cukup untuk berdua. Makanan untuk berdua cukup untuk berempat. Dan makanan untuk berempat cukup untuk delapan orang,” (HR Muslim).
Ketiga, jangan makan makanan orang-orang yang sedang berlomba-lomba menyembelih hewan. Dalam hal ini, Ibnu ‘Abbâs meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan makanan orang-orang Arab yang berlomba menyembelih hewan (HR Abu Dawud).
Maksudnya, mereka berlomba di sini adalah adu banyak menyembelih hewan. Ketika itu ada dua orang laki-laki yang bersaing dalam hal kebaikan dan kedermawanannya. Salah seorang dari mereka menyembelih unta dan lelaki yang lain juga menyembelihnya, sampai salah satu di antara mereka tidak mampu melakukannya. Namun, perbuatan itu hanya sekadar riya dan mencari popularitas. Dengan menyembelih untanya, mereka tidak bermaksud mencari keridaan Allah, sehingga perbuatan itu serupa dengan orang yang menyembelih hewan bukan karena Allah. (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).
Termasuk ke dalam kategori ini adalah daging hewan yang disembelih tidak menyebut asma Allah dan sembelihan orang-orang musyrik, sebagaimana dalam ayat, "Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan atasmu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan apa yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah," (QS al-Nahl [16]: 115).
Keempat, jika kita memiliki makanan, sangat dianjurkan yang memakan makanan kita adalah orang yang saleh dan bertakwa. Abu Sa’id al-Khudzrî meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Janganlah engkau berteman kecuali dengan orang yang beriman, dan janganlah ada yang makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” Sudah barang tentu, makanan yang diberikan kepada mereka akan menolong ketaatan dan ibadah mereka.
Kelima, hendaknya tidak makan di khawân atau tempat tinggi yang dipersiapkan untuk makan, seperti meja makan. Anas ibn Mâlik meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Nabi Allah tidak pernah makan di khawân dan sakrajah. Tidak pula ia makan roti yang dikeringkan,” (HR al-Bukhari).
Sakrajah adalah wadah kecil yang memuat makanan ringan, seperti lalapan atau makanan penambah selera. Namun, hadits ini bukan berarti mengharamkan makan di meja makan atau di tempat tinggi lainnya, melainkan sebatas sunah bahwa makan sebaiknya dilakukan di atas tanah sebagaimana yang biasa dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. 
Keenam, tidak makan sambil terlentang atau makan di tempat yang tersedia makanan yang haram. ‘Umar meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang makan di tempat yang disajikan minuman keras. Begitu pula beliau melarang seseorang makan sambil menelungkupkan perutnya. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim).
Ketujuh, tidak bersandar pada saat makan. Abu Juhaifah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku tidak pernah makan sambil bersandar.” Ibnu ‘Amr juga menyebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah terlihat makan sambil bersandar,” (HR Abu Dawud dan al-Tirmidzi).
Istilah “bersandar” ini tentu mencakup segala bentuk duduk yang dilakukan sambil bersandar atau menyandarkan bagian tubuh tertentu kepada sesuatu yang lain. Cara ini dimakruhkan atau dianggap kurang baik karena memperlihatkan duduknya orang yang sedang lahap dan nafsu makan. Akibatnya seseorang tidak bisa mengontrol daya tampung perutnya sehingga jadi membesar atau membuncit. (Lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353).
Karena itu, posisi duduk yang dianjurkan pada saat makan adalah menekuk kedua lutut dan menduduki bagian dalam telapak kaki, atau menegakkan betis dan paha kanan dan menduduki kaki yang kiri. (Ibnu Hajar, Fath al-Bari, Beirut: Darul Ma‘rifah], 1379 H, jilid 9, hal. 542).
Bersambung ..... 
Ketua LKNU Banyumas Berbagi Tips Sehat Konsumsi Daging Kurban

Ketua LKNU Banyumas Berbagi Tips Sehat Konsumsi Daging Kurban

Repost : NU Online
Ketua LKNU Banyumas

Setiap tahun seluruh umat Islam di dunia merayakan hari raya Idul Adha, biasa kita kenal juga hari raya Qurban. Magnet yang ditularkan luar biasa, semua lapisan masyarakat (bawah – atas) menikmati daging qurban.

"Makna idul kurban ini adalah kesetiakawanan sosial, saling berbagi, antara masyarakat muslim yang mampu kepada saudaranya yang fakir dan miskin," ucap Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyumas (LKNU Banyumas) Jawa tengah Agus Ujianto mengawali perbincangan dengan NU Online Selasa,(21/8).

Diharapkan, masyarakat yang selama ini sulit mengonsumsi daging, pada hari itu akan merasakan nikmatnya mengonsumsi daging. Selain itu juga, bagi yang memberikan hewan kurban pun juga turut merasakan nikmatnya daging kurban tersebut.

"Tentu, kita pasti tidak berharap pesta daging kurban pada hari itu akan berakhir dengan musibah atau menjadikan badan kita terasa sakit," tambah Agus

Daging, lanjut Agus mengandung zat gizi terutama protein dan lemak hewani yang merupakan zat gizi penting untuk tubuh. Pada saat masa pertumbuhan, protein dibutuhkan untuk zat pembangun, dan pada orang dewasa protein dibutuhkan untuk menjaga keutuhan tubuh dan mengganti sel-sel yang rusak bahkan berperan penting untuk proses penyembuhan.

Sedangkan lemak merupakan sumber energi, serta asam lemak esensial berperan untuk pembentukan membran sel-sel tubuh, juga untuk pembentukan steroid dan hormon. Lemak juga bumper bagi organ dalam tubuh. "Namun, jika daging yang mengandung lemak dikonsumsi berlebihan dan tidak pada waktu yang sesuai siklus faali seringkali akan merugikan tubuh," imbuhnya.

Berbagai gangguan akan terjadi pada saluran cerna atas maupun gangguan saluran cerna bawah, antara lain GERD (Gastroesophageal Reflux), sakit maag, susah buang air besar (konstipasi) atau ambeien (hemoroid). Makan lemak yang berlebihan dalam waktu singkat menyebabkan penyakit GERD, yaitu terjadi akibat pola gaya hidup yang salah.

"Terjadinya aliran balik isi lambung termasuk asam lambung ke kerongkongan, karena adanya kelemahan klep antara lambung dan kerongkongan dan adanya gangguan pengosongan lambung juga mencetuskan timbulnya GERD," jelas Agus Lemak yang berlebihan akan menyebabkan pengosongan lambung menjadi lambat dan gangguan pada klep menyebabkan isi lambung berbalik arah ke kerongkongan, pasien penderita GERD biasanya akan merasakan panas pada dada seperti terbakar (heart burn).

GERD disebabkan juga karena mengonsumsi daging dalam waktu singkat secara berlebihan, terlebih jika daging dimasak dengan santan yang berlebihan serta disertai bumbu masak yang merangsang, asam dan pedas. Atau sebalikanya jika daging hanya dimasak setengah matang, maka provokasi terhadap penyakit ini akan meningkat. "Kondisi itu akan lebih berat jika setelah mengonsumsi daging langsung tidur, karena itu akan menyebabkan makanan yang telah sampai di lambung berbalik arah ke kerongkongan," lanjutnya.

Tips Hindari GERD

Untuk menghindari hal-hal yang tidak dinginkan usai menyantap daging kurban, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, terutama untuk menghindari terserang penyakit GERD, akibat dari mengkonsumsi daging kurban secara tidak tepat atau berlebihan.

Menurut Agus Ujianto, ada beberapa tips untuk tetap sehat ketika mengkonsumsi daging kurban, antara lain:

1. Jangan mengonsumsi daging secara berlebihan dalam waktu singkat.

2. Mengonsumsi sayuran dan buah-buahan.

3. Menghindari konsumsi secara bersamaan antara daging dengan jeroan.

4. Jangan tidur dalam waktu 2 jam setelah makan.

5. Hindari makanan yang terlalu asam dan pedas

6. Hindari minum kopi, alkohol atau minuman bersoda

7. Hindari makanan yang mengandung coklat dan keju.

Selian itu, kebiasaan makan nasi yang banyak saat lauknya terasa enak juga bukan hal yang baik, seringkali jika metabolisme dalam tubuh sudah mulai abnormal, seperti pada orang tua dan orang yang beresiko tinggi terhadap stroke,diabetes dan hypertensi.

"Peningkatan asupan lemak dan karbohidrat yang berlebihan kedalam tubuh, yang menyebabkan meningkatnya kadar kolesterol dan gula darah juga bisa menjadi sebab terserangnya penyakit tersebut," lanjut Agus.

Di ujung perbincang tersebut, Agus menggarisbawahi anjuran agama untuk tidak berlebihan.  "Maka benar bahwa Tuhan melarang kita berlebih-lebihan termasuk dalam hal makan dan minum," pangkas dokter sepesialis bedah itu. (Kifayatul Ahyar/Ibnu Nawawi edit TSA)

Hari Yoga Sedunia 2019 dan Hukum Yoga dalam Islam

Hari Yoga Sedunia 2019 dan Hukum Yoga dalam Islam

Hari Yoga Sedunia 2019 dan ulasan singkat mengenai hukum yoga dalam Islam.

Hari Yoga yang jatuh pada waktu dimana titik balik matahari musim panas yaitu pada tanggal 21 Juni memiliki makna tersendiri yang berintikan keharmonisan dan kedamaian bagi kemanusian.

Beragam manfaat yoga untuk kesehatan

Dihimpun dari hallosehat.com

Rutin beryoga akan mengasah fokus mental dan membuang racun keluar dari dalam tubuh. Anda juga akan meningkatkan fleksibilitas tubuh, yang tidak hanya bermanfaat untuk kesiapan fisik sebelum berolahraga tapi juga mencegah cedera.

Bagaimana Hukumnya dalam Islam :

MUI telah membentuk team khusus yang bertugas untuk mengkaji praktek yoga di Indonesia. Dari hasil kajian didapati bahwa praktek yoga yang dilakukan di Indonesia dapat diklasifikasikan kepada tiga bentuk, yaitu;

Yoga murni olah raga, yaitu yoga yang murni merupakan kegiatan olahraga yang menyeimbangkan body, mind, dan soul yang tidak terkait dengan keyakinan dan ritual agama tertentu. Dalam yoga jenis ketiga ini ada terminologi yang menggunakan bahasa Sansekerta tetapi tidak terkait dengan ajaran agama tertentu. Praktek yoga semacam ini banyak ditemukan pada sanggar-sanggar senam yoga di DKI, yaitu Yoga Bikram, Celebriti Fitness dan di Bandung, yaitu Sanggar Yoga Leaf. Meskipun demikian, perlu diwaspadai masuknya unsur-unsur agama lain dalam pengajaran yoga ini.

Yoga yang murni olahraga pernafasan untuk kepentingan kesehatan hukumnya mubah (boleh).

REKOMENDASI

Menghimbau umat Islam untuk tidak memilih kegiatan olah raga yang memperagakan unsur meditasi dan mantra sebagai langkah preventif agar tidak merusak aqidah.

DASAR PENETAPAN

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu." (QS. Muhammad [47]: 33)

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui." (QS. al-Baqarah [2]: 42)

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. al-Baqarah [2]: 208)

  1. Firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-An'am [6]: 82)

  1. Hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dari Ibnu umar r.a. berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam besabda: "Barangsiapa yang menyerupai (bertasyabbuh) suatu kaum, maka ia termasuk di kalangan mereka." (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

  1. Hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:

إِنَّ اللهَ لَمْ يَجْعَلْ شِفَاءَكُمْ فِيْمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kamu pada apa yang diharamkan atas kamu." (HR. Al-Baihaqi)

  1. Hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam:

إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً، فَتَدَاوَوْا وَلاَ تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ

Bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dengan obatnya, maka berobatlah dan jangan kamu berobat dengan yang haram." (HR. Abu Daud)

  1. Kaidah Sadd Al-Dzari'ah

***

 

Ditetapkan di: Padangpanjang

© Fatwa MUI, Hukum Senam Yoga Berdasarkan Keputusan Ijtima' Ulama Indonesia | AL MUKHTASHAR

Source: https://eshaardhie.blogspot.com/2016/05/hukum-senam-yoga-berdasarkan-keputusan-ijtima-ulama-komisi-fatwa-mui-se-indonesia.html

Tips Menjaga Kesehatan saat Balik dari Kampung Halaman

Tips Menjaga Kesehatan saat Balik dari Kampung Halaman

Pemerintah menganggap pelaksanaan mudik pada lebaran 2019 lebih baik ketimbang tahun lalu.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersyukur banyak pemudik yang mengatakan kepadanya, arus mudik Lebaran tahun ini berjalan lancar. Jalan tol Jakarta-Surabaya telah memberikan kontribusi besar dalam penyelenggaraan mudik tahun ini lebih baik Namun, dia juga mengakui penanganan arus balik tahun ini belum maksimal.

Kemacetan panjang pada arus balik membuat masyarakat kesulitan ketika hendak ingin kembali ke Jakarta, saat bersamaan kembali atau memulai bekerja saat diwaktu yang sama di tanggal 10 Juni 2019, Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan persoalan kali ini terjadi bukan hanya berada pada operator transportasi, tapi utamanya adalah manajemen waktu cuti bersama. Djoko berharap pemerintah menyediakan waktu yang sama untuk mudik dan balik, seperti pada Lebaran tahun lalu. Pada tahun ini, alokasi waktu untuk balik ternyata mepet dengan berakhirnya cuti bersama. Sebagai perbandingan, cuti bersama tahun 2018 mencapai 7 hari yaitu 11 hingga 14 Juni untuk arus mudik serta 18 hingga 20 Juni digunakan arus balik. Adapun libur bersama yang diteken Presiden Joko Widodo tahun ini hanya 3 hari yakni 3 dan 4 Juni untuk arus mudik dan 7 Juni hanya untuk arus balik. “Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi (PAN-RB) seharusnya masuk tim Lebaran. Itu harus diwacanakan,” kata dia kepada katadata.co.id, beberapa hari lalu.

Saat puncak arus balik terjadi pada 9 Juni lalu, terjadi kemacetan parah kendaraan pemudik yang balik di Tol Cipali. Kemacetan akibat antrean kendaraan di gerbang tol Cikampek Utama menjalar hingga 19 kilometer. Bahkan, kemacetan terus terjadi sampai waktu cuti bersama dan libur lebaran usai. Penumpukan kendaraan di gerbang tol menjadi pemandangan yang kembali terlihat dan belum sepenuhnya terselesaikan. Hal ini mengakibatkan macet hingga 15 jam bagi penumpang yang berasal dari Jawa Tengah bagian Barat seperti Purwokerto dan Banyumas dengan waktu 15 jam perjalanan dan rest area terbatas karena ada buka tutup salah satu akibat kemacetan dikutip dari futuready.com, Faktor utama penyebab kecelakaan adalah kesalahan manusia (human error). Hal ini disebabkan banyaknya pengemudi yang tetap memaksakan diri berkendara menempuh perjalanan jarak jauh padahal kondisi tubuh dalam keadaan kurang fit akibat kelelahan.

Saat menempuh perjalanan yang sangat jauh, tubuh dituntut untuk tetap fokus. Perjalanan yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam atau beberpa hari bisa membuat tubuh kurang istriharat.

Perjalanan yang harus ditempuh dan kegiatan yang padat saat liburan tentunya membuat tubuh merasa lelah, meski pikiran sudah kembali fresh.

Berikut beberapa tips untuk menghilangkan lelah setelah menempuh perjalanan jauh, seperti dilansir Medindia, Selasa (1/2/2011), yaitu:

1. Istirahat cukup
Perjalanan jauh biasanya membuat orang kurang tidur sehingga cepat lelah. Setelah sampai di rumah, usahakan istirahat dengan cukup dengan tidur malam 6-8 jam per malam. Hal ini bisa memperbaharui energi untuk tubuh keesokan harinya.

2. Mandi di pagi hari
Mandi di pagi hari bisa membuat Anda kembali segar setelah menempuh perjalanan jauh.

3. Minum cukup air
Kurang minum atau dehidrasi bisa membuat Anda merasa lelah karena mempengaruhi 2 persen fungsi mental. Minumlah cukup air untuk menjaga sistem hidrasi tubuh, air dingin bisa menghidrasi tubuh lebih cepat.

4. Pijat
Mendapatkan pemijatan yang tepat dan dilakukan oleh orang yang memang benar-benar tahu cara memijat akan memberikan banyak manfaat, terutama untuk relaksasi santai dan menghilangkan stres. Pijat secara signifikan dapat mempengaruhi sistem saraf perifer, meningkatkan rangsangan dan konduksi impuls saraf, melemahkan dan menghentikan rasa sakit dengan mempercepat proses regenerasi (pemulihan) saraf yang cedera, serta mencegah gangguan pembuluh darah dalam hal komunikasi dan suplai.

5. Menggunakan aromaterapi
Minyak aromaterapi seperti minyak peppermint dapat menyegarkan dan meningkatkan energi kembali. Minyak aromaterapi bisa dioleskan pada tubuh dan juga bisa dihirup.

Berikut cara Rasulullah menjaga kesehatan dilansir dari islampos.com. Ada beberapa kebiasaan positif yang membuat Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam selalu tampil fit, sehat dan jarang sakit, antara lain:

Pertama, selektif terhadap makanan. Tidak ada makanan yang masuk ke mulut rasulullah, kecuali makanan yang halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan urusan akhirat, yaitu halal cara mendapatkannya dan halal barangnya. Sedangkan thayyib berkaitan dengan urusan duniawi, seperti baik tidaknya atau bergizi tidaknya makanan yang dikonsumsi. Salah satu makanan kegemaran Rasul adalah madu. Beliau biasa meminum madu yang dicampur air untuk membersihan saluran pencernaan. Rasul bersabda,” Hendaknya kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan Alquran”(HR. Ibnu Majah dan Hakim).

Kedua, tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Aturannya, kapasitas perut dibagi ke dalam tiga bagian, yaitu sepertiga untuk makanan (zat padat), sepertiga untuk minuman (zat cair), dan sepertiga lagi untuk udara (gas). Hal ini sebagaimana sabda rasulullah,”Anak Adam tidak memenuhkan suatu tempat yang lebih jelek dari perutnya. Cukuplah bagi mereka beberapa suap yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan” (HR Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Ketiga, makan dengan tenang, tumaninah, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang. Cara makan seperti ini akan menghindarkan seseorang dari tersedak ataupun tergigit. Makanan bisa dikunyah dengan lebih baik, sehingga kerja organ pencernaan lebih ringan. Dari segi medis, makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna. Dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.

Keempat, tidak meniup makanan/minuman panas. Dalam Hadits, Ibnu Abbas meriwayatkan “Bahwasanya Rasulullah SAW melarang bernafas pada bejana minuman atau meniupnya”. (HR. At Turmudzi dan dishahihkan oleh Al-Albani). Secara teori ilmiah, hadits Rasulullah tersebut dapat dijelaskan bahwa apabila kita menghembuskan nafas pada minuman, kita akan mengeluarkan karbon dioksida (CO2), yang apabila bercampur dengan air (H2O), akan menjadi H2CO3, yaitu sama dengan cuka, sehingga menyebabkan minuman itu menjadi acidic (bersifat asam). Bila kebiasaan ini berlangsung dalam waktu lama akan dapat merusak kinerja ginjal serta dapat meningkatkan risiko serangan jantung.

Kelima, Tidak makan/minum sambil berdiri. Dari Anas bin Malik ra dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi wassalam bahwasanya beliau melarang seseorang untuk minum dengan berdiri. Qatadah bertanya kepada Anas, “Bagaimana kalau makan ?” Anas menjawab, “Kalau makan dengan berdiri itu lebih jelek dan lebih buruk.” (HR Muslim). Jika kita minum sambil berdiri, air yang kita minum akan meluncur langsung menuju kandung kemih tanpa disaring terlebih dahulu oleh sistem dalam tubuh. Akibatnya akan terjadi pengendapan disaluran ureter. Endapan ini bila semakin dapat menyebabkan penyakit kristal ginjal atau batu ginjal.

Keenam, cepat tidur dan cepat bangun. Rasulullah biasa tidur di awal malam dan bangun pada pertengahan malam kedua. Kemudian beliau bersiwak, lalu berwudhu dan shalat sampai waktu yang diizinkan Allah. Beliau tidak pernah tidur melebihi kebutuhan, namun tidak pula menahan diri untuk tidur sekadar yang dibutuhkan. Cara tidurnya pun penuh makna. Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam buku Metode Pengobatan Nabi mengungkapkan bahwa Rasul tidur dengan memiringkan tubuh ke arah kanan, sambil berzikir kepada Allah hingga matanya terasa berat. Terkadang beliau memiringkan badannya ke sebelah kiri sebentar, untuk kemudian kembali ke sebelah kanan. Tidur seperti ini merupakan tidur paling efisien. Pada saat itu makanan bisa berada dalam posisi yang pas dengan lambung sehingga dapat mengendap secara proporsional. Lalu beralih ke sebelah kiri sebentar agar proses pencernaan makanan lebih cepat karena lambung mengarah ke liver, baru kemudian berbalik lagi ke sebelah kanan hingga akhir tidur agar makanan lebih cepat tersuplai dari lambung.

Ketujuh, istiqomah melakukan puasa sunnah, di luar puasa Ramadhan. Ada beberapa puasa sunnah yang beliau anjurkan, seperti Senin Kamis, puasa Daud, puasa enam hari di bulan Syawal, dsb. puasa adalah perisai terhadap berbagai macam penyakit jasmani maupun rohani. Puasa sangat ampuh untuk detoksifikasi atau pembersihan racun dalam tubuh.

KH Miftah Faqih, Ada tiga kaidah pengobatan penyakit dalam Islam ; 1. Hifdhu al-shihhah (Menjaga kesehatan), 2. Al-himyatu ani al-mu’dzii (Melindungi diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan penyakit), 3. Istifraghu al-mawadi al-faasidah (Mengeluarkan unsur-unsur yang merusak badan).(TSA/Red).

Boleh Tidak YA Donor Darah saat Puasa ?

Boleh Tidak YA Donor Darah saat Puasa ?

Hukum Donor Darah saat Puasa

Oleh : Ustadz M. Mubasysyarum Bih.

Repost NU Online.

Donor darah adalah proses pengambilan darah dari seseorang secara sukarela untuk disimpan di bank darah sebagai stok darah untuk kemudian digunakan untuk transfusi darah. Proses donor darah tidak bisa dilepaskan dari injeksi pada bagian tangan. Bagaimana bila aktivitas tersebut dilakukan saat puasa? Batalkah puasanya?

Mendermakan kebaikan untuk orang lain dalam bentuk apa pun merupakan hal yang dianjurkan oleh agama. Donor darah termasuk di antaranya. Allah memerintahkan agar kita saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Nabi juga menegaskan seseorang yang menghilangkan kesusahan saudaranya di dunia, Allah kelak akan menghilangkan penderitaannya di akhirat.

Donor darah yang dilakukan dengan proses injeksi di bagian tangan, tidak dapat membatalkan puasa. Sebab tidak ada benda yang masuk ke anggota tubuh bagian dalam melalui rongga terbuka. Donor darah tidak lebih merupakan proses melukai tubuh yang tidak mempengaruhi keabsahan puasa, sama seperti melukai tubuh dengan batu, jarum, pisau atau benda-benda lainnya. Bedanya kalau donor darah tidak berdosa, karena melukai tubuhnya berdasarkan kebutuhan yang dibenarkan syariat, sedangkan melukai tubuh tanpa ada tujuan yang jelas hukumnya haram.

Donor darah tidak memiliki ketentuan hukum yang sama dengan hijamah (bekam), yaitu metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah statis (kental) yang mengandung toksin dari dalam tubuh manusia dengan cara melakukan pemvakuman di kulit dan pengeluaran darah darinya. Hijamah menurut mayoritas Ulama Madzahib al-Arba’ah tidak membatalkan puasa. Sedangkan menurut mazhab Hanabilah membatalkan puasa, baik bagi orang yang membekam atau yang dibekam.

Bila merujuk pendapat mayoritas ulama, maka persoalan menjadi jelas bahwa donor darah tidak membatalkan puasa sebagaimana bekam. Demikian pula ketika berpijak dari pendapat Hanabilah, donor darah tidak membatalkan puasa.

Syekh Manshur bin Yunus al-Bahuti, salah seorang pembesar ulama Hanabilah, membedakan antara hijamah dan tindakan melukai tubuh lainnya. Menurut al-Bahuti, melukai tubuh dengan selain hijamah tidak dapat membatalkan puasa karena dua alasan. Pertama, tidak ada nashnya. Kedua, tidak didukung analogi (qiyas) yang mapan.

Beliau dalam karya monumentalnya, Kassyaf al-Qina’ berkata:

“Dan tidak batal puasa bila orang yang berpuasa melukai dirinya atau dilukai orang lain atas izinnya dan tidak ada sesuatu apapun dari alat melukai yang sampai ke bagian tubuh bagian dalam, meski tindakan melukai sebagai ganti dari hijamah. Tidak pula membatalkan puasa disebabkan al-Fashdu (mengeluarkan darah dengan merobek otot), al-Syarthu (menyayat kulit untuk menyedot darah), dan mengeluarkan darah dengan mimisan. Sebab tidak ada nash (syariat) di dalamnya sedangkan metode qiyas tidak menuntutnya” (Syekh Manshur bin Yunus al-Bahuti, Kassyaf al-Qina’, juz 2, hal. 320).

Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam karya fiqihnya yang mengomparasikan berbagai mazhab mengklasifikasi tindakan melukai tubuh selain hijamah ke dalam hal-hal yang tidak dapat membatalkan puasa. Beliau tidak menyebutkan terdapat ikhtilaf ulama dalam persoalan ini, berbeda dengan hijamah yang disebutkan ikhtilafnya. Beliau menegaskan:

“Orang yang berpuasa tidak batal dengan hal-hal sebagai berikut; dan mengeluarkan darah sebab mimisan, melukai diri atau dilukai orang lain atas seizinnya dan tidak ada sesuatu dari alatnya yang masuk pada lubang tubuh, meski sebagai ganti dari hijamah, sebab tidak ada nash di dalam hal tersebut dan qiyas tidak menuntutnya”. (Syekh Wahbah al-Zuhaili, al-FIqh al-Islami wa Adillatuhu, juz 3, hal. 1730).

Demikian penjelasan mengenai hukum donor darah bagi orang yang berpuasa. Semoga bermanfaat.
Salam Sehat.

Adab Menyambut Kelahiran Bayi dalam Islam

Adab Menyambut Kelahiran Bayi dalam Islam

Menyambut Kelahiran Bayi dalam Islam

Setiap pasangan suami istri yang diberi karunia seorang anak, sudah sepantasnya untuk bersyukur atas nikmat yang tak terhingga tersebut. Karena, rasa syukur yang tinggi, kita luapkan rasa tersebut dalam beberapa hal, yang dapat juga disebut dengan adab menyambut kelahiran anak dalam Islam, ada beberapa hal yang menjadi tuntunan cara menyambut kelahiran bayi menurut Islam, diantaranya yaitu, Pertama, melakukan sujud syukur. sujud syukur adalah tanda atas kesyukuran kita bahwa proses kelahiran anak berjalan dengan lancar dan sehat bagi ibu dan bayinya. Alangkah lebih bagus dilakukan ketika anak keluar daripada rahim ibu. Perbanyaklah bacaan dzikrullah (tasbih, takbir dan tahmid) kepada Allaah SWT.

Kedua, mengdazankan dan mengiqomati bayi baru lahir. Dalam hal ini, snag ayah hendaknya segera mengadzani di telinga kanan dan mengiqamahkan di telinga kiri pada anaknya yang baru lahir. Pemberian adzan dan iqamah ini agar kalimat yang pertama kali didengar sang bati adalah kalimat thayyibah dan dijauhkan dari gangguan syetan yang terkutuk.

Sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis dari Rasullulah SAW Dari ‘Ubaidillah bin Abi Rofi’, dari ayahnya (Abu Rofi’), beliau berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ

Aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Al Hasan bin ‘Ali ketika Fathimah melahirkannya dengan adzan shalat.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari Ibnu Abbas, beliau mengatakan,

أذن في أذن الحسن بن علي يوم ولد ، فأذن في أذنه اليمنى ، وأقام في أذنه اليسرى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adzan di telinga al-Hasan bin ‘Ali pada hari beliau dilahirkan maka beliau adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri.” (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Para ulama juga memandang sunnah hukumnya mengumandangkan adzan di telinga bayi yang baru lahir. Sebagaimana pendapat Ibnu al-Qyyim al-Jauziah, ulama madzhab Hanbali, dalam kita Tuhfat al-Maudud yang menyunnahkan adzan bagi bayi yang baru dilahirkan:

“Bab IV mengenai disunnahkannya adzan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri”.

Sedangkan Ibnu Qudamah al Hanabilah berkata,  “Sebagian ahli ilmu berpendapat hukumnya mustahab (disukai) bagi seorang ayah untuk mengumandangkan adzan di telinga anaknya ketika baru dilahirkan.

Penegasan pendapat tentang kesunnahan  adzan di telinga bayi masih banyak lagi bertaburan dalam kitab-kitab mazhab syafi’i lainnya, diantaranya :

Al-Muhadzab (1/438) :  “ Disunnahkan bagi orang yang baru kelahiran  anak untuk mengadzani di telinga bayi tersebut”.

Kifayat al-Akhyar (2/224) :  “ Disunnahkan untuk diadzani di telinga kanannya dan diiqamati disebelah telinga krinya”.

Al-Bujairimi ‘ala al-Khathib  (4/308) : “ Disyari’atkan adzan di telinga kanan bayi yang baru dilahirkan dan diiqamati di telinga sebelah kiri”

Ketiga, adalah melaksanakan Aqiqah. Setelah hari ke-7 kelahiran bayi, disunnahkan untuk melaksanakan aqiqah sebagaimana yang dilakukan Rasullulah SAW kepada cucunya, Hasan dan Husein. Aqiqah dilakukan dengan cara menyembelih dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan. Syarat hewan yang disembelih sama dengan syarat hewan untuk berkurban. Namun, pelaksanaan aqiqah ini tidak harus pada hari ke-7 kelahiran.

Hukum aqiqah anak adalah sunnah (muakkad) sesuai pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan kebanyakan ulama ahli fiqih (fuqaha) lainnya. Dalil akiqah dari Samurah bin Jundab dia berkata :

 

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

“Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ke tujuh, dicukur dan diberi nama” [HR Abu awud, no. 2838, at-Tirmidzi no. 1522, Ibnu Majah no. 3165 dll dari sahabat Samurah bin Jundub Radhiyallahu anhu. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi, Syaikh al-Albani dan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini dalam kitab al-Insyirah Fi Adabin Nikah hlm. 97].

Keempat, memberikan nama yang baik kepada anaknya. Karena, nama merupakan doa dan sebuah harapan dari orang tua. Nama-nama yang disukai oleh Allah SWT adlah nama-nama yang menunjukan akan sebuah sikap penghambaan. Sebagaimana hadis:

"Sesungguhnya namamu yang palind dicintai Allah adalah'Abdullah dan Abdurrahman".(HR. Muslim).

Apakah Air Ketuban itu Najis?

Apakah Air Ketuban itu Najis?

Oleh : Alhafiz Kurniawan

Repost NU Online.

Orang yang melahirkan tidak akan lepas dari wujudnya air ketuban yang keluar dari rahim sebelum keluarnya janin. Air ketuban sendiri merupakan cairan yang terdapat dalam ruangan yang diliputi selaput janin. Salah satu fungsi dari air ketuban di antaranya sebagai pelindung yang akan menahan janin dari trauma akibat benturan, serta berperan sebagai cadangan cairan dan sumber nutrien bagi janin untuk sementara.

Menurut Wikipedia, saat persalinan, air ketuban dapat meratakan tekanan atau kontraksi di dalam rahim, sehingga leher rahim wanita yang hamil dapat membuka dan saat kantung ketuban pecah, air ketuban yang keluar sekaligus akan membersihkan jalan lahir janin.

Lalu bagaimanakah sebenarnya status dari air ketuban ini? Apakah air tersebut dihukumi suci atau najis?

Para ulama menghukumi air ketuban sebagai cairan yang najis, sehingga wajib untuk dibasuh sebelum melaksanakan shalat ketika air tersebut mengenai pakaian atau badan seseorang. Air ketuban disamakan dengan status air kencing lantaran bersumber dari bagian dalam tubuh. Setiap hal yang keluar dari kelamin yang bersumber dari dalam tubuh dihukumi najis, termasuk air ketuban ini. Berbeda halnya dengan cairan yang biasa keluar dari alat kelamin perempuan (keputihan) maka cairan tersebut dihukumi suci, karena sumber cairan ini bukan dari bagian tubuh yang dalam. Seperti yang dijelaskan oleh Syekh Zainuddin al-Maliabari dalam kitab Fath al-Mu’in:

ورطوبة فرج، أي قبل على الاصح. وهي ماء أبيض متردد بين المذي والعرق، يخرجمن باطن الفرج الذي لا يجب غسله، بخلاف ما يخرج مما يجب غسله فإنه طاهر قطعا، وما يخرج من وراء باطن الفرج فإنه نجس قطعا، ككل خارج من الباطن، وكالماء الخارج مع الولد أو قبله

ـ (قوله: وكالماء الخارج مع الولد) أي فإنه نجس

“Cairan yang terdapat dalam kelamin perempuan (jalan depan) dihukumi suci. cairan tersebut berwarna putih yang merupakan kombinasi antara air madzi dan air keringat. Cairan tersebut keluar dari dalam rahim yang tidak wajib dibasuh (ketika mandi besar). Berbeda halnya hukumnya dengan cairan yang keluar dari Rahim (kelamin) yang wajib dibasuh, maka cairan tersebut sangat dipastikan dihukumi suci. sedangkan cairan yang keuar dari belakang bagian dalam Rahim maka secara pasti dihukumi najis, seperti halnya setiap cairan yang keluar dari bagian dalam (tubuh) dan seperti cairan yang keluar bersamaan dengan janin atau cairan yang keluar sebelum keluarnya janin, maka sesungguhnya cairan ini dihukumi najis.” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 104)

Hal lain yang patut diketahui, air ketuban bukan merupakan pertanda nifas yang membuat seorang wanita tidak wajib shalat, sebab ciri-ciri seseorang yang nifas adalah keluarnya darah dari rahim, sedangkan air ketuban bukan termasuk dari kategori tersebut. Sehingga, jika seorang wanita melahirkan namun sesuatu yang keluar dari rahimnya hanya berupa air ketuban, tanpa mengeluarkan darah, maka wanita tersebut tetap wajib untuk melaksanakan shalat, namun sebelumnya wajib baginya untuk menyucikan badan dan pakaiannya dari cipratan air ketuban yang mengenainya. Wallahu a’lam.

Pentingnya Mencegah Gizi Buruk dalam Islam

Pentingnya Mencegah Gizi Buruk dalam Islam

Gizi sangat memegang peranan penting dalam kehidupan seseorang terutama pada anak dibawah dua tahun. Karena anak dengan gizi baik maka akan menjadi penerus bangsa dan agama yang baik, perilaku masyarakat kita yang salah dalam pola pemberian makan terutama pada anak anak sehinggu muncul masalah gizi baik gizi lebih, kurang maupun buruk.

Perilaku masyarakat dalam memberikan makanan khususnya pada masa bayi yang berdampak pada masa balita dan juga karena ibu hamil yang mengalami gangguan gizi kurang. Masalah gizi yang banyak terjadi karena kesalahan orang tua dalam memberikan makanan pada anaknya.

Gizi akan mempengaruhi tingkat kecerdasan dan ketangguhan seseorang,

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana solusi Islam dalam mengatasi Gizi buruk? Dalam Islam, gizi buruk merupakan tanggung jawab masyarakat bersama pemerintah. Diantara pemberian makanan yang baik pada anak adalah: IMD (inisiasi menyusu dini) pada bayi baru lahir; Pemberian ASI Eksklusif (Pemberian ASI saja tanpa tambahan makanan dan minuman apapun termasuk air putih selama 6 bln pertama) pada bayi yang baru lahir sampai usia 6 bulan; Pemberian MPASI (Makanan pendamping ASI) sesuai umur mulai anak usia 6 bulan dan melanjutkan penyusuan sampai dua tahun. Itu adalah kaidah pemberian makanan yang baik pada anak, yang jika dilaksanakan maka anak akan terhindar dari masalah gizi.

Hal tersebut dikuatkan dengan Al-qur’an Surat Al Baqarah (2) Ayat 233:

۞ وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ ۚ وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ ۚ لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَا تُضَارَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوْلُودٌ لَهُ بِوَلَدِهِ ۚ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَٰلِكَ ۗ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا ۗ وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.